‘Political Value’ dalam Pemilihan Walikota Balikpapan

Pemilihan Walikota Balikpapan

‘Political Value’ dalam Pemilihan Walikota Balikpapan

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Pilkada—atau pilwalkot Kota Balikpapan, akan memiliki posisi ‘khusus’ di mata elite politik nasional.

Thexandria.com – Kalimantan Timur yang dipilih untuk menjadi Ibukota Negara Baru, membawa dampak politik yang cukup besar.

Terlebih untuk Kota Balikpapan. Karena sebagai Kota yang sudah memiliki fasilitas strategis seperti bandara dan pelabuhan kelas internasional, objek vital nasional (Pertamina), instalasi pertahanan dan keamanan mulai dari Kodam, Polda, sampai Kogabwilhan II, ditambah dengan budaya per-kota-an yang kental, Balikpapan adalah Kota penyangga Ibukota Negara Baru yang jauh lebih menjanjikan.

Konsekuensi politis yang diterima, alhasil ikut membuat elite politik nasional melirik Kota Balikpapan ‘bak gadis molek’ yang harus diberi perhatian lebih—dan harus didapatkan ‘hatinya’.

Momentum telah tiba. Pilkada serentak tinggal menunggu kejelasan dan kepastian dari penyelanggara, sementara, gejolak politik telah jauh-jauh hari menimbulkan ‘gempa’ dengan magnitudo yang relatif masih kecil, namun terasa.

Nama-nama lokal yang tak asing ditelinga masyarakat Kota Balikpapan, didesas-desuskan akan maju mewarnai pesta demokrasi di Kota Minyak, kota satelite Ibukota Baru. Mulai dari pengusaha, tokoh masyarakat, politisi, sampai yang baru-baru ini semakin mantab untuk maju dalam pemilihan Walikota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Walikota Balikpapan.

Rahmad Mas’ud baru saja mengantongi rekomendasi dukungan dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan dikawal langsung oleh Ketua DPC Partai Demokrat Kota Balikpapan, Bupati termuda yang memimpin Ibukota Negara Baru (Penajam Paser Utara) Abdul Gafur Mas’ud (14-07-20).

Dengan hadirnya rekomendasi dukungan langsung dari Ketua Umum Partai Demokrat, AHY. Ketua DPC Partai Demokrat Balikpapan, Abdul Gafur Mas’ud mengatakan dalam keterangan langsungnya yang diperoleh Thexandria, bahwa, Partai Demokrat yang memiliki basis pendukung yang cukup kuat sampai tingkat ranting, dengan mesin politik yang solid, akan memperjuangkan kemenangan Rahmad Mas’ud dan diharapkan nantinya akan dapat seperti Penajam Paser Utara yang memprioritaskan kesejahteraan masyarakat diatas segalanya.

Pesan yang disampaikan oleh Abdul Gafur Mas’ud, menyiratkan spirit dan optimisme yang menyala, “pilihannya dua, kalau bukan menang, ya, harus menang!”.

Sejauh ini memang belum terlihat jelas siapa yang akan menjadi kubu penantang. Namun, menilik dari perpindahan Ibukota Negara ke Kalimantan Timur, memang semakin menegaskan betapa Pilkada Kota Balikpapan akan menjadi penting. It’s about political value.

Politik Sejatinya Dinamis

Pilkada Serentak Balikpapan 2020

Ngomongin soal bakal calon Walikota Balikpapan, masyarakat Kota Balikpapan sendiri sebagian besar memang telah mendapat resonansi sinyal siapa saja yang memiliki kans untuk maju. Selain Wakil Walikota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, nama-nama seperti Yaser Arafat dan Ahmad Basir merupakan sosok yang paling mungkin untuk menjadi lawan Rahmad Mas’ud dalam merebut suara masyarakat Kota Balikpapan.

Meskipun juga, sejauh ini, belum terlihat political movement dari bakal calon penantang yang kentara. Tak berarti konstelasi politik Kota Balikpapan adem ayem angin semilir sepoy-sepoy.

Loby-loby dan mesin politik partai saat ini pasti tengah melakukan pemanasan—sewayahnya kendaraan yang harus dipanaskan dipagi hari sebelum digunakan bepergian.

Baca Juga Hak Azasi Manusia Dilanggar Jika Pilkada Serentak 2020 Tidak Digelar

Masyarakat Kota Balikpapan sah-sah saja memprediksi di dalam pikirannya sendiri, jika nanti, si A yang pasti akan menang, atau si B tak mungkin menang.

Karena politik bukan ilmu pasti, tak ada dalam sejarahnya, dalam perspektif politik; 1 + 1 = 2, dalam politik, 1 + 1 = bisa saja 3, 4, 5, atau 100 sekalipun.

Artinya apa, kedinamisan dalam politik itu sendiri, memang sebuah keniscayaan.

Biasanya, merujuk dalam dinamika politik di Indonesia, kejutan selalu datang di menit-menit akhir, maka jangan heran, apabila sosok yang dianggap rival, malah akan menjadi kolega. Pentingnya kita mencermati dinamika politik di Balikpapan, adalah untuk memaklumi proses politik tersebut.

Jika diatas kami mengatakan ‘sah-sah’ saja masyarakat berpikir bahwa; si A pasti menang, dan si B tak mungkin menang. Dengan premis ‘kedinamisan dalam politik’ yang juga kami singgung, maka bisa saja, begini; si A dan si B atau si C akan sama-sama menang. Analogi tersebut adalah penggambaran dari yang kami katakan proses loby dalam politik. Dibalik layar.

Dan sekali lagi, pilkada—atau pilwalkot Kota Balikpapan, akan memiliki posisi ‘khusus’ di mata elite politik nasional. Karena bagaimanapun juga, Kota Balikpapan, gerbang menuju Ibukota Negara Baru Republik Indonesia. Memenangkan pilkada Kota Balikpapan, akan sama berartinya memenangkan ‘a litle Jakarta’ dalam proyeksinya kedepan.

Hmmm, menarik…

Share Artikel:

One thought on “‘Political Value’ dalam Pemilihan Walikota Balikpapan

Leave a Reply

Your email address will not be published.