Rangkaian Puisi ;Tentang Gadis Kecil, Keparat, dan Kasur

Rangkaian Puisi ;Tentang Gadis Kecil, Keparat, dan Kasur

Oleh Suci Jayanti Tadjri

Gadis Kecilku

Gadis kecilku

Bola matamu begitu redup

Kantung matamu tampak hitam dan penuh

Kerutan di dahimu mengapa teramat berseru?

Apa yang kau pikirkan, gadis kecilku?

Ceritalah padaku

Apa yang mengoyak-ngoyak isi kepalamu?

Bukankah kau hari ini bersenandung riang dan riuh?

Mengapa kau mendadak memutar Sampai Jadi Debu?

Ada apa denganmu?

Bersandarlah, kau boleh memelukku jika kau mau

Aku ingin tahu apa saja yang membelenggu isi kepalamu

Tidak perlu sungkan padaku

Karena kita sama-sama tahu

Karena kita sama-sama punya hati satu

Dan isi kepala yang seirama juga menyatu

Hatimu yang tercabik, bagaimaana dengan hatiku?

Kepalamu yang terkoyak—begitu pun aku

Karena kau, gadis kecil; adalah diriku

Maka aku tidak ingin ada bagian dari tubuhmu yang membiru.

Suci Jayanti

Seperti Keparat

Api sedari tadi telah membara

Ingin rasanya merebahkan tubuh di atas sana

Setelah seharian terombang-ambing berbagai rasa

Ternyata ia belum musnah juga

Di tengah padang massa

Penyumbat telinga hanya berperan pura-pura

Meskipun volume musik begitu keras bergema

Tetapi mata tidak bisa bersekongkol dengan saksama

Lalu, orang-orang mulai bertanya-tanya

Jawab mereka atau seharusnya tidak keluar rumah saja?

Apa yang harus dijawab jika pertanyaan melulu tentang dunia mereka?

Sudahlah, bersikaplah ramah

Mungkin tadi hanya dirimu yang bertanya-tanya apakah kau ada atau tidak?

Bukan mereka

Boleh dibilang hari ini kau sangat jahat

Peduli dan senyumanmu tertutup oleh sekat

Tidak mau tahu jauh atau dekat

Hari ini kau sangat jahat, maunya sendiri saja dan sulit untuk terikat

Pulanglah, kamar adalah rumah yang tepat

Menangislah sekencang-kencangnya sampai jam empat

Lalu tidur—tidak perlu bangun cepat-cepat

Istirahat yang cukup dan makan makanan yang sehat

Terima kasih, kemarin kau sudah berusaha begitu keras agar tidak terlihat seperti seorang keparat.

Suci Jayanti

Kasur

Ia membalut dirinya sendiri

dari rayap yang menggerogoti tubuhnya,

dari luka peluru di kedua telinga bertahun-tahun lamanya,

dari gemerlap tancapan beling di matanya yang kaulihat sempurna—kaukira permata.

Yang kauanggap aman,

yang kauanggap nyaman,

yang kauinginkan sebagai sandaran—

pun berpadunya dua insan.

Oh, sayang,

ia hanya menjelma diri

membentuk segi panjang sama sisi,

berbalut seprai warna-warni—

lembut dari atas sampai kaki.

Suci Jayanti

Baca Juga: Perihal Perkara Rasa yang Menyelinap di Pengadilan

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.