Ribut-ribut Soal Indonesia yang Sita Kapal Tanker Iran di Perairan Kalimantan

Kapal Tanker Iran

Ribut-ribut Soal Indonesia yang Sita Kapal Tanker Iran di Perairan Kalimantan

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Penangkapan dan penyitaan kapal tanker Iran ini bukan atas permintaan AS.

Thexandria.com – Sebelumnya Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI menyita dua kapal tanker minyak asing, masing-masing berbendera Iran dan Panama, karena diduga melanggar hukum internasional. Kedua kapal jenis tanker tersebut disita di perairan lepas provinsi Pontianak, Kalimantan Barat, pada Minggu (24/1), usai terpantau radar KN Marore-322. Pada saat itu, KN-Marore sedang melakukan operasi keamanan dan keselamatan laut dalam negeri.

Pihak berwenang Indonesia mengatakan kapal-kapal itu menyembunyikan identitas mereka dengan tidak menunjukkan bendera nasional, mematikan sistem identifikasi otomatis, dan tidak menanggapi panggilan radio.

Kedua kapal supertanker itu masing-masing mampu membawa 2 juta barrel minyak, terakhir kali terlihat awal bulan ini di lepas pantai Singapura. Menurut data MT Horse, yang dimiliki National Iranian Tanker Company (NITC), kapal hampir terisi penuh dengan minyak. Sementara MT Freya, yang dikelola oleh Shanghai Future Ship Management Co kosong.

Baca Juga Romantisme Linguistik Indonesia dan Malaysia

Iran diduga berusaha menyembunyikan tujuan penjualan minyaknya dengan menonaktifkan sistem pelacakan di kapal tankernya. Sementara konfirmasi mengenai dugaan pelanggaran hukum oleh kapal tanker Iran (MT Horse) dan kapal Panama (MT Freya) disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah.

“Saat ini tengah dilakukan penyelidikan lebih lanjut guna memperoleh gambaran lebih lengkap atas pelanggaran yang dilakukan,” ujar Faizasyah melansir ANTARA.

Kemudian saat ditanya apakah kedua kapal tersebut ditangkap karena melakukan transfer bahan bakar minyak ilegal, Kemlu RI tidak menjelaskan lebih lanjut karena peyelidikan masih berlangsung.

Kabag Humas dan Protokol Bakamla Kolonel Wisnu Pramandita mengatakan, pihaknya akan mengawal MT Horse dan MT Freya ke Pulau Batam untuk penyelidikan lebih lanjut tersebut.

Melansir dari tirto.id saat kapal bersandar di pelabuhan di Batam, petugas mulai menyelidiki lebih dalam. Semua awal kapal ditahan di masing-masing kapal. Terdapat 61 ABK terdiri atas 36 orang warga Iran di MT Horse dan 25 orang warga Cina di MT Freya.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, penyitaan itu karena “masalah teknis dan itu terjadi di bidang perkapalan”.

“Organisasi Pelabuhan kami dan perusahaan pemilik kapal sedang mencari penyebab masalah ini dan menyelesaikannya,” kata Khatibzadeh dalam konferensi pers mingguan yang disiarkan televisi, melansir Reuters.

Dugaan Menghindari Sanksi AS

Iran AS
gambar ilustrasi – source getty images / C. Barria

Organisasi Maritim Internasional mengharuskan kapal menggunakan transponder untuk keselamatan dan transparansi. Kru bisa mematikan perangkat jika ada bahaya pembajakan atau bahaya serupa. Tetapi transponder sering kali dimatikan untuk menyembunyikan lokasi kapal selama aktivitas terlarang.

Pemerintah Indonesia menyatakan telah menyita kapal tanker tersebut, setelah keduanya terdeteksi melakukan transfer minyak dari MT Horse yang berbendera Iran ke MT Freya yang berbendera Panama, hingga menyebabkan tumpahan minyak di laut Indonesia.

Terkait penyitaan ini AS mengungkap “Kami menyambut baik upaya Penjaga Pantai Indonesia untuk melawan aktivitas maritim terlarang,” kata juru bicara kedutaan AS di Jakarta kepada Reuters. Pemerintah AS juga mendukung Indonesia untuk memastikan standar IMO untuk keselamatan dan kepatuhan lingkungan lewat penegakan sistem pelacakan dapat ditegakkan.

Sebelumnya pada 2018, mantan Presiden AS Donald Trump menarik pemerintahannya keluar dari kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dengan enam negara besar (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) dan menerapkan kembali sanksi yang bertujuan untuk memotong ekspor minyak Iran menjadi nol.

Tahun lalu Iran mengutus MT Horse ke Venezuela untuk mengirimkan 2,1 juta barel kondensat Iran. Langkah itu sebenarnya melanggar sanksi yang telah dijatuhkan Amerika Serikat, namun Iran tetap melakukannya.

Dengan menyembunyikan tujuan penjualan minyaknya dengan menonaktifkan sistem pelacakan pada kapal tanker Iran. Dengan demikian sulit menilai berapa banyak ekspor minyak mentahnya karena berupaya melawan sanksi AS. Namun penangkapan dan penyitaan kapal tanker Iran ini bukan atas permintaan AS.

Saat ini pemerintah telah membentuk tim penyelidik yang terdiri atas Bakamla, Kemenlu, Kemenhub (Hubla), Kemenkeu (DJBC), Kemenkumham (imigrasi), Kementerian LH, Kementerian ESDM, TNI AL dan polisi untuk memulai penyelidikan panjang atas beragam pelanggaran. Semua ABK yang ditahan juga akan menjalani tes COVID-19 untuk memastikan kesehatannya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.