Santai Sejenak; Januari 2020 yang Berasa Setaun Sendiri

Santai Sejenak; Januari 2020 yang Berasa Setaun Sendiri

Santai Sejenak; Januari 2020 yang Berasa Setaun Sendiri

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Kembali lagi ke salah satu segmen Thexandria (ala-ala penulis saja sebenarnya) dengan edisi yang berbeda dengan bahasa-bahasa yang santai. Kenapa? Karena ya pengen nyantai aja. Oke, selamat datang kembali di artikel “Santai Sejenak”. Enjoy!

“Gak kerasa banget bulan Januari udah mau habis aja, perasaan baru banget kemaren ngeliat perayaan tahun baru 2020.”

Ya, begitulah yang saya ungkapkan di dalam hati pada hari ini, atau dalam bahasa Jawa akrab disebut ‘nge-batin’. Kalau diresapi lebih cermat lagi, ungkapan itu terkesan berlebihan. Kenapa? Pernyataan itu seolah kita sudah melalui hari-hari yang begitu panjang-sekali sehingga meninggalkan dinamika mendalam dan berpisah dengan bulan Januari memiliki kesan tersendiri.

Lalu mau berapa hari lagi yang mau kita habiskan dalam sebulan?

Tapi benar adanya kok kalau Januari ini bener-bener jadi bulan yang berat dan panjang. Contohnya kecilnya saja ketika siang ini saya mengantri di sebuah ATM. Sambil menunggu antrian yang cuma satu orang, saya kembali nge-batin:

“Ni orang transfer duit apa transfer pemaen dah? Lama bet di ATM.”

Itu baru contoh kecilnya, belum jika membuat catatan untuk contoh besar yang terjadi di berbagai belahan dunia. Januari menyuguhkan opening performance yang luar biasa bagi 2020, dan bahkan di akhir Januari kita sudah bisa membuat kaleidoskop yang berwarna untuk memulai tahun 2021.

Bencana dan fenomena yang terjadi seperti meletusnya gunung api Taal di Filipina, banjir besar Jakarta dan sekitarnya, kebakaran hutan di Australia, eskalasi tensi AS-Iran yang memicu perang dunia, masalah Pulau Natuna dan Laut Cina Selatan, si predator seksual Reynhard Sinaga, sampai yang menjadi kekhawatiran bersama adalah menyebarnya virus Corona.

Berat sekali menghadapi hampir 10 kejadian yang meraih simpati dan empati dari warga dunia hanya dalam rentang waktu satu bulan saja. Begitulah hidup, tidak ada hidup yang benar-benar lepas dari masalah, kembali lagi bagaimana kita menyikapi masalah tersebut.

Tidak kah dengan kondisi saat ini kita seharusnya lebih bersyukur dari para korban virus Corona yang berada di China? Atau bahkan kita seharusnya bersyukur dan berdoa terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain di sekitar kita.

Khususnya kita sebagai bangsa yang dulunya terbiasa dengan intimidasi kolonialisme, seharusnya kita sudah terbiasa dengan cobaan-cobaan dalam jangka waktu yang panjang. Tentu kita tau bagaimana penjajahan Belanda yang ‘katanya’ mencapai 350 tahun penjajahan.

Hampir seluruh orang di negeri ini sepakat bahwa kolonialisme Belanda di Indonesia membawa dampak buruk sekali. Tapi, mengapa yang selalu menjadi sorotan adalah penekanan lamanya waktu penjajahan yang justru tidak benar? Ini juga menjadi bukti bahwa bangsa kita sebagian besar masih buta sejarah, selain penyebabnya adalah ulah Orde Baru yang menghapus dan mereduksi sejarah menjadi paparan angka tahun dan peristiwa belaka. Sejarah sebagai narasi tentang perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita.

Dunia pun sebenarnya juga seharusnya terbiasa dengan dinamika berkepanjangan bila menilik kembali kejadian yang sudah pernah terjadi. Perang dunia ke-2 yang terjadi pada medio 1939-1945 juga menjadi pelajaran berharga betapa kejamnya peperangan yang berdampak ke semua aspek; manusia dan alam.

Dari hiruk pikuknya peperangan yang menghilangkan nyawa jutaan orang terselip sebuah anekdot ironis. Ruth Schumacher, seorang perempuan Jerman yang diperkosa oleh Tentara Merah (Tentara Soviet) tak lama setelah jatuhnya Berlin ke cengkaraman Uni Soviet pada Mei 1945.

Kisah Ruth membuka tabir yang selama beberapa dekade menutupi traumatik yang dialami sebagian besar dialami wanita Jerman pada saat itu. Hal itu menjadi ironi, selain diamnya para penyintas, kabut hitam peristiwa kelam itu datang dari bekas negara Uni Soviet yang sangat berusaha keras menutupi dosa tersebut.

Baca Juga: Santai Sejenak; Cuaca yang Makin Panas, Sampai Harus Mandi Dua Kali Sehari

“Biarawati, gadis-gadis, perempuan tua, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan semua diperkosa tanpa belas kasihan,” tulis Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall 1945.

Wait, mohon maaf sudah membawa pembaca sekalian untuk sedikit serius di pembahasan di atas. Bagaimanapun, edukasi sekecil apapun kepada para pembaca itu akan sangat penting, ya gak?

Oke, kita kembali ke substansi awal, ke-santai-an.

Beberapa urusan pribadi juga menjadi beban kita dalam melewati Januari 2020 bukan? Melihat tanggalan yang masih lama sekali menginjak Februari sedikit bikin ‘kebelet’ untuk segera berganti bulan. Belum ditambah tanggal segini tuh tanggal krusial, dimana keperluan yang sebetulnya ga perlu dan ga terduga muncul. [merasa sedih, menangys]

Di lain sisi, kesedihan juga bagian dari hidup, gitulho. Terkadang juga kita ga tau apa yang membuat kita bersedih, ya tiba-tiba aja sedih. Beda banget sedihnya kalau dibandingin sedih putus sama pacar (sekarang sudah ex) yang sudah pacaran bertahun-tahun. [aw malu banget]

Ya, di bulan Januari ini berat sekali bagi kita—meskipun tidak mengalami perang dunia, beberapa kejadian yang dilewati di awal tahun 2020 cukup membuat hati terenyuh (Januari ga ada niatan bikin “Youtube Rewind” sendiri nih??) dan saat berhasil melewati Januari, dalam hati singkat nge-batin:

Well, February, please be nice!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.