Polemik Prakerja Hingga Stafsus Milenial Mundur; Ternyata Benar, Mending Ternak Lele

Polemik Prakerja Hingga Stafsus Milenial Mundur; Ternyata Benar, Mending Ternak Lele

Polemik Prakerja Hingga Stafsus Milenial Mundur; Ternyata Benar, Mending Ternak Lele

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Pemerintah Republik Indonesia akhir-akhir ini dinilai sedang “oleng”. Ibarat kapal, pemerintah saat ini sedang berusaha menerjang gelombang ombak laut yang sangat-amat besar dan membahayakan kapal beserta penumpangnya. Ombak besar tersebut diinterpretasikan dalam polemik penanganan wabah Covid-19, pembahasan Omnibus Law yang menuai banyak penentangan hingga belum adanya keberanian pemerintah menurunkan harga BBM di saat harga minyak dunia sedang merosot.

Di tengah derasnya terjangan, pemerintah dengan berani meluncurkan sebuah program yang sudah lama dicanangkan, program Kartu Prakerja. Dengan tujuan membantu para korban PHK atau para pengangguran, program ini diproyeksikan dapat membidik 2 juta orang orang peserta. Para peserta nantinya akan dibekali pelatihan vokasi berupa keterampilan bidang dan bantuan insentif pelatihan sebesar 1 juta per bulannya.

Program ini cukup menuai banyak pro-kontra di pusaran masyarkat. Banyak yang menilai, program ini hanya “membakar-bakar uang” karena dianggap bentuk pemborosan anggaran. Para peserta program ini pun tak dijamin akan mendapat pekerjaan setelah masa pelatihan berakhir.

Problem yang menjadi sorotan adalah keterlibatan salah startup belajar online Ruang Guru yang menjadi mitra dalam program Kartu Prakerja. Hal inilah banyak menjadi perdebatan karena Ruang Guru sendiri merupakan milik salah satu Staf Khusus “Millenials” Kepresidenan, Adamas Belva Syah Devara.

Banyak pakar yang menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera mengusut keterlibatan Ruang Guru dalam proyek Kartu Prakerja senilai Rp 5,6 Triliun. Salah satunya adalah Natalius Pigai, seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang mengatakan bagaimanapun juga seorang menteri tak bisa asal main tunjuk langsung saja. Terlebih, startup atau perusahaan swasta itu milik salah satu orang di lingkup istana, yang syarat akan konflik kepentingan.

Pada pihak legislatif Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Daulay. Ia menyoroti lembaga pelatihan yang digandeng pemerintah dalam program kartu Prakerja.

Ia meminta pemerintah menerangkan alasan-alasan pemilihan sebuah lembaga untuk dilibatkan dalam menyediakan pelatihan di program Kartu Prakerja. Menurutnya, keterangan dari pemerintah itu dibutuhkan agar program Kartu Prakerja dapat berjalan sukses.

Bahkan, seorang ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira membuat surat undangan terbuka untuk mengajak Belva berdebat perihal program tersebut.

Buntut dari masalah ini adalah Belva mundur dari jabatannya sebagai Stafsus milenial Kepresidenan. Dia mengaku telah membuat surat pengunduran dirinya sejak 15 April 2020, dan disampaikan kepada presiden dua hari kemudian.

Selain itu, lewat laman Instagramnya @belvadevara terpublikasi sebuah surat terbuka mengenai pengunduran dirinya. Sekali lagi ditegaskan, keputusan dirinya untuk mundur dari stafsus milenial guna menghindari persepsi publik mengenai program tersebut dan keterlibatannya sebagai stafsus Jokowi.

Mata terpejam dan, hati menggumam, di Ruang Guru, kita bertemu~

Ternak Lele Aja

Polemik di atas semakin meyakinkan kita (masyarakat) betapa runyamnya dunia per-politik-pemerintah-an. Masuk ke dalam jajaran Staf Khusus Presiden yang diisi oleh para “Milenial” menjadi salah satu contohnya. Dan, keyakinan itu semakin kuat dengan adanya sebuah perkataan “dunia politik dan pemerintahan itu mereduksi hal-hal baik” yang membuat maraknya monopoli kepentingan segelintir orang ketimbang kepentingan masyarakat.

Lalu apa enaknya menjadi seorang Stafsus? Lebih berjasa mana Stafsus dibandingkan Stafaband?

Pengangkatan Stafsus sendiri dinilai sebagai manuver politik pencitraan yang tak berguna. Alih-alih memberikan dampak positif yang signifikan, eksistensi Stafsus tak lebih tak kurang hanya sebagai etalase politik untuk menunjukkan bahwa “Pemerintah juga dekat dengan anak muda, kok.”

Pandangan unik lainnya adalah langkah tersebut merupakan sebuah penetrasi politik segmen milenial, dan juga investasi politik. Oligarkis harus sedari dini mengamankan posisi mereka di panggung politik masa depan.

Dan, untuk “makan bareng” dengan para elite lainnya, sangat dibutuhkan perusahaan dengan margin yang luas pula.

Tiap-tiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi “orang besar” yang identik dengan menjadi seseorang dengan jabatan prestisi ataupun bergelimang kesuksesan—orang tua mana yang tidak bangga anaknya menjadi Stafsus yang katanya setara menteri itu?

Memang, tekanan yang begitu tinggi saat menjadi Stafsus menjadi resiko dari sebuah pekerjaan yang tak bisa dihindari. Tetapi, kalau mereka bisa, kenapa harus saya?

Namun, jika pun ada penawaran menjadi seorang Stafsus, saya akan lebih memilih menjadi seorang peternak lele. Meskipun peternak lele bukan merupakan sebuah cita-cita yang diidamkan anak-anak Indonesia masa kini; sering dianggap sebelah mata lebih tepatnya.

Apabila menilik lebih jauh, seorang peternak lele mampu memberikan dampak positif yang luas bagi beberapa pihak. Bagi yang mencari ketenangan jiwa ataupun lepas dari hiruk pikuknya perduniawian, menjadi peternak lele merupakan sebuah langkah tepat.

Baca Juga: Polemik Surat Stafsus Milenial Presiden yang Bikin Kita Bertanya: Fungsine Milenial-milenial-an Opo Cuk?

Suasana cerah dibarengi dengan udara segar di pagi hari sekitar tambak akan membuat pikiran kita begitu tenang dan jernih. Sembari memberi makan lele terbangun pula kedekatan dengan lele-lele yang kita miliki. Bahkan, jika rasa sayang itu tumbuh, setiap lele akan memiliki namanya masing-masing. Hingga dengan sendirinya kita akan hafal dan mampu membedakan antara si ikan lele Iwan, si ikan lele Adi, atau si ikan lele Anggun. Se666an.

Merawat lele seperti Malika si biji kedelai hitam akan mempererat rasa memiliki satu sama lainnya. Rasa saling memiliki inilah yang tidak akan kita dapat saat menjadi Stafsus. Memang, kita akan menemui kedelai lain selain si Malika, yaitu pepatah Jawa dalam perpolitikan“Isuk dele, sore tempe.” (re: pagi kedelai, sore tempe) yang menandakan betapa tidak konsisten dinamisnya orang-orang dunia politik dalam menentukan pendirian, tergantung kepada kepentingan.

Jika memiliki rezeki berlebih, kita bisa memperkerjakan orang untuk merawat dan memberi makan lele. Hal ini juga sangat membantu pemerintah dalam menekan angka pengangguran dan menyejahterakan masyarakat kecil.

Betapa mulianya menjadi peternak lele..

Hasil dari beternak lele pun menjadi salah satu komoditas yang menjanjikan. Tidak akan ada warung pecel lele Lamongan kalau tidak ada para peternak lele. Survey saja berapa jumlah warung pecel lele se-Indonesia, lalu coba kalkulasikan dengan kebutuhan dan harga pasar ikan lele. Itu belum ditambah kebutuhan ekspor lele ke benua Eropa atau Amerika.

Wait, orang bule pada doyan lele nggak sih?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.