Saduran tentang Pram, Ia Abadi, Karna Menulis

Saduran tentang Pram, Ia Abadi, Karna Menulis

Saduran tentang Pram, Ia Abadi, Karna Menulis

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

ketika Indonesia masih merupakan koloni Belanda. Ia menjelaskan bahwa nama Pramoedya dibangun dari suku kata slogan revolusioner “yang pertama di medan perang”. Ayah Pram adalah seorang pengajar dan anggota kelompok pro-kemerdekaan Budi Oetomo.

Pram pun menjalani masa muda yang tak mudah. Ketika itu ayahnya menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SMP), sehingga Pram harus menempuh pendidikan ke sekolah lain.

Ia melanjutkan di Sekolah Kejuruan Radio Surabaya. Kondisi ekonomi yang sederhana memaksanya untuk berhemat dan bekerja bersama ibunya sebagai pedagang beras. Kemudian ia lulus dari sekolah pada 1941, tepat ketika Perang Dunia kedua pecah.

Saat itu Jepang menduduki Indonesia setelah mengalahkan pasukan gabungan Amerika, Inggris, China, dan Belanda di perairan Asia Tenggara. Seperti kebanyakan orang Indonesia lain, Pramoedya sempat menyambut Jepang sebagai pembebas dari jajahan Belanda.

Ia kemudian bekerja selama perang untuk kantor berita Jepang Domei. Namun ketika banyak orang Indonesia yang diharuskan Jepang untuk melakukan kerja paksa, pandangannya berubah. Ia memutuskan bergabung bersama kelompok gerilya.

Pramoedya kemudian pindah ke Jakarta dan menyunting jurnal pro-kemerdekaan. Pekerjaannya ini membuat Pram dipenjara selama dua tahun sejak 1947-1949.

Ketika berada di bui, penjaga penjara memberinya salinan novel John Steinbeck Of Mice and Men yang digunakan Pramoedya untuk belajar bahasa Inggris. Ia juga memerangi keputusasaan selama di penjara dengan menulis. Selama masa penahanannya itulah Pramoedya menyelesaikan novel pertamanya, Perburuan (1950).

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui Belanda pada 1949, Pramoedya menerbitkan novel yang memperkuat eksistensinya, Keluarga Gerilja (1950), yang menceritakan konsekuensi tragis dari simpati politik yang terpecah dalam keluarga Jawa selama masa revolusi Indonesia melawan pemerintah Belanda. Mereka yang Dilumpuhkan (1951) menggambarkan tahanan-tahanan aneh yang Pramoedya temui di kamp penjara Belanda, cerita-cerita pendek yang dikumpulkan dalam Pertjikan Revolusi dan Subuh (1950).

Pramoedya juga banyak menggambarkan keadaan-keadaan di daerah pada saat itu, seperti dalam Tjerita dari Blora (1952) yang menggambarkan provinsi Jawa saat masa pemerintahan Belanda, dan Tjerita dari Djakarta yang menceritakan ketidakadilan yang dirasakannya setelah kemerdekaan dicapai.

Dalam karya-karya awalnya, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya dengan menggabungkan bahasa Jawa sehari-hari dengan gambaran dari budaya Jawa klasik.

Pada akhir 1950-an, Pramoedya semakin dekat dengan kelompok kebudayaan kiri dan bahkan sempat menjadi salah satu pimpinan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang memang secara ideologis dekat dengan komunis.

Peristiwa G30 S PKI membuat semua yang berafiliasi dengan golongan kiri disapu bersih. Termasuk di antaranya Pram. Ia sempat dipenjara di Rumah Tahanan Militer Tangerang dan Nusakambangan, sebelum akhirnya diasingkan ke Pulau Buru.

Pengasingan tak membuat jari-jarinya beku. Pram menulis empat novel atau yang dikenal dengan Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).

Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa mendapat banyak pujian dan menjadi populer di Indonesia. Pemerintah kemudian melarang kedua novel tersebut untuk diedarkan, sedangkan dua novel lainnya hanya bisa diterbitkan di luar negeri. Berbeda dari karya Pramoedya sebelumnya, mereka ditulis dalam gaya naratif yang serbacepat.

Karya Bumi Manusia-nya dipuji sebagai karya agung internasional dan diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Terlepas dari itu, buku Pramoedya, termasuk Tetralogi Buru tetap dilarang di Indonesia sampai 1990-an. Meskipun larangan akan karya-karyanya tidak pernah terdaftar secara resmi, buku Tetralogi Buru baru tersedia di beberapa toko buku di Jakarta pada awal era milenium.

Setelah Soeharto lengser pada 1998, Pramoedya secara resmi dibebaskan dan diizinkan untuk bepergian dengan leluasa. Setahun berselang, ia mengunjungi Amerika Serikat untuk menerima gelar doktor kehormatan dari University of Michigan.

Pada 30 April 2006, Pramoedya mengembuskan napas terakhirnya akibat komplikasi diabetes dan penyakit jantung. Ia meninggalkan seorang istri dan delapan anak.

Kehidupan asmara Pram juga penuh dengan masalah. Karena pekerjaannya sebagai penulis tidak bisa memberinya penghasilan tetap untuk menafkahi sang istri, Pram kemudian diusir oleh mertuanya dan perkawinannya pun terpaksa harus berakhir. Namun hal tersebut justru membuat Pram menemukan sosok Maemunah.

Maemunah dikenal sebagai istri yang setia mendampingi Pram apapun situasinya. Pertama kali Pram melihat Maemunah dalam sebuah pameran buku. Perempuan itu merupakan salah satu penjaga stand di sana dan demi mendapatkan hati Maemunah, Pram setiap hari mengunjungi pameran tersebut dan bertindak seolah-olah menjadi penjaga stand menemani Maemunah. Sikap tersebut sampai-sampai membuat Presiden Soekarno mengatakan sebuah perumpamaan ‘buaya kedahuluan buaya’ pada Pram.

Pramoedya Ananta Toer juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang panjang umur. Beliau meninggal di usia 81 tahun dengan meninggalkan banyak sekali tulisan yang akan selalu dikenal.

Jika ditanya apa resep rahasianya, jawaban Pram sangat sederhana yaitu perbanyak senyum, atur pernafasan, mengonsumsi bawang putih, dan juga minum anggur merah.

Baca Juga: Karna Minat Baca di Indonesia yang Rendah, Maka Bazar Buku Big Bad Wolf di Balikpapan Adalah Oase

Sebelumnya juga ada seorang sutradara terkenal Amerika bernama Oliver Stone yang ingin membeli hak memfilmkan karya “Bumi Manusia” dengan harga belasan miliar rupian, namun Pram menolaknya karena kabarnya beliau ingin orang Indonesia yang mengerjakan film tersebut.

Pram memang telah tiada, namun jejak-jejaknya masih terukir di negeri ini. Karyanya dikenal di seluruh dunia. Ia juga dianggap memberikan penggambaran terhadap sejarah Indonesia pada tahun-tahun yang tidak banyak diketahui, yakni saat-saat awal pergerakan pemuda Indonesia dimulai.

Pram meninggalkan semangat untuk menjadi orang bebas yang tidak takut pada apa pun. Bagi para penulis, Pram adalah kiblat bahwa kata-kata – sebagai bagian dari kebudayaan – adalah ekspresi dan keutamaan jiwa.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Demikianlah salah satu kutipan yang paling memotivasi. Menulis seperti halnya juga membaca seperti menghirup dan menghembuskan napas. Menulis adalah melawan dengan kata-kata.

Sumber Foto: Galeri Foto Jakarta

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.