Perkara Bertahan, Pada Akhirnya Semua Pasti ‘Pulang’

Perkara Bertahan, Pada Akhirnya Semua Pasti Pulang

Perkara Bertahan, Pada Akhirnya Semua Pasti ‘Pulang

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Hallohaaa…

Sumpah gue nggak ngerti kenapa mulai artikel ini dengan kalimat ‘halloha’.

Skip~ skip~

Semua pasti pernah ditinggal pergi oleh orang-orang yang berarti dihidup kita. Entah orang tua, keluarga, kekasih, sahabat, atau bahkan orang yang baru saja kita kenal.

‘Pergi’ yang dimaksud dalam artikel ini adalah ‘meninggal’.

Ada satu hal yang mungkin terasa begitu jelas ketika kita mendapati seseorang telah berpulang, gue teringat sama celetukan orang, ‘kenapa ya, orang baik cepat dipanggil?’

Ada satu kondisi dimana gue meyakini celetukan tersebut, yang membuat gue kembali merekonstruksi pemahaman gue tentang arti dari ‘pulang’ atau ‘dipanggil’.

Gue lantas bertanya, kepada apa-apa saja yang jelas-jelas tidak memberikan jawaban, langit tua, misalnya…

‘Kenapa? Kenapa bukan orang jahat yang pertama dipanggil? Kenapa malah orang baik?’

‘Gue sampai sekarang belum dipanggil, apa karna gue jahat?’

Mampus ~

Gue hidup membawa beban pertanyaan yang memang sengaja gue simpan sendiri. Sampai pada hari ini, gue menuliskan jawaban dari apa yang gue sebut ‘beban’ tadi.

Menemukan Lewat Analogi

Ya, gue menemukan jawabannya dari analogi, atau perumpamaan.

Mungkin bisa jadi begini, anggaplah ada sebuah pohon, yang dimana memiliki banyak buah, pertanyaanya sekarang adalah? Buah mana yang bisa diputik atau diambil?

Tentu yang matang.

Kita harus kembali ke hakikat takdir yang pasti hanya Dia yang tau.

Namun barangkali, Dia memang memilih manusia-manusia yang ‘matang’ dari segala cobaan hidup sesuai kadar dan kemampuannya masing-masing.

Kematian memang menjadi salah satu misteri terbesar sepanjang sejarah, sudah sampai di satu analogi, gue berhenti pada satu kesimpulan baru.

Di akhir hayat, semua orang hanya ingin dikenang sebagai pribadi yang baik. Cukup.

Para Penyintas

Hidup ini memang seperti sirkus kadang. Setelah gue berhenti di suatu keyakinan dan kepasrahan akan terbatasnya manusia mengetahui hakikat ‘pulang’ dalam perspektifNya.

Disela-sela rebahan, gue malah jadi berpikir, lalu bagaimana dengan orang-orang yang bunuh diri? Hasyah~

Bukankah itu seperti para penyintas? Mengambil jalan pintas?

Disini gue nggak mau menjustifikasi. Tapi menjadi penyintas, sepertinya sangat tricky.

Lari dari suatu problema mungkin terpikir menjadi satu-satunya ‘cara’ yang relevan dari kadar kemampuannya ketimbang menghadapi, meskipun bagi mayoritas orang, bunuh diri tetap merupakan perilaku yang tidak dapat dibenarkan, apapun alasannya.

Ada benang merah yang sempat terlupa. Hidup adalah perkara bertahan, bagaimanapun akhirnya, menjadi penyintas atau buah yang masak, berujung pula pada sebuah kepulangan. Kita hanya tinggal memilih.

Bertahanlah, Kita Semua Tangguh

Berada di titik paling rendah dalam hidup, bagaimanapun latar belakangnya, sosial, ekonomi, atau bahkan cinta sekalipun, memang adalah saat-saat paling rapuh.

Rapuh karena munculnya perasaan dikecewakan, ditinggal, atau tidak dihargai, menimbulkan kesan bahwa hidup semakin tidak memiliki arti.

Padahal, hidup memang boleh saja tidak lagi memiliki arti, tapi terlahir sebagai manusia, bukan perkara Tuhan sedang iseng. Manusia berjalan di muka bumi bukan tanpa kesengajaan, dan ingatkah ketika Tuhan berkata; “Tidaklah cobaan diberi, melainkan sesuai kemampuannya”.

Gue jadi berpikir, kalau itu bukan hanya pesan yang tersurat, melainkan juga ada yang tersirat.

Kalimat Tuhan tersebut, semakin menguatkan kesimpulan bahwa Tuhan sama sekali tidak pernah iseng, atau dengan kata lain, manusia itu memang penting. Selain itu juga, semakin menegaskan bahwa kita memang tercipta sebagai makhluk yang tangguh!

Tangguh karna kasih sayangNya, yang menggariskan bahwa kita tidak akan pernah mencapai over limit perihal problema. Because we are tough! That’s it.

Baca Juga: Saya Manusia, dan Ini Narasi Kontemplatif Saya

Kesimpulannnya adalah, kita sejatinya pasti mampu bertahan, pasti mampu. Dan dengan terus bertahan pula, kita menanti untuk matang, lalu dipetik, lalu….

Dikenang.

Tak ada yang lebih bahagia dan menenangkan, selain ‘pulang’ dengan iringan tangis, sepekik suara tangis kita ketika lahir.

Tak ada yang lebih menyedihkan, selain telah ‘berpulang’ di usia muda, namun baru dikubur di umur enam puluh lima.

Resapi bait sajak binatang jalang, Chairil Anwar yang lantang bahwa ia akan hidup seribu tahun lamanya.

Sudah berarti, sesudah itu mati.

Selamat terus bertahan… kita pasti akan ‘pulang’.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.