Public Display of Affection, PDA Ini Loh Mesra

Public Display of Affection, PDA Ini Loh Mesra

Public Display of Affection, PDA Ini Loh Mesra

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Katanya cinta itu kebebasan! eh tapi siapa sih bajingan yang mengatakan cinta itu pengorbanan? Terserah deh kamu pilih yang mana, kebebasan atau pengorbanan, yang jelas sekarang saya gak akan bahas keduanya.

“Lah ngapain disebut kalo gamau dibahas malih. Kebiasaan deh” kata seorang teman sambil ngegas.

Ampyunn guys, baru mulai kok udah curhat ya aku sering di gas. Tapi kan bebas toh saya yang nulis kan? please maklumin ya, habis diomelin emak soalnya disuruh mandi, apasih. Yaudah deh kita lanjut ke ceritanya.

Supaya tidak mengawang-ngawang sebaiknya lebih dulu kita pahami bersama tentang PDA maka saya akan memberi gambaran tentang PDA dan apa saja sih bentuk-bentuk PDA yang sering terlihat di keseharian kita?

PDA atau Public Display of Affection adalah sikap menunjukan kemesraan di tempat umum baik di kehidupan nyata maupun melalui sosial media. Hayo sampai disini saya yakin sudah ada yang ngebatin terus bilang dalam hati “artikel ini keknya ngebahas gue?”

Gampangnya sih PDA itu kalau kamu sering lihat gaya pacaran anak muda yang suka gandengan tangan, rangkul, peluk, cium kening hingga mojok dan grepe-grepe. Wadoh yang terakhir ini cukup extreme sih, soalnya bahaya kalo ketahuan polisi moral, bisa jadi kamu diarak keliling sama mereka sambil direkam.

Atau pakai baju couple, kalau di sosial media suka share foto lagi “mesra”. Jika boleh berandai-andai seakan mereka bilang hey ini pacarku, atau heh kita ini pasangan loh, atau yang terakhir hey kita ini hubungannya serasi banget loh, romantis. Dan banyak lainnya, terserah kalian ingin berandai-andai seperti apa. Tapi si pasangan PDA ini bisa saja kan sebenarnya hanya tulus ingin bebas mengekspresikan kasih sayang mereka.

Padahal ya menurut saya para pelaku PDA ini mereka gak salah apa-apa loh. Setidaknya mereka itu jujur dengan diri mereka, daripada terlihat kalem tapi sering check in tiap malem.

Sekali lagi menurut saya sih, para pelaku PDA ini gak salah kok. Mereka kan hanya mengekspresikan bentuk kasih sayang mereka. Mungkin karena tempatnya yang di publik yang notabene banyak orang bisa lihat maka secara otomatis ada banyak orang yang ngiri karena melihat mereka bermesraan.

Padahal yang melihat Public Display of Affection ini biasa-biasa saja kan juga ada. Mungkin karena dominasi oleh orang yang tidak sepakat melihat PDA akhirnya hal ini menjadi terkesan negatif. Duh makanya cari pacar atuh jangan jomblo wae, kecuali anda kuat lahir batin.

Saya melihat mereka yang resah terhadap perilaku PDA ini biasanya karena terpengaruh oleh kultur yang kuat dan secara otomatis karena perbedaan kultur hal itu menyebabkan kadar penerimaan yang berbeda-beda pada setiap orang di setiap tempat.

Makanya ada menganggap PDA itu biasa saja, ada pula yang melihatnya sebagai pelanggaran dan ada pula yang menentang keras.

Baca Juga: Seikat Kisah Ringkas Gulungan Pertama; Cerita yang Jarang Dibahas Orang

Tapi kalo kamu sudah punya pasangan dan tetap meresahkan kelakuan mereka. Fix ini sih ngiri. Makanya romantis dong sama pasanganmu! Gak deh bercanda, nanti seorang teman yang ada di awal cerita ini ngegas lagi ke saya.

Beneran deh menurut saya bagi mereka yang melakukan PDA itu gak salah, sudahlah biar saja toh itu hidup mereka dan gak ganggu kita juga kan. Kalaupun kamu merasa terganggu mungkin kamu perlu mengevaluasi diri supaya lebih santuy. Mungkin kamu harus mencoba menyelami pemikiran mereka yang sangat mencintai pasangannya sehingga mereka menunjukannya kepada dunia dengan cara mereka.

Terakhir, pesan untuk para pecinta di luar sana, biar saja kamu bebas menunjukan rasa sayang kepada pasanganmu, tapi mengingat perbedaan kultur yang ada di lingkungan kita maka kamu juga harus siap apabila menjadi bahan omongan, atau buruknya disamperin sama polisi moral. Pun untuk di sosial media, terlalu sering menunjukan kemesraan disana juga bisa bikin orang lain jadi jijik loh. Bukan saya ya, sekali lagi saya tuh santuy.

Tapi ada baiknya kamu perlu melihat situasi dan kondisi tentang seberapa jauh penerimaan yang bisa diterima oleh lingkunganmu terhadap Public Display of Affection, kecuali kamu sudah siap mental lahir dan batin.

Hidup para pecinta, gaskeun aja!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.