Rules Number One; Boleh Aware sama Politik, asal Jangan Fanatik!

Rules Number One; Boleh Aware sama Politik, asal Jangan Fanatik!

Rules Number One; Boleh Aware sama Politik, asal Jangan Fanatik!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Politik, merupakan kata yang tak lagi asing terdengar, bahkan untuk anak muda sekalipun. Didukung oleh perkembangan teknologi dan terbukanya informasi, terutama dari platform-platform sosial media, turut pula semakin mendekatkan anak-anak muda dengan iklim politik nasional yang tak pernah surut.

Berbeda halnya dengan era orde baru, tatkala politik dianggap sebagai suatu ‘alat’ yang hanya didominasi para pelaku politik praktis, termasuk ABRI di dalamnya, di era sekarang, politik seakan menjadi ‘instrument kepemilikan bersama’, atau, semua orang bahkan anak muda sekalipun, merasa penting untuk terlibat langsung maupun tidak langsung. Tidak langsung dalam artian, adu argumen, tuding menuding, apresiasi dan makian—yang paling banyak adu bacot di sosial media, seperti twitter dan instagram, menjadi contoh yang paling konkret melihat partisipasi anak-anak muda terhadap perpolitikan tanah air, dalam spektrum yang luas.

Bila ingin melihat ‘kepedulian’ anak-anak muda terhadap politik dalam spektrum yang lebih detail, kita dapat melihat dengan menjamurnya para anak muda yang terjun ke dalam politik praktis, dengan cara menjadi kader partai politik.

Di semua partai politik, kini dapat ditemukan para politisi muda, namun, mungkin tak ada yang lebih ‘merepresentasikan’ kalangan milenial dibanding partai PSI. Meskipun, dalam praktiknya, tak melulu sesuai gagasan awal PSI yang membangun narasi dikotomi antara ‘politisi muda’ dan ‘politisi tua’.

Polarisasi di Akar Rumput

Sebenarnya, bila ditelisik lebih jauh, benih kesadaran partisipasi politik anak muda, mulai tumbuh di era pilpres 2014 silam, yang waktu itu, mempertemukan Jokowi dan Prabowo.

Dengan berlakunya peraturan mengenai Presidential Threshold, otomatis pasangan Presiden dan Wapres hanya diikuti oleh dua pasangan calon, hasilnya? Kubu pendukung terbelah menjadi dua kelompok.

Kemudian, setelah Jokowi naik menjadi Presiden, isu yang membuat polariasi tak kunjung hilang adalah, kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI kala itu, Ahok. Masyarakat kala itu, juga terbagi menjadi dua kelompok, pro dan kontra, yang menjadikan persoalan menjadi lebih rumit, Presiden dianggap memiliki afiliasi dengan Ahok, sementara dilain pihak, Prabowo dianggap ikut ‘mendompleng’ salah satu kelompok, yang malah, semakin memperlebar jurang antara dua kubu.

Fyuh… riweuh, ya?

Ekskalasi memuncak ketika pilpres 2019 dimulai, yang lagi dan lagi, mempertemukan dua sosok yang sama, Jokowi dan Prabowo.

Peta kekuatan masing-masing kubu masih terbentuk seperti 2014, namun, yang lebih mem-paripurnakan adalah hadirnya kelompok islam, yang dianggap sebagai ‘kekuatan baru’ yang harus diperebutkan suaranya.

Hasilnya terlihat dengan bagaimana nyaris semua platform media menampilkan masing-masing calon melakukan safari politik ke berbagai tokok-tokoh islam tanah air.

Jokowi bahkan menggandeng sosok ulama sebagai wakilnya.

Dan yang paling mutakhir dan takkan kita lupakan adalah, adegan dimana dua tokoh islam, seolah memberi ‘legitimasi umat’, dengan cara memberi dukungan secara langsung, disiarkan live, didoakan, dan diberi cinderamata sebagai simbol.

Baik Jokowi dan Prabowo, keduanya melakukan itu.

Wedan!

Saya tidak bilang itu semua salah, ataupun lumrah, ya. Ya—entahlah~

Kemudian yang masih menyisakan polemik hingga kini, Habib Rizieq, Ketua FPI, tokoh yang diidolakan oleh banyak kalangan islam fundamentalis, kala pilpres 2019 berlangsung, dianggap oleh sebagian orang sebagai ‘korban rezim’.

Pendukung Habib Rizieq, lantas menaruh harapan yang cukup besar, agar Prabowo bila menang, dapat memulangkan Habib Rizieq ke tanah air, yang dimana juga merupakan janji politik Prabowo kala itu.

Cieee… Anti Klimaks

Sesi quick count menjelang penghitungan resmi dari KPU, benar-benar menjadi titik yang melelahkan, saling klaim, saling tuding kecurangan, dan saling adu pembenaran, menjadi headline dimana-mana.

Hasilnya, Jokowi menang, Prabowo kalah, that’s all.

Langkah keberatan kubu Prabowo yang menempuh jalur konstitusional, dengan membawa hasil pemungutan suara ke MK, tak membuahkan hasil.

Yang menarik, sekaligus yang mbuat segala drama politik Indonesia menjadi anti klimaks adalah,

Prabowo menjadi Menhan, semua senang, semua ‘kebagian’.

Lalu, apakah dengan bergabungnya Prabowo ke dalam pemerintahan lantas menghentikan polarisasi masyarakat?

Di tingkatan elit, mungkin iya, namun di akar rumput? Silahkan bertamasya ke twitter~

Baca Juga: Balada Para Pemendam Rasa

Pesan apa sebenarnya yang bisa kita ambil? Begini kawan, politik, bagaimanapun adalah erat kaitannya dengan kekuasaan, yang semerta-merta, turut menjadikan esensi pergerakannya menjadi dinamis, kemudian harmonis.

Menggantungkan kemaslahatan masyarakat secara luas, sangat dianjurkan kepada regulasi politik yang ada, perhatikan baik-baik program kerja, janji-janji busuk manis, dan turut sertalah menjadi ‘pengawas’ kinerja pemerintah.

Bukan malah, menjadikan satu sosok menjadi patron, yang apabila dalam kompetisi menyajikan siapa yang kalah dan menang, lantas membuat salah satu kelompok menjadi berat menerima.

Rules number one, kita, terlebih anak-anak muda, ‘wajib’ aware terhadap politik, sebagai landasan pemetaan terhadap masa depan kita kelak. Dan, kita juga semestinya ‘mengharamkan’ terlalu fanatik terhadap salah satu figur, yang cenderung membawa kepada fanatisme buta yang berpotensi mematikan nalar berpikir kita.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.