Santai Sejenak; Cuaca yang Makin Panas, Sampai Harus Mandi Dua Kali Sehari

Santai Sejenak; Cuaca yang Makin Panas, Sampai Harus Mandi Dua Kali

Santai Sejenak; Cuaca yang Makin Panas, Sampai Harus Mandi Dua Kali Sehari

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Santai sejenak; artikel ala Mojok.co yang memang akan sangat santai, akan sangat sedikit menggunakan kosa kata yang berat-berat, kenapa? Karena ya pengen nyantai aja.

Sambil berniat menikmati sejuknya udara kota Malang di balkon rumah, tapi entah kenapa siang ini saya di-prank, cuaca mendadak sangat-sangat panas. Dan juga berapa tahun terakhir ini (atau hanya perasaan saya saja) cuaca sedang tidak bersahabat dengan manusia, sampai ada yang bergurau:

“Anjir, neraka bocor, cuk!” — udah kayak pernah ke neraka aja, sampai tau seberapa panasnya neraka. Ya, walaupun pada akhirnya beberapa dari kita adalah bahan bakar untuk neraka itu sendiri.

Iya, matahari teriknya minta-ampun, menyalakan kipas angin saja sepertinya tidak cukup, apalagi kipas sate.

Seakan bumi memberi “Surat Peringatan 1” kepada seluruh umat manusia bahwa usianya kini tak lagi muda. Konflik sana-sini, pertikaian umat manusia, sampai kepada alam dan makhluk hidup lainnya yang tidak bersalah terkena dampaknya. Benar-benar sebuah proses menuju akhir zaman.

Lihat saja bagaimana di awal tahun 2020 ini kita dihadapkan pada berbagai “kiamat kecil” yang memberikan sebuah sambutan pada awal tahun. Sambil ngopi dan makan gorengan di jam makan siang, kita bisa berdiskusi santai dengan rekan kerja perihal apa saja yang sudah terjadi selama sepekan belakangan ini: Banjir besar Jakarta dan sekitarnya, kebakaran hutan di Australia, kemungkinan WW III, masalah Pulau Natuna dan Laut Cina Selatan, si “predator seksual” Reynhard Sinaga yang menggemparkan dunia. Semua terjadi pada dekade ke tiga millenium ini yang baru genap jalan seminggu.

Benar saja ketika para malaikat beralasan kalau manusia akan bersifat destruktif; membuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi, pada saat mempertanyakan penciptaan manusia yang akan diutus menjadi khalifah di bumi. Lihat sendiri bagaimana yang terjadi kan?

Sambil merenungi hal tersebut keringat juga ikut bercucuran, padahal cuma berfikir lho, tidak ada gerakan olahraga yang dilakukan. Pun juga, baru saja habis mandi.

Gilasih, emang perubahan cuaca se-ekstrim ini, ya? Apa kebawa panasnya konflik bilateral AS-Iran? Kenapa cuaca akhir-akhir ini gak se-santai para menteri yang daerah kedaulatan lautnya terancam?

Ah, jadi iri sama orang yang tinggal di kutub utara. Eh wait, tapi bukannya di sana juga kena pemanasan global, ya? Atau climate change yang sering saya dengar akhir-akhir ini, ya?

Sekarang lagi nge-trend sih istilah “Climate Change” atau kalau dalam bahasa Indonesia berarti perubahan iklim. Orang awam dan miskin ilmu seperti saya pasti akan banyak bertanya bila mendengar istilah “Perubahan Iklim”, bukankah yang namanya perubahan iklim itu biasa saja?

Ternyata tidak se-simpel cuaca panas berganti hujan kemudian muncul pelangi, seperti analogi bagi problema kawan-kawan di sekitar ketika habis putus sama pacarnya; cuaca panas ibarat pertengkaran dengan pacar, hujan ibarat kesedihan yang dialami pada saat putus, dan pelangi adalah pertanda sebuah keyakinan dan harapan akan munculnya kebahagiaan setelah seluruh kesedihan yang dialami. Hilih..

Nah, dari situlah mari kita cari tau, apasih perubahan iklim itu sampai separah-parahnya membuat cuaca begitu puanas polll. Perubahan iklim dari hasil mesin telusur begitu banyak dan akhirnya saya mencoba untuk menyortir yang sekiranya memiliki penjelasan sesederhana mungkin, untuk mengimbangi kapasitas otak.

Dari banyaknya referensi sampai kepada pemahaman bahwa perubahan iklim erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah karbon dioksida (CO2) di lapisan atmosfer yang kebanyakan disebabkan oleh peningkatan bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi.

Untuk pemansan global merupakan peningkatan suhu bumi dalam waktu yang cukup lama dimana panas matahari tidak bisa terpantul kembali akibat tertahan oleh lapisan gas hasil dari efek rumah kaca yang membuat bumi lebih panas.

Dari situ terlihat bahwa perubahan iklim mengarah kepada iklim yang berubah dalam jangka waktu yang cukup panjang di beberapa belahan dunia dan tidak mutlak berakibat panas saja, bahkan juga dingin, badai salju, hingga angin topan.

Terus apa korelasi diantara keduanya? Jadi simpelnya dengan kata lain, pemanasan global merupakan sub-menu dari perubahan iklim itu sendiri yang sangat cocok untuk mengambarkan keadaan saat ini.

Dari fenomena alam ini muncul beberapa pergerakan yang mengguncang seantero galaksi /lebay/, bahkan dari seorang bocah yang belum genap 18 tahun. Adalah Greta Thunberg yang muncul sebagai aktivis lingkungan muda pada saat itu mencoba untuk berdemo di depan Parlemen Swedia.

Baca Juga: Skripsi; Cerita Putus Asa dan Mood Booster

Ia menuntut para politisi dunia untuk segera melakukan tindakan represif terhadap fenomena alam yang terjadi. Anak ini keren banget, walaupun banyak yang menuding dia hanya menjadi alat propaganda oleh lembaga-lembaga “Green Capitalism”, tapi lihatlah sekali lagi substansi yang disampaikan gadis ini, polos saja:

“Alam kita sedang dalam bahaya, tidak ada masa depan bagi kami anak-anak, dan kalian orang dewasa tidak ada yang bergerak melakukan sesuatu!”  

Kira-kira seperti itu ’marahnya’ Greta Thunberg terhadap apa yang terjadi di muka bumi ini. Luar biasa, sementara banyak yang lebih tua masih sibuk menikmati siang hari dengan tidur siang di depan kipas angin, atau sekedar “Hai Guys! Kita lagi makan nasi padang nih..” di depan gawai masing-masing.

Sementara saya, masih santai sambil mendengarkan lagu dari .Feast-Tarian Penghancur Raya yang membuat suasana semakin relate dengan apa yang sedang saya baca. Hingga akhirnya lupa waktu dan jam menunjukkan tepat pukul 16.11.

Panasnya cuaca yang kini sudah diketahui penyebabnya sudah saya maklumi, karena sebelumnya betapa heran ketika kota Malang yang banyak dilabeli sebagai “Kota Dingin” sudah menyentuh suhu 30 derajat di sore hari. 

Wah kacau, kaos dan ketek basah lagi. Kini, dalam sehari harus mandi dua kali, cuy, ribet ga tuh?

Halah, saya saja yang mageran mungkin..

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.