Rebahanisme Dalam Kaum Rebahan; Paham Baru yang Lahir Dari Manajemen Waktu maha Santuy

Rebahanisme Dalam Kaum Rebahan; Paham Baru yang Lahir Dari Manajemen Waktu maha Santuy

Rebahanisme Dalam Kaum Rebahan; Paham Baru yang Lahir Dari Manajemen Waktu maha Santuy

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

‘Ehem… ehem… ehem…’

Thexandria.com – Oke, markimul (mari kita mulai), belakangan ini, berbagai platform social media telah diramaikan dengan berbagai lelucon terkait dengan kaum-kaum rebahan.

Apa itu kaum rebahan? Kaum rebahan adalah orang-orang, mostly anak-anak muda, yang separuh waktunya, di anggap ‘do nothing’, lenye-lenye di atas kasur AKA rebahan.

Tak jarang, kalimat sakral yang mengklaim bahwa seseorang, yang mengadakan janji temu, tengah berada di jalan menuju tempat bertemu, atau populer disebut ‘otw’, lahir dari nikmatnya rebahan.

Baca Juga Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Dengan kata lain, kaum rebahan, dapat dengan mudah, berbohong berkilah dari realitas kemalasan yang menimpanya, alias, hancurnya manajemen waktu.

Rebahan, juga sangat diglorifikasi dalam banyak jokes wabilkhusus di republik twiter dan instagram, yang secara langsung atau tidak langsung, mem-framing kaum-kaum rebahan di dunia nyata, bahwa hidup adalah sebuah sikap, gue ulangin, s-i-k-a-p dan yang paling brainwash adalah, TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN REBAHAN!

Ya, gue serius, munculnya ‘tsunami’ jokes tentang rebahan, alih-alih membuat sadar akan manajemen waktu yang menjadi kacau, jokes rebahan malah membuat pelaku-pelakunya termaklumi secara paripurna.

Menjadi Sebuah Paham Baru

Sub judulnya mungkin terdengar sangat serius dan cenderung akademis, namun sejujurnya, tidak juga.

Begini, -isme adalah sebuah paham, yang lahir dari sebuah pemikiran filosofis atau sebuah teori-teori yang berusaha, menjelaskan berbagai fenomena yang banyak terjadi, dan tentunya, diyakini oleh para penganutnya.

Lalu jika gue , menambah kalimat -isme didalam kata rebahan, apakah lantas menjadi sebuah paham baru? Jawabannya “iya”, namun, hanya dalam konteks guyon.

Dikarenakan masifnya para pelaku rebahan, atau yang sekedar simpatisan, menjadikan rebahan menjadi sebuah paham baru, yang secara tidak sadar, lahir dalam sebuah fenomena yang sebetulnya bukan hal baru.

Rebahan juga turut dianjurkan, jika kita sedang dalam kelelahan atau kepenatan atau malah kegabutan yang spektakuler, berangkat dari premis ini, timbulah sebuah anekdot yang mengatakan bahwa, ‘tidur yang paling nikmat adalah tidur tanpa kesengajaan’, yang dengan kata lain, berawal dari rebahan juga.

Baca Juga ‘Laki-laki Dapat Jatuh Cinta dalam Tempo yang Sesingkat-singkatnya (Seminggu)’

Memang gue akuin, di tulisan ini terdapat sebuah kontradiksi, dimana di atas gue katakan bahwa rebahan, adalah hasil dari manajemen waktu yang kacau. Tetapi, apakah itu semua salah? Tentu tidak, kebenaran itu relatif, semua tergantung sudut pandang.

Some People Bilang, Kaum Rebahan ‘Do Nothing’

Tiba waktunya gue harus jujur, untuk menutup narasi ini, gue mau jujur, kalau sebenarnya gue adalah, one of them (kaum rebahan).

Cheers!

Ya–selayaknya kaum muda masyarakat Indonesia, gue juga seringkali terjebak menikmati rebahan, lenye-lenye di kasur, menghayal, dan bilang otw ke teman.

Beberapa orang, beranggapan bahwa rebahan adalah sebuah kegiatan yang tidak produktif sama sekali, dan itu lebih jahat dibanding ‘manajemen waktu yang kacau’.

Stereotype yang muncul, menghasilkan narasi komparatif yang menyebalkan, lantas menjadi ‘si produktif’ vs ‘si tidak produktif’, ‘si rajin’ vs ‘si malas’, dan ‘si tidak rebahan’ vs ‘si rebahan’.

Ini harus dikonfirmasi lebih jauh, dan kalau perlu kita mem-pledoi masing-masing diri, melawan ‘tirani’. Siapa yang tirani? Si produktif, si rajin, dan si tidak rebahan.

Mengapa harus ada sekat? Hanya karena rebahan itu nikmat?

Mengapa harus diseriusin? Kalau bisa di santuy-in?

Baca Juga Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Untuk menjawab tudingan bahwa kaum rebahan itu do nothing, gue kasihtau, ya… imajinasi, lahir dari sebuah pikiran liar nan absurd, dan itu semua memerlukan keadaan yang sangat reflektif, yang hanya bisa ditemukan lewat rebahan.

Thexandria.com, awal pemikirannya juga lahir disaat gue rebahan dan emang do nothing, namun justru, di titik itu, imajinasi gue melahirkan sebuah keberanian untuk do something!

Hingga sampailah kita semua di artikel ini, di website ini, yang semuaynya berawal dari gue, si kaum rebahan.

Jadi apakah kita harus bangga sebagai kaum rebahan? Jawabannya, Ya! JIKA, kita mampu mengolah kenikmatan rebahan, yang dari do nothing, menjadi do something.

Rebahan memang bukan suatu kondisi yang tepat untuk mengeksekusi sebuah ide, tapi rebahan dapat menjadi embrio dari langkah konkret kita ke depan.

Sumber Foto: Al Fikrie

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.