Salah Kata, Luka, dan Sandiwara

Salah Kata, Luka, dan Sandiwara

Penulis Eru Rudya | Editor Rizaldi Dolly

Aku benci gelap, benci sekali. Tapi yang paling membuatku benci itu sebenarnya mereka, mereka yang membuatku merasa lebih baik dimatikan saja lampunya. Terisak sendirian di kegelapan berharap esok lebih baik dari hari ini. Harapan itu baik, tapi jangan terlalu yakin. Dunia dan kehidupan itu suka bercanda.

Pernah gak, kamu ngerasain jenuh, tertekan, cape, muak, dan akhirnya berusaha gak peduli sama kehidupan yang kamu jalani saat ini? Pernah gak, kamu berkata pada dirimu sendiri di cermin, “udah anggap aja ini kaya sakit kepala”. Istirahat sebentar besok pasti sembuh dan semua akan baik-baik aja?

Kamu berharap semua rasa lelah itu hanya kejenuhan yang bersifat sementara, tapi akhirnya kamu sadar rasa itu gak berlangsung sementara. Benar memang rasa jenuh, tertekan, cape, dan muakmu itu bisa hilang. Tapi ingat dia juga bisa kembali menyapamu tanpa aba-aba.

Pagi menyapa dengan bahagianya, padahal kamu berharap bisakah malam berlangsung lebih lama, jika kau pernah memiliki harapan seperti itu ayo salaman dulu, karena aku juga selalu berharap begitu.

Ingin rasanya tertidur untuk waktu yang lama hari ini saja, tanpa harus berpikir tentang kerjaan, kehidupan, topeng mana lagi yang harus digunakan, sandiwara jenis apa lagi yang harus dijalankan, dan luka hati mana lagi yang harus disembunyikan.

Ingin rasanya tidur saja, hidup di alam mimpi yang bisa kita atur sendiri. Diatur olehku, dengan naskahku, dan berakhir sesuai keinginanku. Salah kata dalam memberikan solusi membuat hati yang luka semakin terluka, dan mengakibatkan banyak dari manusia yang bersandiwara untuk terlihat baik-baik saja.

“Hidup itu indah,masalah terluka itu salahmu kenapa bersandiwara biar terlihat baik-baik saja?”

Apa salahnya bersandiwara untuk terlihat baik-baik saja?

Apa salahnya menutupi luka dengan tawa?

Padahal banyak manusia di luar sana yang tidak peduli dengan keadaan temannya, dan tidak benar-benar tulus dalam bertanya “kamu baik-baik aja?”

Pertanyaan-pertanyaan macam itu 80% adalah kekepoan tanpa solusi. Memang ada yang benar-benar peduli, beruntung sekali jika kau memiliki salah satu kawan seperti ini.

“Banyak yang lebih parah masalahnya daripada kamu, jangan overlah.”

Kalu sedih dan letih dianggap sebagai tindakan yang terlalu over dalam mengekspresikan hal pelik macam masalah di kehidupan ini, untuk apa rasa sedih dan letih itu ada?

“Semua orang itu punya masalah, bukan kamu aja.”

Heiiiiiiii aku tau hal itu, bisa gak kamu cukup tepuk punggungku lembut sambil berkata. “aku tau kamu lelah karena semua masalah ini, tapi ingat aku di sini kamu gak sendiri.” Bisakan kata-kata awal itu di ubah kekata-kata yang kedua?

Ayolah kata-kata di awal itu berkali-kali membuat sandiwara itu terlihat lebih baik lagi untuk di jalani. Tidak perlu memberi solusi jika tidak mampu cukup mendengarkan keluh kesahku, dan kata-kata menguatkan itu seharusnya mengandung hal positif kan?

Heal the world

Make it a better place

For you and for me

And the entire human race

There are people dying

If you care enough for the living

Make it a better place

For you and for me

(Michael Jackson, Heal The World)

Sebelum mengubah dunia yang indah ini, cobalah untuk merangkul mereka yang sekarat itu. Alam yang indah tidak cukup membuat bahagia tanpa adanya manusia yang benar-benar tulus peduli terhadap sesama.

Baca Juga: Di Pijar Batas yang Tenang (Sebab-musabab Keterpisahan) Kita Ada untuk Gugur

Jika kamu lelah, dan mengalami hari buruk di setiap harinya kamu menjalani hidup, jangan takut untuk meminta pertolongan. Kesedihan itu bukan tindakan yang memalukan, itu normal untuk dirasakan semua orang.

Akupun awalnya takut dan malu dalam menyatakan bahwa aku sudah lelah dan ingin mati saja, tapi saat aku sudah mulai membuka diri kepada orang yang memang paham dalam membantu menghadapi masalah seperti ini, dan dia menyarankanku untuk memaafkan dan berkawan baik dengan diriku sendiri.

Ternyata semua keindahan dan rasa lega itu betul adanya, aku mulai paham bagaimana caranya menyelesaikan setiap masalah, aku mulai paham untuk menghadapi kesedihanku tanpa harus mengumpat dan menyesal akan anugerah Tuhan yang telah menciptakanku. Memang, semua itu membutuhkan peroses yang sangat lama tapi itu lebih baik daripada berdiam diri bersama luka yang membuatmu tenggelam jauh lebih dalam.

Kamu tidak sendirian, itu kata-kata tulus dariku yang menulis ini. Aku tidak bisa 24 jam menemanimu, aku tidak bisa selalu hadir di setiap kesedihan yang tiba-tiba menyapamu, aku tidak bisa memberikan solusi indah untuk setiap masalahmu, aku mungkin tidak mengenalmu saat aku menulis ini.

Tapi satu hal yang harus kamu ingat, rasa kesepian yang memelukmu sekarang akan digantikan dengan seseorang yang benar-benar mengerti dirimu. Walaupun saat ini dunia terlihat begitu tidak adilnya buatmu, bukan berarti kamu boleh menyerah. Aku gak tahu siapa kamu, tapi aku bersamamu.

Share Artikel:

One thought on “Salah Kata, Luka, dan Sandiwara

Leave a Reply

Your email address will not be published.