Rangkaian Diksi dari Suci Jayanti Tadjri

Rangkaian Diksi dari Suci Jayanti Tadjri

Rangkaian yang hanya sekadar terangkai, tak tersampaikan.

Oleh Suci Jayanti Tadjri

BUKAN LAGI RUMAH

Ada kata yang tak sempat aku ucapkan pada bantal kusut bekas kepalamu;

tenangkah tidurmu disaat isi kepalamu berontak tak menentu?

Pun sentuhan yang tak sempat aku sentuh pada baju yang kaukenakan,

apabila sempat; aku hanya ingin memohon pada baju yang kaukenakan—agar mengusap dadamu pelan-pelan saat batuk hebat melanda.

Juga kepada sepasang kaus kaki warna-warnimu; aku mohon, kaus kaki warna-warni, hangatkan kedua kaki itu—lindungi dari alergi yang mengganggu tidurmu.

Karena aku sudah tidak bisa mandi,

aku juga tidak bisa merebahkan diri,

bahkan menyeruput air putih di pagi hari pun aku sudah tidak bisa lagi.

Suci Jayanti Tadjri
Samarinda, 14/09/19

KELANA

Bertemankan aspal jalanan,

debu dan ranting-ranting pohon yang bercumbu—

dengan sekantong roti yang aku ambil dari lemari pendinginmu berbulan-bulan yang lalu.

Kubagi pada orang-orang yang tengah gusar, menunggu,

berlalu-lalang di depanku atau sekadar menyapa “hai” dikala kelabu haha hihi di telingaku.

Namun, semakin hari, roti yang aku ambil darimu perlahan habis.

Tapi aku ingat sekantong roti lagi di saku kiriku—roti manis,

ibu yang memberiku sejak pertama kali aku menangis.

Roti buatan ibu tidak pernah menipis bahkan disaat aku memakannya berkali-kali ditemani bengis.

“Jangan terlalu banyak berharap apa-apa,
anakku Kelana..”

“..selai yang manis akan membalut rotimu pada waktunya.”

Suci Jayanti Tadjri
Samarinda, 8/10/19

TUJU

Kutemui simpangan penuh orang-orang berpakaian lusuh penuh tuju;

ada anak sekolah yang menawarkan sebotol air putih,

laki-laki berkulit cokelat menawarkan sebungkus nasi,

perempuan berambut pendek menawarkan bolu berisi blueberry,

laki-laki berperawakan tinggi menawarkan segelas sampai belasan kopi,

hingga teman-teman lama yang menawarkan kemaluannya sendiri.

Beberapa orang lainnya hanya duduk-duduk,

terselip ragu yang mungkin didasari pilu.

Jelas sekali sayatan sana-sini menghinggapi tubuh-tubuh itu.

Namun, satu sosok yang membuatku terpaku—sosok yang berseru getir berhati-hati membawa setengah botol selai jambu.

Botolnya terlihat hampir tumpah—rapuh.

“Aku punya roti buatan ibu, kamu mau?”

Sebelum aku menyadari—ada tangan-tangan lain yang membantunya memegang botol selai jambu.

Suci Jayanti Tadjri
Samarinda, 8/10/19

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.