Hujan Juni dan Payung Pak Sapardi

Hujan Juni dan Payung Pak Sapardi

Hujan Juni dan Payung Pak Sapardi

Oleh Rizaldi Dolly

Petikan gitar dari pengamen jalanan yang berteduh di depan warteg berdema di pojok Senayan dekat gedung Sekolah Deplu

Ia nyanyikan lagu Jason Ranti, dengan suara parau, “berlayar ke Depok di waktu pagi hari, sambil menulis, lirik untuk lagu pop”

Luapan manusia-manusia kantoran berjubel memasuki busway. Antara penat berbagi oksigen, atau keder diceramahi atasan lantaran telat

Sementara si anjing itu! Tuna asmara bermodalkan patah hati yang ia museumkan di hatinya, mengaduh ke awang-awang

“Dasar perempuan jalang!”, teriaknya menunjuk petir yang sekelibat berdansa macam parlente

Ia membasuh sekujur tubuh mudanya yang enggak kekar-kekar amat—dengan hujan deras yang membuat pengamen di cerita yang lain tadi berteduh

Harusnya… harusnya basuhan hujan mendinginkan hatinya yang kelewat terbakar, bukan?

Tapi tidak. Ia masih saja menyumpahi perempuan yang dikasihinya dengan berjuta umpatan yang andaikata orang-orang mendengarnya, bergidik!

Ia sudah seperti banteng yang terluka, mengamuk tanpa memandang suasana, hantam apa saja!

Di cerita yang lain, pengamen tadi semakin hanyut dalam nyanyiannya, “aku tak ingin menangis, menerka gerimis, disepanjang lorong itu aku tak ada nyali, oh, Pak Sapardi… aku ingin ngopi, dengan sederhana di bulan Juni”

Perempuan yang membuat pria muda tadi lagak orang gila, adalah mahasiswi (manis-incaran-semua-cowok) di kampus ternama se-Indonesia di Depok

Rupawan, manis, rambut panjang, mata indah bola pimpong kalau kata Iwan Fals!

Sementara dirinya… pria itu memandangi dirinya lekat-lekat seolah ada sebuah cermin di depan dirinya. Sudah cukup gila, belum?

Ia mendapati dirinya yang basah kuyup, urakan, tak jelas masa depannya

Maka makin ambruklah dunia dalam matanya

Kehidupan dan cinta. Baginya sudah bersekongkol untuk membunuh karakter dan karirnya sebagai m-a-n-u-s-i-a

Maka buat apa lagi menghembuskan nafas?

“Dengan murid cantikmu di UI” bukan main. Suara pengamen tadi makin kencang saat ibu yang punya warteg menyuguhkan segelas kopi hangat gratis!

Berbanding terbalik, si pria tuna asmara tadi menggerakkan kakinya menuju lalu lintas yang ramai, targetnya adalah jalan raya yang tak jauh dari tempatnya, targetnya adalah mobil-mobil yang berkecapatan 60-80 km/jam!

Maka buat apa lagi menghembuskan nafas?

Saat gelap pikirannya, lebih gelap dari mendung yang menghujankan Jakarta hari itu, di Juni itu

Seorang kakek berjalan menyeimbangi deru langkah si pria, lalu mereka beriringan, sebuah payung membentang diantara mereka

“Menyematkan cinta disegala penjuru kesunyian adalah keluhuran para ksatria, nak”

“Hujamlah dunia laksana hujan, di bulan Juni, yang tulus hanya ingin menyemai mereka-mereka yang sudah atau akan mati”

“Nama saya Sapardi, dosen di UI”, kakek tersebut tersenyum memandang hujan

Baca Juga Pemintal Sepi

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.