Rangkaian Diksi Kedua Dari @zein_lich

Rangkaian Diksi Kedua Dari @zein_lich

Rangkaian ku yang tetap hidup bersama bara-ku.

By @zein_lich

API-API

Tradisi liar oposisi nalar

Jiwa-jiwanya terjual digenggam tangan api

Melantunkan nada merdu di telinga api;
memperagakan tari api, raganya disusupi;
dan sisa malam jadi sarana memakani perut api.

Oh, dan tubuh-tubuhnya akan tertimbun

Lalu sang api menegur, “Bukan salahku, mereka lemah untuk disesatkan.”

Dan digilas pikirannya dengan pertanyaan-pertanyaan

Menghambur sisa kepedulian atas penciptanya

Lalu bergabung dalam lubang jahanam dengan pendiri tradisi yang ia yakini

Sang idola tertawa, “Kau garis keturunan terbodoh meski berakal lebih.”

Oh, dan mereka semua tertawa

Di antara api-api yang meraung kesal

Otak-otaknya dijadikan-Nya berakal

Tapi buta untuk memilah kebenaran

Oh, dan mereka menangis mengais-ngais: ampun,
sejadi-jadinya;
sekeras-kerasnya

Tapi api tak peduli

Mereka bersama abadi

Di api-api.

POHON

Keindahan dibuat-buat meratakan alami

Aku mengutuk keparat

Tapi sayang, bangsat!

Tak ada yang mengamini.

Ke mana pohon-pohonku;
di mana kasih sayang manusia-Mu?

Sedang kami makan dari ranting kayu
jatuh yang terlantar di ambil ibu;
menjadi abu
tumbuh kembali seiring waktu.

Sedang kami ingin bernapas

Jadi sesak mesin peroboh merampas

Tak dihijaukan lagi-
lagi hanya jadi ampas

Gedung-gedung mengambil tugas menaungi panas.

Para ibu melahirkan benih

Jadi dewasa menggasak benih

Bila tak hancur duniaku

Akan jadi mars pulauku

Penuh,
sesak,
kekurangan pasak,
kelebihan keluh.

KHILAF

Ini hari di mana aku lupa mematikan api di pematang sawah, sebab malamnya aku telah bercinta selama itu

Mengirimkan kepul asap yang meluncur vertikal dan horizontal, jika langit tak bisa menangis, aku yang pasti menangis

Dan aku meringis,
karena demikianlah aku tak sanggup menghalau nafsuku

Jadi biarlah sawah ini terbakar bersamaku.

Sumber Gambar: Google

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.