Rusuh di Gedung Capitol dan Olok-olok Dunia

Rusuh di Gedung Capitol dan Olok-olok Dunia

Rusuh di Gedung Capitol dan Olok-olok Dunia

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Negara dalam kategori adidaya pun tetap memiliki ‘sisi gelap’.

Thexandria.com – Sebuah kejadian mengejutkan terjadi sebelum perhelatan penetapan Joe Biden sebagai Presiden baru Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/1) petang waktu setempat. Massa yang mengklaim diri sebagai pendukung garis keras Donald Trump menginvasi gedung parlemen AS, The Capitol dalam jumlah yang massif. Tak hanya itu, dari beberapa cuitan dan postingan yang begitu riuh di linimasa terpantau dokumentasi massa yang hadir melakukan pengrusakan hingga penjarahan terhadap beberapa fasilitas di dalam maupun sekitar Capitol. Beredar pula pengamatan melalui visual yang melahirkan hipotesa bahwa gerakan ini banyak melibatkan kelompok antifa yang akrab menggunakan cara kerusuhan.

Di saat yang sama DPR, Senat, dan Wakil Presiden Mike Pence sedang mengadakan sidang untuk menetapkan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46. Hal ini mengundang niatan massa Trump untuk menghambat jalannya sidang itu. Dikabarkan oleh Time, bahwa gerakan yang begitu kolektif ini diakomodir oleh Trump. Media asal Inggris ini menyebutkan bahwa niatan massa untuk mengepung Capitol disulut dengan kehadiran Trump dan pidatonya beberapa waktu sebelumnya. Presiden yang dikenal sebagai seorang nasionalis ini menyampaikan bahwa ia tak bermufakat dengan kenyataan dan hasil yang tidak memihak kepada kemenangannya. Dengan kata lain, pun ia tak mengakui kemenangan Joe Biden dalam pemilu yang berlangsung 3 November lalu dan akan terus menerus menyerang legitimasi pemilu—udah dibilangin netizen kalem aja, ntar palingan bakal dapat posisi Menhan.

“Kami tidak akan pernah menyerah. Kami tidak akan pernah menyerah. Itu tidak akan pernah terjadi. Anda tidak mengakui jika melibatkan kematian. Negara kita sudah muak. Kami tidak akan tahan lagi,” kata Trump dalam demonstrasi “Save America March” itu.

Ironisnya, kepolisian Washington DC, Amerika Serikat, melaporkan enam orang tewas dalam kerusuhan di Gedung Capitol. Sementara itu, seorang wanita lebih dulu dilaporkan tewas saat massa pendukung Trump menyerbu masuk Capitol. Wanita tersebut dinyatakan meninggal saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit. Wanita itu tewas akibat luka tembak di dada di depan gerbang Capitol. Wanita itu pernah bertugas di Angkatan Udara AS. Dikutip dari AFP, wanita itu bernama Ashli Babbit dan telah pensiun dari Angkatan Udara selama 14 tahun. Ia disebut sangat mendukung Trump.

Baca Juga Bagaimana Otak Kita Memainkan Trik pada Diri Sendiri

Selain para pemrotes, sejumlah petugas kepolisian juga ikut terluka akibat kerusuhan tersebut. CNN melaporkan satu anggota polisi dikabarkan mengalami luka cukup serius hingga harus dibawa ke rumah sakit. Petugas pemadam kebakaran dan layanan darurat DC turut mengangkut banyak orang ke rumah sakit daerah akibat cedera hingga serangan jantung dari sekitar Gedung Capitol. Petugas medis juga merawat beberapa orang yang mengalami patah tulang setelah jatuh dari pagar pembatas di bagian depan barat Gedung Capitol.

Dalam menyikapi kerusuhan ini, Trump telah memerintahkan militer Garda Nasional AS untuk mengamankan wilayah Washington DC dan beberapa negara bagian lainnya untuk mengamankan situasi. Tak hanya itu, ia juga menghimbau agar pendukungnya mematuhi aturan yang berlaku.

Ramai untuk ‘Simpati’


Beramai-ramai pentolan pemimpin dunia mulai dari Iran, Turki, China hingga negara sekutu AS seperti Jerman, Inggris dan India mengecam aksi di Capitol—sebuah cara yang diplomatis untuk sekadar menyampaikan simpati atau bahkan buruknya mengejek AS.

Menurut Presiden Iran Hassan Rouhani, kerusuhan itu mengungkap kelemahan demokrasi Barat. Rouhani mengatakan Trump sebagai ‘orang yang tak sehat’ dan menyatakan: “Kita saksikan apa yang terjadi saat persaingan menjadi ekstrem. Apa yang kita saksikan tadi malam dan hari ini di Amerika menunjukkan betapa lemahnya dan rentannya demokrasi Barat dan betapa lemahnya landasan.”

Dalam wawancara dengan jaringan berita, Islamic Republic of Iran News Network, Rouhani mengatakan, kerusuhan itu diharapkan dapat menjadi pelajaran dan ia berharap Joe Biden dapat mengembalikan Amerika ke posisi yang ‘layak’.

Sementara itu, dari media asal China meledek kerusuhan yang terjadi di Capitol sebagai bentuk ketidakdewasaan iklim politik bahkan sekaliber negara adidaya seperti AS. Tabloid pemerintah China, Global Times, membandingkan kerusuhan itu dengan aksi protes anti-pemerintah Hong Kong pada 2019 melalui sebuah gambar yang diposting di Twitter.

“Apa yang terjadi di Dewan Legislatif Hong Kong tahun lalu terulang di Capitol AS,” ucap salah satu warga Twitterland.

Meski tampak serupa, namun ada perbedaan mencolok terkait penyebab dan motivasi dari dua kericuhan tersebut. Demonstran Hong Kong menerobos ke badan legislatif untuk menuntut demokrasi penuh dan menghentikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keamanan Nasional.

Bahkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying melemparkan sebuah sindiran keras yang menyatakan bahwa peristiwa di Hong Kong jauh lebih ‘parah’ dibandingkan di Washington tetapi tak satu pun korban jiwa berjatuhan.

Wakil Duta Besar Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy, menyamakan kekerasan di Washington dengan revolusi di Ukraina pada tahun 2014 untuk menggulingkan presiden dukungan Rusia, Viktor Yanukovich. Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan pihaknya mengajak seluruh pihak untuk berperilaku dengan mengendalikan diri dan akal sehat.

Dari India, negara demokrasi terbesar di dunia, Perdana Menteri Narendra Modi – yang mempunyai hubungan baik dengan Presiden Trump – mengatakan ia sedih mendengar berita kerusuhan dan kekerasan di Washington. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel yang cukup prihatin terhadap kejadian di Capitol.

Sementara di Indonesia sendiri, belum ada sepatah kata yang keluar dari lisan para pejabat maupun kepala negara. Namun warganet negara yang sedang berkembang ini sudah banyak memberikan responnya masing-masing. Mulai dari sikap simpati, heran hingga memberikan sebuah komparasi—yang populer adalah perbandingan kejadian ini dengan reformasi besar di tahun 1998. Bebas dah, warganet mah bebas.

Huru-hara di AS yang belum menemui ujung-nya ini seolah menegaskan, negara dalam kategori adidaya pun tetap memiliki ‘sisi gelap’. Bahkan secara periodik, konflik tersebut memiliki babak-babak baru yang cukup menarik untuk diikuti—seru sekali bak episode panjang sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang tak bisa ditebak kapan tamatnya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.