Perusakan Buku Merah; Rapor Merah Kredibilitas

Perusakan Buku Merah; Rapor Merah Kredibilitas

Perusakan yang merusak citra, lalu apalagi yang mereka cari?

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Temuan penting terkait pengungkapan dugaan aliran dana dalam kasus suap impor daging yang menyeret pengusaha Basuki Hariman perlahan menemui titik terang. Adalah Indonesialeaks yang merupakan inisiasi sejumlah media nasional dalam melakukan investigasi terkait kasus tersebut. Dalam temuannya, Indonesialeaks berhasil mendapatkan sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diduga tengah merusak barang bukti. Bukti rekaman tersebut kemudian dipublish kepada publik Senin, (8/10) dalam laman instagram @inaleaks.

Penggalan video CCTV yang ditayangkan Inaleaks dalam akunnya berdurasi lima menit 18 detik itu berisi rekaman video kamera pengawas ruang kolaborasi di lantai 9 Direktorat Penyidikan KPK, Jakarta. Dalam rekaman tersebut, terjadi dugaan sabotase barang bukti di KPK yang disinyalir dilakukan penyidiknya sendiri. Spekulasi bergulir lalu mengarah kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Namun dua penyidik KPK, diyakini telah merobek 15 lembar barang bukti itu yang berisi catatan pengeluaran perusahaan pada 2015-2016 dengan jumlah Rp4,337 miliar dan US$206,1 ribu.

Menarik benang fakta jauh lagi ke belakang, tiga hari sebelum perusakan barang bukti, tepatnya pada 4 April 2017 sekitar pukul 20.00 WIB, penyidik KPK Novel Baswedan menemui Kapolri Tito Karnavian di rumah dinas Kapolri di Jalan Patimura, Jakarta Selatan. Pertemuan itu dihadiri sejumlah perwira tinggi Polri dan pegawai KPK yang menangani kasus Basuki Hariman.

Pada pertemuannya, Novel hendak mengklarifikasi sejumlah isu yang berembus di internal polisi mengenai pembentukan Satuan Tugas (Satgas) yang mengincar Kapolri Tito, sekaligus meminta pihak Kepolisian memberi rasa aman kepada penyidik KPK. Permintaan tersebut seolah percuma, sebab tiga jam berselang, laptop penyidik KPK Surya Tarmiani dicuri dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta sekitar pukul 23.00 WIB malam.

Puncaknya adalah seminggu setelah peristiwa itu, 11 April 2017, nasib buruk menghampiri Novel. Sepulang dari sholat subuh di masjid dekat rumahnya, Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal. Melukai sebagian wajah dan mata kanannya. Akibatnya, mata kiri Novel nyaris buta.

Intimidasi Tiada Henti

Hasil temuan Indonesialeaks tersebut cukup membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan pihak-pihak terkait dalam pengungkapan kasus korupsi maupun tersangka penyiraman air keras kepada Novel Baswedan.

Pasalnya bukan kali ini saja kejanggalan hadir dalam pengungkapan kasus korupsi di negeri ini yang kemudian dikategorikan oleh PBB sebagai extra-ordinary crime. Terlalu banyak intervensi dan intimidasi kepada pihak KPK dalam perjuangannya mengungkap kasus-kasus yang menyeret beberapa pejabat tinggi negara di semua lini instansi.

Kasus teror kepada para penyidik KPK mulai dari penyiraman air keras kepada Novel Baswedan sampai perampasan laptop Surya Tarmiani dalam prosesnya juga tidak menemui titik terang meskipun sudah dilakukan investigasi oleh tim gabungan pencari fakta (TGPF) bentukan Polri. Tidak hanya teror kepada para penyidik KPK, para pegawai kerap kali mendapat serangan saat sedang menjalankan tugas pengusutan indikasi kasus korupsi. Terornya pun bervariasi mulai dari ancaman psikis sampai teror ancaman fisik.

Bahkan, teror sempat menghampiri kediaman para pimpinan KPK yakni Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Kediaman Ketua KPK Agus Rahardjo diteror dengan ditemukannya tas berisi benda mirip bom pipa. Sedangkan rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dilempari dua bom molotov oleh orang tak dikenal.

Pada tahun 2015, eks Plt Direktur Penyidikan KPK Endang Tarsa pernah mendapatkan ancaman terhadap penanganan suatu kasus. Ancaman yang ditebar adalah akan mempersulit karir anak Endang yang sedang menempuh pendidikan di sekolah kepolisian. Karena ancaman ini, sampai-sampai Endang diamankan di safe house oleh KPK.

Salah satu penyidik KPK yaitu Kompol Apip Julin Miftah juga mendapatkan teror berupa benda mirip bom ke kediamannya. Tidak berhenti di situ, seminggu sebelumnya bahkan ban mobil Kompol Apip sendiri ditusuk-tusuk hingga bolong dan kemudian tiga hari selanjutnya mobil tersebut disiram air keras oleh orang tidak dikenal.

Baca Juga: KPK, di Antara Senjakala dan Kami yang Berduka

Terbaru, dua pegawai KPK dianiaya orang tak dikenal di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 2 Februari 2019. Sebelum penganiayaan terjadi kedua pegawai tersebut tengah bertugas untuk mengintai adanya dugaan praktek korupsi. Sedangkan saat penganiayaan terjadi, kedua pegawai sempat memperlihatkan surat tugas yang dikantonginya.

Dari semua teror dan ancaman tersebut, belum ada satupun kasus yang terungkap siapa pelaku dan apa motif di baliknya. Selalu kuat ya, KPK!

Tanda Tanya Besar Publik

Mari kembali ke upaya “pelenyapan” buku merah dalam rekaman CCTV temuan Indonesialeaks. Dalam rekaman berhasil mengidentifikasi beberapa penyidik KPK saat itu yang berasal dari Kepolisian antara lain Ardian Rahayudi, Roland Ronaldy, Harun, Hendir Susanto Sianipar dan Rufriyanto Maulana.

Kronologi kejadian menurut Jaring.id, dua bekas penyidik KPK asal Kepolisian, Roland dan Harun terekam tengah memeriksa buku merah, sempat duduk memunggungi CCTV, dan merunduk di balik meja. Gerak-gerik ini lah yang kemudian membuat keduanya disinyalir melakukan perusakan barang bukti dengan cara menyetip dan menyobek catatan transaksi keuangan yang memuat nama Tito Karnavian.

Satu adegan di menit 01.33.47, Roland mengambil buku dan benda menyerupai pulpen dari atas meja. Selepas itu, ia merunduk sekitar dua menit. Lulusan Akademi Kepolisian 2001 ini kemudian memasukkan salah satu buku ke dalam kantong plastik, sebelum melempar barang bukti tersebut kembali ke atas meja.

Harun yang duduk di sebelah Roland tidak tinggal diam. Usai terlibat perbincangan, ia membongkar buntalan plastik guna memeriksa ulang sembari mencoret beberapa bagian keterangan yang tertera dalam buku. Ia juga mempreteli satu per satu tanda yang melekat pada tepi buku catatan keuangan. Aksi janggal tersebut terekam di menit 01.35.48 sampai 01.37.07.

Hingga saat ini, para “aktor” yang berperan dalam rekaman CCTV tersebut masih bebas menghirup udara segar di gedung KPK. Faktanya Ardian dan Hendri saat ini masih aktif di KPK sebagai penyidik mewakili Kepolisian. Sementara untuk Harun dipulangkan kembali ke Polri dan tercatat masih aktif sebagai polisi. Nasib baik malah didapatkan Roland yang kini dipromosikan sebagai Kapolres Cirebon.

Indoleaks juga merilis bahwa dokumen pemulangan Harun dan Roland hanya menyebut keduanya tengah berkasus. KPK lalu melimpahkan pemeriksaan terhadap mereka kepada Divisi Profesi dan Pengamanan. Namun, hasil pemeriksaan internal Polri berbeda 180 derajat. Tuduhan penghapusan barang bukti dianggap tak terbukti.

Bagaimana bisa?

Analoginya adalah bangku persekolahan; kasus-kasus tersebut adalah mata pelajaran yang belum mampu difahami materinya sehingga tidak bisa dituntaskan dan tidak mampu mencapai nilai sesuai standar.

Alih-alih tuntas dan mendapatkan “nilai bagus”, perusakan buku merah ini semakin menegaskan akan ketidak-mampuan dan ketidak-seriusan dalam memahami “mata pelajaran” tersebut, sehingga melahirkan sebuah rapor merah..

iya, rapor merah bagi sebuah kredibilitas, yang saya sendiri bahkan tidak tahu ditujukan kepada siapa..

Sumber Foto: melekpolitik.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.