Sajak Terakhir Kepasrahan

Sajak Terakhir Kepasrahan

Oleh Adi Perdiana

Kaki kaki kecil berlarian menapaki dasar genangan air hujan yang mengalir menyusuri liukan jalan jalan depan rumah lepas mengisi seluruh parit yang menjadi wadah jewantah tawa bahagia selusin kaki kaki kecil.

Busur warna yang di langit mampir menanda sudah waktunya pulang mandi dan menyisa ketenangan bersama sedikit riak muka air yang perlahan menyurut.

Sampai jumpa kata mereka saling meneriaki mensyaratkan esok hari kaki kaki kecil itu akan berseri seri lagi bagaikan kuncup kuncup bunga yang baru saja mekar dan merekah seolah tak sabar menghamburkan wanginya.

Waktu terus berjalan dan berlari bergantian lalu lalang dengan hati dinginnya tanpa rasa mengambil satu demi satu pun memberi satu yang belum tentu mau.

Menjadi dewasa dimasa kini kaki kaki yang tak lagi kecil itu menjalani hari hari dengan sunyi di hati yang sudah dingin karena waktu telah berlari terlalu cepat menyisakan gelap dan kelam tanpa kehangatan.

Mustahil mengabadikan perasaan kaki kaki kecil kala itu dengan lukisan dan pula tak mungkin menghiasi mereka yang dewasa tanpa rasa dengan sajak sajak yang bercerita meskipun tentang anggur dan rembulan.

Cukupkan hanya padaku,

dan percikan lagi kehangatan pada mereka.

Baca Juga Sedikit Lebih Dekat

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.