#PoemPM Putri Marino; Tulisannya Ya Tulisannya, Tapi Sambil Tengok Kanan Kiri, Ya

#PoemPM Putri Marino; Tulisannya Ya Tulisannya, Tapi Sambil Tengok Kanan Kiri, Ya.

#PoemPM Putri Marino; Tulisannya Ya Tulisannya, Tapi Sambil Tengok Kanan Kiri, Ya.

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

Trending topic di Twitter beberapa hari yang lalu benar-benar beragam—tidak hanya lines up Coachella, banjir di Jakarta, World War 3, melainkan yang membuat saya sedikit bingung adalah adanya nama Putri Marino bertengger di kolom nomor 1 trending topic Twitter. Putri Marino berperan lagi di film baru? Posesif part 2?

Oh, ternyata bukan. Putri Marino baru saja mengeluarkan buku puisinya yang berjudul Poem PM—buku bersampul kecoklatan ini berisi kumpulan perasaan Putri terhadap semesta. Putri menggambarkan karakter manusia modern dan lika-liku yang dialaminya.

Tulisan demi tulisan akan menjelaskan bagaimana rasanya terjebak dalam tekanan hidup, dikutip dari Bentang Pustaka. Pembaca akan digiring untuk mengarungi berbagai rasa; jatuh cinta, rindu, patah hati hingga bangkit dari semua itu. Lalu, apa yang membuat  puisi Putri Marino menjadi kontroversi di dunia Twitter?

Sudah bukan hal baru untuk followers Putri Marino di Instagram bahwa ibu dari Surinala ini sering menulis penggalan kalimat puitis dengan tagar #Poempm sebagai identitasnya. Beberapa kali foto beserta tulisannya wara-wiri di timeline—saya tidak bilang puisinya jelek, tidak juga bilang puisinya bagus, hanya bukan puisi yang akan saya baca berkali-kali.

Menjadi buah bibir mengenai penggalan kalimat yang ia tulis, “Ini puisi bukan, sih?” tanya warganet di Twitter. Dari terlalu banyaknya (…) elipsis yang membuat puisi-puisi Putri Marino terkesan ‘mengganggu’, orang-orang sekitarnya yang dianggap menyebarkan toxic positivity dengan  tidak memberi saran dan kritikan terhadap apa yang Putri tulis, hingga membawa sastra lebih terangkat kembali ke permukaan sosial media.

Menurut saya, menulis dan mengekspresikan diri melalui media apapun itu sah-sah saja—bahkan saya bersyukur dengan terjadinya keributan perihal #Poempm, membuat saya belajar dari threads berkualitas dan pengguna Twitter lebih membuka mata soal kepenulisan puisi—yang  dikatain old school bagi sebagian orang.

Terlepas dari apakah #Poempm adalah puisi-yang-sesuai-kaidahnya atau bukan—sebenarnya yang lebih patut disorot adalah sang editor dan penerbit. Apa yang membuat mereka menerbitkan #Poempm?

Privilese dari sosok berbakat Putri Marino di dunia perfilman, kah? Sebagai istri aktor kenamaan Chicco Jerikho? Atau Putri Marino yang sudah menyanggupi standar kepenulisan dari pihak penerbit sehingga meluluskan tulisan-tulisan Putri menjadi sebuah buku?

Lagi, saya tidak ingin meributkan perihal bagaimana cara orang mengekspresikan diri tapi yang namanya Privilese itu memang nyata, kok, dengan besarnya nama saja bisa melebarkan medium untuk bersuara dari sudut manapun.

Tapi, kembali lagi, sesederhana penempatan “di” saja kalau tidak tepat ya menjadi masalah yang krusial juga untuk sekelas tulisan buku diary apalagi sampai dibaca banyak orang melalui buku yang beredar di pasaran, ibaratnya si penulis punya tanggung jawab atas apa yang ia torehkan di atas kertas.

Saya juga menulis, masih banyak belajar. Bahkan teman-teman saya tahu bagaimana kerasnya saya mengulik tulisan sendiri berjam-jam setelah berhasil mengeluarkannya dari otak berhari-hari lamanya.

Sesederhana, saya ingin sebuah tulisan itu bisa mewakili pembaca, dan untuk saya pribadi—kesesuaian puisi dengan kaidah dan EYD is a must! Dari situ saya menggali bagaimana penempatan ini dan itu, apakah ini sudah tepat atau belum?Kemudian layak ditunjukkan atau belum?

Baca Juga: Yang Fana itu Waktu, yang Abadi itu One Piece

Hanya sebagai kepuasaan saya sendiri karena sudah berhasil menuangkan isi kepala, sebuah pencapaian juga jika dikritik atau dipuji apalagi diterbitkan menjadi buku sendiri—saya akan melompat kegirangan, kali?

Putri Marino adalah Putri Marino, tulisannya adalah tulisannya, privilesenya ya privilesenya—yang mana seiring ramainya tagar #Poempm di sosial media, threads berkualitas, banyak orang yang terketuk untuk membaca sambil belajar dari #Poempm dan puisi yang bertebaran di Twitter.

Tidak banyak yang saya ingin sampaikan untuk menutup tulisan ini; melainkan berterima kasih pada Putri Marino yang sudah mencurahkan isi hatinya, berterima kasih untuk orang-orang yang sudah menulis sejauh ini—kalian berani sekali, hebat. Karena sejatinya, tulisan yang bagus akan bertemu pembacanya sendiri.

Sadar tidak? Sebenarnya, dengan bisa menumpahkan isi kepala dengan mudah saja sudah menjadi privilese, lho! Yuk, berterima kasih sama diri sendiri sambil belajar untuk toleh ke kanan dan kiri—ke sekitar kita yang masih masih masih sangat luas.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.