Rapper Asia dalam ‘Cengkraman’ Apropriasi Budaya dan Sensitifnya N-words dalam musik Hip-Hop

Rapper Asia dalam 'Cengkraman' Apropriasi Budaya dan Sensitifnya N-words dalam musik Hip-Hop

Rapper Asia dalam ‘Cengkraman’ Apropriasi Budaya dan Sensitifnya N-words dalam musik Hip-Hop

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Semalem secara tidak sengaja gue nonton liputan Vice Indonesia tentang para rapper Asia yang ‘mencari tempat di pusat musik hip hop’, Amerika Serikat, serta stigma orang-orang kulit hitam tentang bagaimana para rapper Asia ini dianggap ‘kehilangan identitas’.

88rising dan $tupid Young menjadi subjek untuk melihat ini semua lebih jauh.

88rising, sebagai label, manajemen artis, dan juga platform media bagi beberapa musisi rapper asia, seperti Rich Brian dan Joji, bagaimanapun telah mengguncangkan jagad musik dunia, keduanya memuncaki tangga lagu billboard Amerika.

Namun kali ini kita fokus ke skena musik hip hop. Rich Brian, seorang rapper berusia muda asal Indonesia, kala itu muncul dengan sebuah video musik viral di youtube, dengan lagu berjudul dat stick, sukses mengantarkan dia dikenal oleh banyak orang, kita takkan lupa bagaimana seorang anak muda mengenakan t-shirt polo pink, menyanyikan rap nya dan berujung pada respon positif mayoritas pendengar, gue mengecualikan masyarakat Indonesia yang over proud, itu menjijikan.

Namun ternyata, seiring meroketnya Brian kala itu, diwaktu bersamaan, ia juga mendapatkan polemik, dikarenakan namanya, Rich Brian yang sebelumnya menggunakan nama Rich Chigga, dikritik abis-abisan, dianggap bertindak rasial, ‘chigga’ akronim dari Chinese Nigga, menyisakan stigma negatif bagi beberapa kalangan, khususnya orang-orang kulit hitam di Amerika, empunya musik hip hop.

Brian pun lekas mengganti nama panggungnya setelah ia memutuskan hijrah ke Amerika dan mulai fokus menggarap musiknya.

Kemudian ada $tupid Young, rapper berdarah asli Kamboja namun sejak lahir menetap di AS. Ia tumbuh dilingkungan imigran Kamboja, membaur dengan masyarakat asli sekitar, yang mayoritas orang-orang kulit hitam dan mempunyai kultur hip hop yang kental.

$tupid Young tak berafiliasi dengan 88rising, ia adalah anggota geng Crip, dipenjara sejak remaja, dan mendapat respect dari teman-teman kulit hitam sewaktu di penjara. Kini, ia juga muncul sebagai rising star di skena musik hip hop Amerika. Lingkunganya menerima ia sepenuhnya, tak mempermasalahkan musiknya, apalagi ras nya.

$tupid Young mengklaim, bahwa ia tak lagi dilihat sebagai ‘pendatang’ ataupun warna kulit, ia merasa tumbuh, muda, dan nakal di Amerika, tak ada yang bisa menghentikannya.

Lirik yang Dipermasalahkan dan Apropriasi Budaya

Baik Rich Brian maupun $tupid Young, tak semerta-merta melenggang keren diatas popularitasnya. Banyak komunitas hip hop di Amerika, yang mempermasalahkan penulisan lirik mereka.

Muasalnya tak hanya karna mereka ‘bukan orang kulit hitam’, namun juga karna penggunaan kata N-words (red: nigga/negro) dalam lirik lagu-lagu mereka.

Dalam tayanganya, Vice mencoba bertanya pada Ebro Darded–seorang pembawa acara radio pagi Hot 97 dan kepala editor hip hop serta R&B Apple Music Global.

Ebro Darded mengkritik keras dan tidak bisa menerima adanya sekelompok orang-orang asia, menyanyikan hip hop dengan menyebut kalimat n-words, baginya, telah terjadi penyalahgunaan kultur dan penyelewengan nilai-nilai budaya yang fatal.

Hasilnya adalah rapper asia melakukan apropriasi kultur, atau dengan kata lain, ‘meminjam’ atau ‘menggunakan’ atribut-atribut kelompok minoritas, dalam hal ini, kulit hitam Amerika.

Mengapa hal ini begitu penting? Gue coba bantu jelasin, musik hip hop, lahir dan berkembang dari tindakan diskriminasi ras terhadap warga kulit hitam Amerika, lebih dari itu, hip hop bermetafora menjadi sebuah ‘instrument perlawanan’. Maka make sense, bila orang kulit hitam AS mengklaim jika hip hop adalah milik mereka.

Baca Juga: Dialog Tertulis, Berbagi Perspektif dengan Pelakon Seks Bebas: Seberapa Penting Sexual Consent Baginya?

Mungkin beberapa orang akan membenturkan muasal hip hop dengan musik sebagai bahasa universal, the thing is, hip hop adalah bentuk perlawanan ras, bukan semata-mata ‘penghias hidup’.

Pada akhirnya, kita akan menyadari, bahwa bentuk kehati-hatian kita mengekspresikan diri, akan terbentur dengan nilai-nilai budaya atau kultur yang kental, Rich Brian dan $tupid Young dijadikan contoh, karna nama mereka yang besar.

Perspektif apropriasi budaya, kini mulai tumbuh pesat di Amerika, yang lantas, bisa saja ‘mencengkram’ nilai-nilai seni di atas segala-galanya. Meskipun belum sepopuler feminisme, apropriasi budaya jelas menghadirkan dilematis baru dalam kondisi sosial manusia di era globalisasi.

Lalu bagaimana dengan rapper Indonesia? Yang dengan lantang dan mudahnya menggunakan n-words dalam lirik-lirik mereka?

Think again.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.