Remaja Pembunuh Balita Terinspirasi Film Horror Menunjukkan Pentingnya Praktik Langsung Pengawasan pada Film Berkategori Bimbingan Orang Tua

Remaja Pembunuh Balita

Remaja Pembunuh Balita Terinspirasi Film Horror Menunjukkan Pentingnya Praktik Langsung Pengawasan pada Film Berkategori Bimbingan Orang Tua

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Pembunuh seorang balita berinisial A (5) yang dilakukan oleh seorang remaja N (15) di kawasan Sawah Besar, Jakarta pusat cukup membuat geger. Pelaku yang merupakan tetangga korban menghabisi nyawa korban dengan cara di luar nalar.

Kronologi berdasarkan yang dilansir pihak Kepolisian adalah pelaku sengaja menenggelamkan sebuah mainan dan kemudian meminta tolong korban untuk mengambil mainan tersebut ketika bermain di rumah pelaku.

Lalu saat masuk ke dalam bak mandi, balita yang mencoba mengambil mainan tersebut malah berakhir tragis. Kepala korban ditahan dan terus ditenggelamkan ke dalam bak mandi oleh pelaku hingga tak bernyawa. Saat korban sudah meninggal, pelaku memasukkan jasad korban ke dalam sebuah ember tertutup kain agar tidak terlihat orang tua pelaku dan membawanya ke kamar tidurnya. Awalnya pelaku ingin membuang jasad sang balita, namun dikarenakan takut pelaku memilih untuk memasukkan jasad sang balita ke dalam lemari bajunya. Dengan kata lain, pelaku tidur semalaman bersama korban yang tlah tidak bernyawa.

Keesokan harinya, dengan inisiatif sendiri pelaku melaporkan diri ke Polsek Metro Tamansari, Jakarta Barat. Dia memberitahukan kepada polisi bahwa sudah membunuh seorang anak dan menaruhnya di dalam lemari bajunya. Awalnya polisi tidak percaya dengan perkataan pelaku, namun setelah memeriksa langsung ke TKP pihak kepolisian cukup terkejut.

Dikarenakan usia pelaku yang masih di bawah umur, N akan menjalani proses hukum dengan asas praduga tak bersalah.

Psikopat?

“Ini lagi didalami karena unik. Dia sadar diri dan menyatakan tidak menyesal tapi dia merasa puas,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Heru Novianto pada Jakarta, Jumat (6/3/2020) seperti yang dilansir oleh Indozone.

Selain melakukan olah TKP, polisi meminta bantuan dari psikiater untuk mendalami kasus remaja pembunuh balita ini. Lalu dari kasus ini muncul sebuah pertanyaan yang menjadi paranoid di masyarakat, yaitu, apakah pelaku seorang psikopat?

Sebenarnya banyak aspek yang harus ditelusuri sebelum kita sebagai masyarakat dapat menelurkan judgement seperti itu. Dikarenakan kasus yang luar biasa ini, perlu adanya penanganan secara mendalam, teliti dan hati-hati.

Puncak dari kasus ini ibarat sebuah pohon besar yang secara tiba-tiba saja tumbuh. Penelusuran terhadap semua bagian dari pohon, mulai dari batang, daun, buah sampai ke akar harus dilakukan untuk mengetahui mengapa pohon tersebut secara tiba-tiba tumbuh besar.

Termasuk dalam kasus pembunuh balita ini, sang pelaku yang notabene masih remaja di bawah umur dan dengan pengakuannya yang merasa puas setelah membunuh harus ditangani secara cermat.

Mulai dari latar belakang keluarga sang anak—kebetulan pelaku adalah anak dari keluarga broken-home, lingkungan pertemanan, hingga pengalaman-pengalaman di lingkungannya harus dikupas secara tuntas. Secara eksplisit memunculkan dugaan bahwa sang pelaku mengalami bullying atau kekerasan selama 15 tahun kehidupannya.

Masa lalu yang cukup kelam tentu akan menstimulus pelaku untuk melakukan tindak di luar batas wajar juga. Dan kemudian rekam grafologis sebagai gambaran ungkapan hati dan dugaan peristiwa yang telah dilalui semakin mendorong pelaku untuk melakukan “balas dendam” terhadap perlakuan yang pernah diterimanya.

Terobsesi Film Chucky dan Slenderman

“Tersangka ini sering menonton film horor. Salah satunya Chucky, Slender Man. Film favorit pelaku Slender Man film tentang pembunuhan remaja,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolrestro Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020).

Aksi pelaku saat membunuh bocah 6 tahun juga karena terinspirasi film Chucky—boneka pembunuh yang populer pada tahun 1988, selain itu pelaku juga suka menonton film  Slenderman. Diketahui, film Slenderman menampilkan karakter fiksi ini digambarkan seperti pria bertubuh kurus-tinggi dan tidak berwajah. Makhluk ini mempunyai tentakel dan mengenakan baju hitam dengan dasi merah, dan juga Slenderman umumnya suka menculik atau melukai orang, terutama anak-anak.

Film-film bergenre horor yang mengandung kekerasan seperti Chucky dan Slenderman sudah pasti masuk ke dalam kategori film yang memiliki rating Bimbingan Orang Tua (BO) atau kalau di luar negeri PG-13. Film dengan rating BO dan PG-13 memerlukan pendampingan orang tua karena adanya konten yang dinilai tidak cocok untuk anak-anak.

Misalnya terdapat bahasa, aksi kekerasan, narkoba, hingga yang berbau seksualitas. Bahkan film Joker (2019) yang menjadi favorit penonton sepanjang tahun kemarin menyandang rating Restricted (R) atau terbatas karena dianggap dapat mempengaruhi pikiran dan psikologi orang yang menontonnya.

Hal ini semakin menjadi urgensi kita sebagai orang tua untuk melakukan pengawasan terhadap tontonan anak. Setidaknya orang tua mampu menjadi guru sekaligus regulator bagi anak dengan menjelaskan maksud dari tontonan yang disaksikan. Memberikan batasan bagi anak terhadap apa saja yang boleh atau tidak boleh ditonton dan ditiru dari tontonan tersebut.

Baca Juga: Melihat Kontroversi Foto Tara Basro dari Esensinya, Bukan dari Betapa Menawan Parasnya

Karena, dari apa yang dilihat oleh anak akan sangat besar dampaknya untuk kepribadian, pola pikir, hingga psikis anak dalam bertindak. Alangkah baiknya pengawasan terus dilakukan sampai sang anak mencapai usia yang cukup dewasa—tentu dengan tidak mengekang anak secara berlebihan yang akan berdampak buruk terhadap kondisi psikis anak.

Karena benar adanya teori yang mengatakan bahwa anak adalah peniru yang baik; apa yang anak lihat, apa yang anak dengar dari lingkungan sekitarnya maka akan ditiru oleh sang anak, kelak.

Untuk itu, kembali pada peran orang tua dalam pengawasan tontonan anak. Awasi tontonan anak agar sesuai dengan kategori usia sang anak. Apalagi untuk kasus pelaku N, yang merupakan anak dari keluarga broken-home, yang sangat-sangat memerlukan perhatian lebih dari orang di sekitarnya, terutama keluarga.

Memang, lingkungan di luar lingkungan keluarga masih bisa mempengaruhi sang anak dan kadang luput dari pengawasan.

Namun, secara preventif kita bisa membentuk pola pikir dan kepribadian sang anak dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga; minimal untuk mampu membedakan yang mana boleh dan tidak boleh dilakukan dari apa yang dia lihat dan dia dengar.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.