Problematika Negara dan Panggung Sandiwara

Problematika Negara dan Panggung Sandiwara

Penulis Sulthan Ibn Alimuddin | Editor Rizaldi Dolly

Ekonomi Indonesia tahun depan diproyeksikan masih sangat berat untuk lepas dari pertumbuhan 5,..%. Bahkan beberapa kalangan meramal akan turun ke angka 4%. Penyebabnya, resesi ekonomi global yang terjadi akibat dua poros sedang terlibat perang dagang; USA VS Tiongkok.

Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China menjadi penyebab lemahnya ekspor RI. Tidak hanya RI, banyak negara terkena dampak dari perang dagang dua raksasa ekonomi dunia ini yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan pertumbuhan ekspor global tahun ini hanya 1,2%. Melambat dibandingkan proyeksi yang dibuat pada April yaitu 2,6%.

Sementara itu konsumsi pemerintah, penyumbang PDB terbesar ke-empat, hanya tumbuh 0,98% pada kuartal III-2019. Jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 8,25% dan periode tahun sebelumnya yaitu 6,27%.

Dengan pelambatan-pelambatan yang terjadi, maka pantas saja pertumbuhan ekonomi terus melambat.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin melambat.

Untuk diketahui, sekuritas-sekuritas besar berbendera asing kini memproyeksikan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh di bawah 5% pada tahun 2019.

Melansir konsensus oleh JPMorgan Chase, mereka memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9% pada tahun ini, sementara Deutsche Bank menaruh proyeksinya di level 4,8%.

Ditengah kondisi yang sedang kurang namun dipaksa pas, pun ramalan minor kedepan. Negara dan penyelenggaranya dituntut untuk tetap menebar optimisme. Bukan pekerjaan mudah.

“Bagi siapapun, resesi tentu akan menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan. Terlebih bagi negara yang masuk dalam golongan berkembang seperti Indonesia. Sebab investor akan coba menahan atau membatasi diri untuk mengelontorkan uang dalam berinvestasi”, ucap seorang teman.

Dilain sisi, kata teman lainnya, “proyeksi era ekonomi 4.0 yang sering diistilahkan “revolusi industri” juga meramalkan; bahwa dalam 5 tahun kedepan 35% pekerjaan yang biasa dilakukan oleh manusia akan diambil alih oleh kecanggihan teknologi.”

Kita telah tiba di era big data, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), robot, otomatisasi dan machine learning. Mereka telah masuk ke setiap segi kehidupan dan mereka akan menjadi bagian integral peradaban manusia.

Pada abad ke-19, sebanyak 80% pekerja Amerika Serikat (AS) bekerja di bidang agrikultur. Hari ini, hanya 2% bekerja di bidang yang sama.

Dua dekade lampau, mungkin hanya segelintir individu yang memiliki komputer dan telepon genggam. Hari ini, hampir setiap orang memiliki dan digunakan setiap hari.

Hal yang sama sedang terjadi saat ini. Otomatisasi akan menjadi bagian dari arus tengah hanya dalam beberapa tahun ke depan.

Teknologi mengubah cara kerja manusia. Seperti dulu ketika mesin ketik manual meraja. Saat itu setiap helai kerja perlu diketik satu per satu. Kini, hanya dengan sentuhan-sentuhan ringan di keyboard laptop, pekerjaan dapat diselesaikan.

Ketika mesin faksimile masih digunakan, transmisi informasi dilakukan satu per satu. Kini, cukup dengan satu ketikan, email yang berisi format PDF dalam sekejap bisa tiba ke tempat tujuan.

Diprediksi dalam satu dekade ke depan, sebanyak 12% posisi akan diotomatisasi, sehingga 19 juta orang kehilangan pekerjaan.

Menurut Forrester Research, misalnya, robot akan banyak digunakan untuk aktivitas-aktivitas repetitif, sehingga manusia mempunyai waktu mengerjakan hal-hal lain yang lebih penting.

Contoh nyata, komputer tetap tidak dapat menggantikan otak manusia. Melainkan mempercepat proses kalkulasi seperti dalam menghitung dan mempermudah proses pengetikan naskah dibandingkan menggunakan mesin ketik kuno.

Sebenarnya saya ingin mengaitkan keduanya dengan era bonus demografi yang sedang terjadi di negeri ini. Tapi sudahlah, sudah terlalu sering kita dengar, pun cukup banyak pihak yang membahas perkara bonus demografi tersebut. Silahkan dikaitkan sendiri.

Dari hal-hal diatas, saya tidak tahu pasti bagaimana penyelenggara negara ini menghadapi situasi ketidakpastian dan proyeksi-proyeksi itu. Yang saya tahu, presiden dan jajarannya masih tersenyum bahkan tertawa dihadapan media dan khalayak umum sejauh ini.

Pusing? Takut? Was-was? Mungkin. Tapi sekalipun demikian mereka tetap harus tersenyum menyembunyikan hal itu didepan khalayak. Narasi yang terbaca, guna menjaga “wibawa pemerintah”. Tersebab kernyitan dahi dan amarahnya sudah terwakili oleh segenap masyarakat kecil yang merasa sangat keberatan dengan kenaikan BPJS yang cukup tinggi.

Solusinya? Saya bukan mau membahas solusi dari masalah-masalah diatas, sebab penyelenggara negara sudah cukup banyak memegang data serta didampingi oleh para pakar serta pembisik yang handal. Pun mereka digaji negara untuk hal tersebut. Lah saya? Tentu bukan siapa-siapa dan juga tidak lebih cerdas dari beliau-beliau itu, apalagi saya juga tidak dibayar oleh negara.

Baca Juga: Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Begini, intinya saya hanya ingin mengungkapkan, terlepas apapun itu cukup dibelakang layar saja pusingya, takutnya, was-wasnya dll-nya. Didepan layar harus tetap tersenyum, bahkan kalau bisa tertawa lepaslah.

Tersebab dunia hanyalah panggung sandiwara, setidaknya demikian firman Tuhan dalam kitab suciNya. Terpenting, belum tentu juga ada yang peduli, bahkan bisa berujung ditertawai.

Sudah-sudah, jangan terlalu serius bosku. Dunia aja itu. Tapi kalau penyelenggara negara ikut-ikutan berkata demikian, ditambah sering mengutip ayat atau melempar solusi atas masalah ke Tuhan, berarti negara ini memang sedang pusing, was-was dan ketakutan.

Bukan sesuatu yang salah atau keliru, sebab dalam sejarah, Nabi pun memanjangkan doanya ketika ia dan ummatnya sedang menghadapi masalah atau kesusahan. Oh iya, kita menganut sistem demokrasi bukan theokrasi.

Sekali lagi, ini hanya perihal keduniawian!

Sumber Foto:

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.