Ritual Sakral Suku Dayak; Mangkok Merah, Ngayau (Penggal Kepala), dan Perjanjian Tumbang Anoi

Ritual Sakral Suku Dayak; Mangkok Merah, Ngayau (Penggal Kepala), dan Perjanjian Tumbang Anoi

Ritual Sakral Suku Dayak; Mangkok Merah, Ngayau (Penggal Kepala), dan Perjanjian Tumbang Anoi

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

3 Ritual Suku Dayak

Thexandria.com – Kalimantan terdiri dari beberapa etnis seperti suku Banjar, Melayu, Kutai dan Dayak, yang masing-masing kaya dengan adat istiadatnya masing-masing.

Disini kami mau concern membahas perihal adat suku Dayak. Suku Dayak, terbagi lagi ke berbagai suku-suku yang lain seperti; Dayak Kenyah, Dayak Tunjung, Dayak Meratus, Dayak Iban etc.

Masyarakat asli suku Dayak, juga terkenal sebagai pribadi yang pemalu.

Yang menarik, banyak stigma yang tertempel pada suku Dayak. Yang dimana stigma tersebut diduga kuat berakar dari tragedi horizontal memilukan di Sampit, Kalimantan Tengah, pada belasan tahun silam. Stigma seperti—orang Dayak makan orang, orang Dayak memiliki ilmu ghaib yang berbahaya, orang Dayak memenggal kepala.

Untuk yang terakhir, bukan bualan belaka, melainkan memang sebuah ritual. Untuk mengetahui lebih lanjut? Silahkan selesaikan membaca tulisan ini, jangan dibiasain males baca, jangan sampai miskin literasi. Jangan dibiasain baca judul terus pergi. Alhasil substansi tulisan jadi tidak utuh.

Di tulisan ini kami hanya menjelaskan tiga ritual adat yang memantik hal-hal tabu di masyarakat umum (mungkin).

Mangkok/Mangkuk Merah

Kita mulai dari ritual mangkuk merah. Dijelaskan oleh John MacDougall, dalam bukunya, “Kisah Mangkok Merah di Pedalaman Kalbar”, mangkuk merah merupakan sebuah tradisi dalam adat Dayak yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar sesama rumpun Dayak serta sebagai penghubung dengan roh nenek moyang. Dan hanya Panglima Adat yang berwenang untuk memanggil dan berhubungan dengan para roh suci atau dewa.

Masih menurut buku MacDougall, Pada mulanya, ritual mangkok merah bernama mangkok jaranang karena menggunakan mangkuk yang diwarnai dengan jaranang. Jaranang sendiri adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah berwarna merah. Akar jaranang yang berwarna merah dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam sehingga  dikenal dengan nama Mangkuk Merah.

Adat ini dilangsungkan apabila terdapat kejadian besar; pembunuhan, pelecehan seksual, atau bila pihak pelaku tidak bersedia menyelesaikan permasalahan secara adat.

Pihak korban yang merasa terhina akan bersepakat, melakukan aksi belas dendam melalui pengerahan masa secara adat yang disebut Mangkok Merah.

Ritual Mangkuk Merah hanya diadakan jika benar-benar terpaksa. Dan konsekuensi dari ritual mangkok merah adalah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang besar.

Dalam pelaksanaan ritualnya, Panglima Adat atau Ketua Adat akan membawa mangkok merah ke panyugu (tempat suci yang dianggap keramat) pada saat matahari terbenam. Di sana, ia meminta petunjuk dewa. Diyakini bahwa roh suci akan menjawab melalui tanda-tanda alam yang kemudian diterjemahkan oleh panglima apakah mangkuk merah sudah saatnya disebarkan atau belum. Jika dianggap layak, tubuh palingma akan mengalami kerasukan.

Kemudian Panglima Adat yang sudah dirasuki roh dewa akan pulang ke desanya dengan meneriakan kata-kata magis tertentu. Penduduk desa dengan sendirinya akan mengerti dan berkumpul di lapangan sambil membawa mandau, perisai, dan senjata lantak dengan kain merah di kepala. Panglima Adat kemudian ‘menularkan’ roh dewa kepada semua penduduk kemudian mengutus kurir untuk mengantarkan mangkuk merah ke desa lain.

Panglima Adat dari desa lain dipercaya mengetahui kedatangan kurir dengan kekuatan supernaturalnya dan menjemputnya bersama dengan penduduk desanya. Setelah mengetahui siapa musuh yang akan dihadapi, Panglima Adat desa lain tersebut juga akan ‘menularkan’ roh dewa kepada seluruh penduduk desa. Upacara mengedarkan mangkuk merah berlangsung di seluruh wilayah yang bisa dijangkau hingga dianggap cukup untuk menghadapi musuh.

Masyarakat Dayak yang berada di bawah pengaruh magis panglima perang konon akan kebal senjata, tahan tidak makan hingga sebulan, dan bisa bergerak cepat di dalam hutan. Panglima perang biasanya menggunakan sandi seperti Panglima Burung, Panglima Halilintar, atau Panglima Angin.

Ngayau (Penggal Kepala)

Ritual adat Ngayau adalah tradisi, dimana suku Dayak, berburu atau memenggal kepala dari pihak musuh. Ngayau inilah yang diyakini melahirkan anggapan atau stigma terhadap suku Dayak.

Menurut Carl Bock, seorang penjelajah Eropa yang pernah menulis buku, “The Head Hunters of Borneo” terbitan tahun 1882.

Ngayau penting dalam hubungannya dengan Mamat, yaitu pesta pemotongan kepala, yang mengakhiri masa perkabungan dan menyertai upacara inisiasi untuk memasuki sistem status bertingkat.

Pemburu-pemburu kepala yang berhasil berhak memakai gigi macan kumbang di telinganya, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan sebuah tato dengan desain khusus.

Baca Juga: Hari Bumi yang ‘Sepi’ dan Eksistensi Manusia

Miller seorang penjelajah yang lain, juga menulis dalam Black Borneo-nya (1946 : 121), bahwa praktik memburu kepala bisa dijelaskan dalam kerangka kekuatan supernatural yang oleh orang-orang Dayak diyakini ada di kepala manusia.

Bagi suku Dayak, tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit. Sebuah kepala yang sudah diberi ramu-ramuan bila dimanipulasi dengan tepat cukup kuat untuk menghasilkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, dan mengusir roh-roh jahat.

Perjanjian Tumbang Anoi

Tumbang Anoi adalah tempat bersejarah bagi perjalanan masyarakat Dayak. Tumbang Anoi menjadi tempat rapat akbar untuk mengakhiri tradisi Ngayau (perburuan kepala) pada tahun 1894.

Tumbang Anoi terus diperingati sampai abad modern kini. Yang dalam perjalannya tidak hanya sebagai nostalgia sejarah, namun juga menjadi semacam mercusuar peradaban bagi suku-suku Dayak. Berikut isi dari Perjanjian Tumbang Anoi;

1. Menghentikan permusuhan antar sub-suku Dayak yang lazim di sebut 3H (Hokanyou =saling mengayau, Hobunu’ = saling membunuh, dan Hotohtok = saling memotong kepala)

2. Menghentikan sistem Jihpon Kopali’ (hamba atau budak belian) dan membebaskan para Jihpon dari segala keterikatannya dari Tepui (majikannya) sebagai layaknya kehidupan anggota masyarakat lainnya yang bebas.

3. Menggantikan wujud Jihpon yang dari manusia dengan barang yang bisa dinilai seperti bolanga’ (tempayan mahal atau tajau), halamaung, lalang, tanah / kebun atau lainnya.

4. Menyeragamkan dan memberlakukan Hukum Adat yang bersifat umum, seperti : bagi yang membunuh orang lain maka ia harus membayar Sahiring (sanksi adat) sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Memutuskan agar setiap orang yang membunuh suku lain, ia harus membayar Sahiring sesuai dengan putusan sidang adat yang diketuai oleh Damang Bahtu’. Semuanya itu harus di bayar langsung pada waktu itu juga, oleh pihak yang bersalah.

7. Menata dan memberlakukan adat istiadat secara khusus di masing-masing daerah, sesuai dengan kebiasaan dan tatanan kehidupan yang dianggap baik.

***

Well, itu dia tulisan mengenai c yang setelah kami tulis ternyata cukup panjang. Sekali lagi, tulisan ini disajikan agar dapat memberi pemahaman, bahwa nenek moyang kita, memiliki kekayaan adat istiadat yang bukan hanya kaya, namun juga perilaku luhur yang apabila dicermati, tidak terlepas dari hukum kausalitas.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.