Resolusi Tahunan; Reformasi, Revolusi, Tuhkan-Repot-Sendiri

Resolusi Tahunan, Reformasi, Resolusi

Resolusi Tahunan; Reformasi, Revolusi, Tuhkan-Repot-Sendiri

Penulis Rizaldi Dolly  | Editor Rizaldi Dolly

Tadaaaaa! Tulisan pertama thexandria di 2020! Waktu bener-bener enggak kerasa, perasaan baru kemarin 17-an, puasa-an, lebar-an lebaran, maaf-maafan, ghibah-ghibah-an lagi, dan jeng jeng~ here we are, 1 Januari 2020.

Ngomong-ngomong soal pergantian tahun, bagai sayur tanpa garam, bila tanpa sebuah r e s o l u s i.

Nggak ngerti juga, sih, sebenarnya kenapa. Tapi berhubung dari semingguan lalu seluruh platform media sosial media penuh dengan kata atau ungkapan mengenai resolusi, jadinya ya… gue nulis ginian juga deh.

Sebelum gue mulai menjabarkan betapa ilusif nya resolusi tahunan, mari kita sedikit menyentil perihal judul yang tertera.

Selain resolusi, adapula reformasi, revolusi, dan tuhkan-repot-sendiri.

Kenapa tulisan kali ini tidak menitikberatkan kepada reformasi? Ya karena, reformasi telah usai semenjak dimulai era 98. Sumpah enggak nyambung~

Kenapa enggak soal revolusi? Gue nggak mau ribet, karna apa, begini ya, istilah revolusi itu makna nya ‘berbahaya’ banget, apalagi dalam konteks perpolitikan dan kenegaraan. Revolusi, bisa berarti sebuah perubahan besar-besaran, bahkan dari akar sampai buahnya, yang cenderung dan potensional menimbulkan huru-hara yang hebat. Dan lagian, gue bisa kena tuduhan ‘makar’.

Jadi yaudahlahyaaaa~ soal revolusi, biarkan terlewat dan tak perlu diperdalam,  gue pribadi cukup mengimani revolusi dalam bait lirik Don’t Look Back in Anger-nya Oasis.

So i start revolution from my bed~

Resolusi itu Ilusif

Bukan tanpa sebab musabab gue bilang kalau resolusi itu ilusif, alias sekedar ilusi, alias tak nyata, alias tipuan semata.

Resolusi sendiri, banyak yang mengartikan sebuah goals baru, atau target, atau impian yang akumulasi akhirnya di review apabila tahun masehi berganti.

Gue sudah mencoba, selain ikut merayakan setiap pergantian tahun dengan ‘orang tua’, gue juga turut menghadirkan sebuah resolusi guna menjadi manusia kebanyakan.

Di tahun 2017, gue masih ingat, gue berpesta ria meneguk memeluk ‘orang tua’ gue, dan seketika di kepala gue terilhami bahwa gue harus sesegera mungkin mencetuskan resolusi gue di 2018.

Dan ini resolusi gue, ………………

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan hati gue masih saja memikirkan seseorang tanpa mau beranjak pulang bulan berganti tahun.

Gue inget banget, waktu itu, menjelang akhir 2018, gue memandangi langit ditengah temen-temen gue yang lagi sibuk bakar rumah jagung, ayam, dan kenangan.

Seketika ilham membisik di telinga gue.

Resolusi, kau belum menentukan resolusi…

Gue termenung dan langsung kayak, “iya… gue harus menentukan resolusi baru”.

Ilham kembali membisik.

Nah gitu dong…

Yaelahhh ilham ngapainsiii?!

Gue kira ilham dari alam bawah sadar gue, ternyata dari tadi si ilham temen sd gue yang bisik-bisik!

Skip~

Oke ini serius, gue memandang langit ditengah kesibukan temen-temen gue yang kali ini beneran bakar rumah, bubar!

Semalam 2019 akhir, di pesta kecil di apartemen temen, gue dan temen-temen merayakan perginya 2019, dan menyambut datangnya 2020. Sesekali gue merenung di balkon sendirian, ditemani gegap gempita suara petasan dan kembang api, mata gue sayu memandang hamparan gelap yang tak bisa ditembus oleh apapun, kecuali, kenangan~

Dan ngomong-ngomong soal kenangan, entah kenapa gue jadi teringat sama resolusi gue di tahun-tahun sebelumnya… gue serius.

Gue jadi teringat, bahwa sebenarnya, gue lupa isi resolusi-resolusi tahunan gue sebelumnya.

Gue berpikir keras, suara tawa dan gemercik botol hilir mudik dari dalam ruangan, sesekali beberapa teman menghampiri gue dan kita bersulang dengan muka gue yang masih berpikir keras mengingat resolusi gue.

Kalau memang resolusi itu penting buat gue, harusnya gue nggak bakalan lupa.

Baca Juga: Rebahanisme Dalam Kaum Rebahan; Paham Baru yang Lahir Dari Manajemen Waktu maha Santuy

Dan tuhkan-repot-sendiri, sangking lamanya gue berpikir mengingat-ngingat lagi, temen-temen gue sudah memenuhi balkon, ber-instastory-ria, dentuman ledakan petasan membahana ke seantero mata angin, gue masih tercengang, gue nggak nyangka, kalau ternyata selama ini, gue nggak benar-benar serius soal resolusi tahunan.

Namun, apa itu salah? Tidak juga, toh, gue tetap mampu bertahan mengarungi hidup, sesekali gue ngerasa jatuh, tapi pada akhirnya, gue masih baik-baik aja. Dan gue juga tetap berhasil menggapai capaian-capaian positif di hidup gue, yang mostly tanpa perencanaan sistematis dan konstruktif, cenderung situasional dan insidentil.

Gue nggak begitu hancur lebur, even tanpa resolusi sekalipun.

Di sekian detik dalam kemeriahan pukul 12 malam, gue bersyukur kepada Tuhan, atas segala yang bahkan gue sendiri enggak tau pasti itu apa…

Gue bersyukur Tuhan selalu memberi kasih dan sayangnya, tanpa pandang bahwa hitam masih melekat disekujur raga yang fana, sebab jiwa, telah ditakdir larut dalam NamaMu yang sempurna.

Terimakasih, Tuhan.

Happy new year!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.