Reality Club-2112 Music Video; Balada Mendalam Kisah yang Tak Berakhir Indah

Reality Club-2112 Music Video; Balada Mendalam Kisah yang Tak Berakhir Indah

Reality Club-2112 Music Video; Balada Mendalam Kisah yang Tak Berakhir Indah

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Karya mereka bisa diklasifikasin ke dalam kategori “mahal”, karena jarang sekali menemukan atau bahkan sulit untuk diterima di Indonesia, band dengan aliran semacam ini.

Thexandria.com – Reality Club selalu memanjakan telinga dan menjadi salah satu media relaksasi ketika saya sedang sumpek. Dimulai ketika pertama kali saya mendengarkan hits mereka di album “Never Get Better”, yang menjadi teman setia saat zaman skripsian dulu—maaf seribu maaf saya tidak menyisipkan Reality Club ke lembar ucapan terima kasih.

Ya, seluruh hits di album itu sangat-sangat sesuai dengan gendang telinga, siang-malam, jatuh-bangun, sampai ramai-sendiri dominan saya mencampuri segala perasaan dengan karya mereka.

Paling membekas adalah salah satu hits bertajuk “Mentor” yang menjadi ‘cambuk’ ketika menapaki jalan terjal pada saat zaman skripsian.

Karya mereka bisa diklasifikasin ke dalam kategori “mahal”, karena jarang sekali menemukan atau bahkan sulit untuk diterima di Indonesia, band dengan aliran semacam ini. Lantunan yang kiblatnya mengarah ke band-band internasional sejenis The Strokes, Last Dinosaurs dan Arctic Monkey memang memiliki ‘pendengar khusus’ yang tidak semua orang dapat menikmatinya.

Baca Juga Tumbuh di Era ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Kukatakan Dengan Indah’, dan ‘Langit Tak Mendengar’

Hal-hal di atas belum ditambah dengan personalia dari para personelnya. Paling menonjol adalah sang vokalis, Fathia “Kittendust” Izzati yang menjadi sinar setiap Reality Club mentas dari panggung ke panggung.

“Gue pen liat Kittendust.” ujaran tersebut yang selalu saya dengar menjadi alasan beberapa teman untuk menyaksikan Reality Club.

Ya, wanita hampir se-sempurna Kittendust selalu menyihir beberapa pria, selain cantik doi juga terkenal pintar yang semakin membuat para pria menjadi penggemar beratnya. Fathia Izzati, memang bukanlah sosok asing di dunia maya.

Doi memang terkenal sebagai “kittendust” di segala lini masa jejaring sosial. Tapi tidak hanya sampai di situ, daya tarik Reality Club tak hanya karena vokalisnya adalah seorang content creator di YouTube.

Personel lainnya yaitu Faiz Novascotia Saripudin (gitar, vokal), Nugi Wicaksono (bass), Iqbal Anggakusumah (gitar), dan Era Patigo (drum) juga memiliki porsi yang proporsional dalam membangun Reality Club.

Baca Juga: Rizky Febian “Tak Lagi Sama”, Mengajak Kita Belajar Kembali Mengenai Komitmen

Faiz merupakan komandan dalam penyusunan aransemen lagu dibantu penulisan lirik ditambah pengisian instrumen oleh Fathia, Nugi, Iqbal, dan Era Patigo. Puncaknya adalah pada saat mereka berhasil meraih beberapa pengahrgaan yang prestisius.

Album “Never Get Better” mendapatkan dua nominasi di AMI 2018 untuk kategori ‘Pendatang Baru Terbaik’, dan ‘Karya Produksi Alternatif Terbaik’. Album ini juga mengantarkan mereka tampil di Asian Music Junction, Tokyo, Jepang dan live on air di TBS Radio Japan.

Music Video 2112 yang Menghanyutkan

Pada Sabtu, (21/12) Reality Club merilis Music Video untuk hits berjudul sama dengan tanggal perilisan “2112” dari album terbaru mereka “What Do You Really Know?”.

Secara materi, apabila mendegarkan 2112 hanya secara audio saja masih akan samar makna dari setiap lirik-liriknya. Namun MV ini hadir secara visual menggambarkan setiap makna dari lirik di dalamnya, dan semakin menjustifikasi betapa peliknya percintaan ketika masa muda.

Adegan dibuka dengan sepotong kue ulang tahun yang berhadapan dengan seorang nenek yang gayanya bisa dikategorikan ‘gaul’. Di seberang meja sang nenek, terdapat juga seorang kakek memakai kemeja dan berkacamata sedang berbincang dengan sekelilingnya. Namun secara mendadak, suasana berganti dan bahkan menjadi kilas balik ke masa muda mereka berdua.

Baca Juga Oasis Bukan Sekedar Band, Tapi Sebuah Kultur!

Pada MV itu, kedua remaja ditampilkan sedang mabuk-mabuknya mengarungi kisah percintaan mereka. Prinsip kebebasan yang mereka terapkan memungkinkan mereka untuk menikmati masa muda dan percintaan mereka untuk melakukan apapun yang mereka sukai.

Di sini juga diilustrasikan bagaimana sebuah hubungan percintaan memang tak akan lepas dari yang namanya dinamika, mulai kemesraan hingga pertengkaran pun tak bisa dihindari.

Pada pertengahan lagu, adegan konflik pada pasangan muda ini mulai ditampilkan. Beberapa gestur pertengkaran dan juga latar belakang cerita memberikan sinyal adanya banyak perbedaan diantara mereka, mulai suku sampai agama mereka.

Hal tersebut menjadi konflik dan pertengkaran yang kemudian berujung kandasnya hubungan mereka yang gagal untuk terus bersama hingga masa tua.

Kembali mengingat di awal MV 2112 Reality Club, ditampilkan seakan sang nenek dan kakek duduk berhadapan untuk merayakan ulang tahun bersama. Namun, fakta tersebut terpatahkan di adegan akhir video. Saat sorotan kamera semakin lama lebih menjauh, terlihat sebenarnya sang nenek dan kakek duduk di meja yang berbeda namun tetap saling berhadapan.

Masing-masing mereka duduk bersama dengan anak masing-masing sedang menikmati makan malam. Gambaran tersebut makin mempertegas bahwa keduanya kini telah memiliki kehidupan yang berbeda dengan keluarganya masing-masing.

Baca Juga: Good at Falling, The Japanese House; Album yang Membuat Saya Jatuh Cinta Sejatuh-jatuhnya

Pada akhirnya, sang kakek bersama anaknya berdiri meninggalkan meja dengan satu adegan yang cukup mengharukan. Sebelum pergi meninggalkan restoran, sang kakek dan sang nenek saling bertatapan dengan tajamnya.

Hal tersebutlah yang membuat MV 2112 dari Reality Club ini dianggap cukup menyentuh hati. Dimana sang kakek sempat beberapa detik terpaku melihat kebelakang dan menatap sang nenek dengan gesture seperti seseorang yang sedang rindu berat.

Pada saat yang bersamaan dipertontokan flashback ketika mereka muda, dimana sang nenek yang pada saat itu masih muda meninggalkan sang kakek karena keyakinan mereka yang berbeda.

We were young and we were old

Life was warm then life was cold

It gets harder, yes you’ll see

But were we ever meant to be?

Sumber Foto: Instagram @RealityClub

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.