Pertamina Tak Lagi Masuk Fortune 500

Pertamina Fortune 500

Pertamina Tak Lagi Masuk Fortune 500

Penulis Adi Perdiana | Editor Dyas BP

Seharusnya majalah Fortune bisa lebih objektif dalam pemeringkatan yang ia lakukan.

Thexandria.com – PT Pertamina (Persero) tahun ini tidak termasuk dalam daftar tahunan 500 perusahaan berpendapatan tertinggi di dunia versi majalah Fortune atau dikenal dengan Fortune 500.

Fortune 500 merupakan ajang tahunan majalah Fortune yang memberikan peringkat kepada 500 perusahaan dengan tolak ukur utamanya adalah total pendapatan yang tertuang dalam laporan keuangan perusahaan pada tahun fiskal sebelumnya.

Padahal pada Tahun 2019 lalu, Pertamina menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang masuk dalam daftar Fortune 500 dengan menduduki peringkat 175. Sebelumnya lagi pada tahun 2018 Pertamina menduduki peringkat 253. Artinya meroket sejauh 78 peringkat.

Maka kita ketahui bahwa yang terjadi dari 2018 ke 2019 adalah peningkatan peringkat Pertamina dalam daftar Fortune 500 cukup signifikan. Lantas mengapa di tahun 2020 ini bahkan masuk dalam daftar saja tidak.

Baca Juga Rencana Program Pendidikan Militer untuk Para Mahasiswa Adalah Sebuah Kemunduran yang Berbahaya

Memang banyak kalangan memperhitungkan bahwa pada tahun ini peringkatnya menurun dan seharusnya berada di posisi peringkat 198. Namun apa yang terjadi malah Pertamina tersingkir dari peringkat 500 dunia.

VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan, Pertamina membukukan pendapatan pada 2019 sejajar dengan peringkat ke-198 Fortune 500, yaitu Nippon Steel Corporation dengan pendapatan 54,45 miliar dolar AS atau Rp 806 triliun (kurs Rp 14.800 per dolar AS), sedangkan Pertamina mencatatkan pendapatan 54,58 miliar atau Rp 808 triliun pada 2019, melansir dari republika.co.id.

Merespon hal tersebut Fajriyah Usman menjelaskan, untuk mendapatkan informasi mengenai proses pemeringkatan pihaknya telah mengirim surat resmi, Pertamina sedang melakukan penelusuran dan meminta penjelasan langsung kepada pihak pengelola.

“Daftar yang dibuat Fortune Global 500 tersebut merupakan aksi monitoring pasif yang dilakukan Fortune, tanpa melakukan klarifikasi langsung kepada Pertamina. Dengan revenue yang diraih Pertamina pada 2019, seharusnya kami masih terdaftar di posisi 198 Fortune Global 500. Sehingga kami perlu mendapat penjelasan resmi dari institusi penyelenggara,” ungkapnya.

Baca Juga Seberapa Penting RUU Perlindungan Data Pribadi

Menurut Fajriah, Pertamina tak seharusnya terlempar dari daftar itu. Dengan pendapatan yang diraih, Pertamina bahkan lebih unggul dibandingkan beberapa perusahaan global seperti Goldman Sachs Group, Morgan Stanley, Caterpillar, dan LG Electronic.

Utang Pemerintah Ke Pertamina

Gambar hanya ilustrasi

Perlu diketahui bahwa total keuntungan perusahaan akan sangat menentukan posisi keuangan perusahaan dalam banyak aspek lainnya. Sementara pada persoalan keuntungan ini bagi Pertamina sudah terpaksa seperti “kawan”. Sudah jelas bahwa hal ini selalu menjadi bagian paling krusial bagi Pertamina dan masalah yang sulit untuk dihindari beberapa tahun terakhir. Lantas mengapa demikian?  

PT Pertamina (Persero) mengungkapkan total utang pemerintah kepada perseroan hingga 2019 sebesar Rp96,5 triliun. Utang tersebut berasal dari kompensasi selisih harga jual eceran (HJE) yang merupakan penugasan Pemerintah dalam memberikan subsidi BBM solar dan premium sejak tahun 2017 silam.

Baca Juga Mengulas Rencana Penghapusan Premium dan Pertalite oleh Pertamina yang Sebetulnya Bukan ‘Hal Baru’

Rincian utang kompensasi atas selisih HJE adalah sebagai berikut: pada 2017 sebesar Rp20,78 triliun. Pada 2018, jumlah utang kompensasi selisih HJE naik menjadi Rp44,85 triliun. Kemudian, sebesar Rp30,86 triliun di 2019 lalu. Dengan demikian, totalnya sebesar Rp96,5 triliun. Sementara rencananya pada tahun ini pemerintah hanya akan membayarnya sebagian yakni 45 triliun. Dan sisanya akan dibayar tahun depan dan tahun depannya lagi.

Kita tidak tau sejauh mana dampak kerugian bagi Pertamina sebagai konsekuensi yang harus diterima akibat keuntungan tertahan sebagai piutang kepada pemerintah.

Tetapi apa yang membuat Pertamina tidak masuk dalam daftar Fortune 500 masih menjadi pertanyaan. Seharusnya majalah Fortune bisa lebih objektif dalam pemeringkatan yang ia lakukan.

Karena tidak mungkin kan persoalan ini terjadi dikarenakan utang pemerintah yang belum dibayar.

Apa iya majalah bisnis sebesar Fortune tidak tau kalau Pertamina adalah perusahaan energi nasional yang 100% kepemilikan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang notabene menjadi pemegang kuasa yang menjamin kelangsungan Pertamina?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.