‘Persatuan Dukun Nusantara’, Gerakan Resmi Para Dukun Indo Meng-Komersilkan Santet dan Lainnya

Persatuan Dukun Nusantara

‘Persatuan Dukun Nusantara’, Gerakan Resmi Para Dukun Indo Meng-Komersilkan Santet dan Lainnya

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Apa yang terlintas dipikiranmu? Ketika mendengar kata “dukun”?

Thexandria.com Mostly—kata dukun akan selalu satu tarikan nafas dengan hal-hal mistis dan negatif. Untuk orang-orang yang rasional, mereka biasanya akan cenderung skeptis dan mengartikan dukun sebagai kumpulan orang yang mengada-ngada alias “membual”.

Dan ini berita serunya. Sekumpulan dukun di Banyuwangi telah mendeklarasikan Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara). Kata mereka, tujuan didirikannya Perdunu ini agar masyarakat tak terjerumus dengan aksi dukun abal-abal dan menjerumus kepada penipuan. Hmmm, lantas siapa yang melakukan verifikasi dukun mana yang asli atau tidak, ya? Dan apa parameternya? Apakah adu ilmu santet?

Sekretaris Umum Perdunu Ali Nur Fatoni mengatakan Perdunu berdiri untuk memberikan kemaslahatan masyarakat.

Lebih lanjut, Perdunu diharapkan dapat menjadi wadah untuk masyarakat memberikan edukasi terhadap ilmu perdukunan. Termasuk menjelaskan spesifikasi keahlian dukun. Gila. Jadi di Perdunu, akan ada peng-klasifikasian kemampuan para dukunnya, yang santet divisi sendiri, yang pelet divisi sendiri, yang spesialis ke-wibawaan pejabat beda lagi~ eh, gitu, kan, ya?

Baca Juga Mencari Penyebab Suara Dentuman Misterius di Kota Malang

Melansir dari detikcom, Ali mengungkapkan maksud didirankannya Perdunu, “Semoga Deklarasi Perdunu bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Perdunu nusantara didirikan untuk memberikan edukasi ke masyarakat tentang spesifikasi kemampuan pelaku spiritual,” ujarnya pada Sabtu (6/2/2021).

“Nantinya yang bergabung akan kita publikasikan keahlian mereka. Bisa tentang medis, psikologis, dan masih banyak lagi. Sesuai spesifikasinya,” tambahnya.

Selain itu, Perdunu juga hadir, kata Ali, untuk mengubah paradigma masyarakat tentang dukun yang negatif. Selama ini, kata dia, dukun menjadi orang yang dibutuhkan, namun eksistensinya tidak muncul. Bahkan cenderung disembunyikan.

Banyuwangi dan Stigma Mistis

Deklarasi Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu)
Deklarasi Persatuan Dukun Nusantara – source news.detik.com

Dahulu, Banyuwangi dikenal dengan citra sebagai kota santet. Di masa depan sekarang ini, alih-alih mengaburkan atau menghilangkan citra tersebut, Perdunu akan mengadakan festival santet hingga destinasi mistis di Banyuwangi.

Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) memang terbentuk di Banyuwangi. Dalam program kerjanya, perkumpulan dukun ini bakal menggelar festival santet dan mengenalkan destinasi mistis di Banyuwangi.

Doa bersama dan pengobatan gratis juga bakal digelar di akhir bulan ini. Untuk doa bersama, mereka bakal meminta agar masyarakat Banyuwangi bisa terhindar mara bahaya, khususnya saat ini erupsi Gunung Raung. Sedangkan pengobatan gratis dilakukan untuk berbagai macam penyakit.

Selain program doa bersama dan pengobatan gratis, rencananya pada Bulan Suro atau Muharam, Festival Santet baru akan digelar. Festival ini akan menjelaskan tentang ilmu-ilmu spiritual yang masih ada di Banyuwangi. Tak hanya itu, buat yang suka horor, Perdunu juga akan mengenalkan dengan destinasi mistis di Banyuwangi, diantaranya: Alaspurwo, Rowo Bayu dan Antaboga di Kecamatan Glenmore.

Respon Pemuka Agama

Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan
Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan

Melansir dari detiknews, Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan mengatakan MUI telah mengeluarkan fatwa soal larangan perdukunan dan peramalan Nomor: 2/MUNAS VII/MUI/6/2005.

“Ya, kalau dari MUI, kan sudah ada fatwa kan, terhadap perdukunan dan peramalan,” ujar Amirsyah pada Sabtu (6/2/2021).

“Intinya perdukunan itu dilarang, itu karena menimbulkan banyak mudarat, di antaranya merusak keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT,” sambungnya.

Amirsyah menjelaskan soal maksud dari merusak keimanan.

“Merusak karena dia akan berangan-angan, dia akan berkhayal karena keimanan yang benar itu adalah keimanan yang sesungguhnya di benarkan di dalam Alquran dan Assunnah dan diiringi dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Karena itu kata Rasulullah, iman itu bukan hayalan tapi diyakini dalam hati, dibenarkan dengan amal perbuatan,” sambungnya.

Amirsyah kemudian meminta kepada pemerintah daerah setempat untuk melakukan identifikasi dan klarifikasi terkait adanya Persatuan Dukun Nusantara. Apabila terbukti melanggar prinsip keagamaan, Amirsyah meminta kegiatan Persatuan Dukun Nusantara itu dihentikan.

Meanwhile, melansir dari suarajatim, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga angkat bicara, meski cukup berhati-hati memberikan sikap terkait polemik berdirinya Perdunu tersebut.

Ketua PWNU Jatim, Kiai Haji Marzuqi Mustamar mengatakan, sampai saat ini dirinya belum mengetahui pasti, seperti apa gerakan Perdunu. Maka, Ia mengimbau agar masyarakat tetap percaya pada ulama

“Perdunu, kami gak bisa komentar karena kami tidak tahu mereka kayak apa. Masyarakat yang awam tetap manut (nurut) kepada ulama. Yang ulama bimbing umat berdasarkan Quran sunnah,” kata Kiai Marzuqi dilansir dari Suara.com, Sabtu (6/2/2021).

Meski demikian, lanjut dia, istilah dukun di masyarakat itu ada yang menabrak syara’ (hukum, ketentuan, atau aturan dalam Islam) dan ada yang tidak. Kata dukun mengalami perkembangan pengertian. Dicontohkanya orang yang pandai memijat juga disebut dukun.

“Di masyarakat itu yang pinter mijeti (memijat) bayi ya diarani (dijuluki) dukun, yang bantu ngelahirin bayi juga diarani dukun, mbah kiai yang alim pinter ngobati dengan berdoa kepada Allah juga diarani mbah dukun. Kemudian yang mbedek-mbedek (menebak-nebak) nasib orang, sekian tahun lagi kiamat, yang tukang nyilakani wong (mencelakai orang), nyantet yo diarani dukun,” jelasnya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah setelah adanya Persatuan Dukun Nusantara, nantinya juga akan ada ‘Persatuan Anak Indigo Indonesia’?

Semoga enggak, deh, ya. Soalnya youtube nanti isinya bisa hantu-hantuan semua. Hehe.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.