Perasaan Bersalah (Feeling Guilty) yang Ternyata Sangat Wajar

Perasaan Bersalah (Feeling Guilty) yang Ternyata Sangat Wajar

Perasaan Bersalah (Feeling Guilty) yang Ternyata Sangat Wajar

Penulis Clarenza Adela | Editor Dyas BP

 am i in the right track? Is this the thing that i want to do in my entire life?

Thexandria.com – Menjadi mahasiswa yang bisa mendapat kesempatan untuk belajar dan menikmati fasilitas di kampus tertentu, apalagi kampus terkenal merupakan sebuah hal yang menurut saya sangat luxury. Bagi saya, hal-hal yang termasuk luxury itu tidak melulu sebuah jam tangan berharga jutaan dolar. Mendapat kesempatan dan privilege untuk memperoleh pendidikan layak juga sebuah hal mewah, bahkan sangat mewah.

Status saya kini adalah mahasiswa di sebuah universitas di Indonesia. Sampai sekarang yang notabene saya ada di pertengahan masa kuliah, saya sering mempertanyakan pada diri sendiri, am i in the right track? Is this the thing that i want to do in my entire life? Meragukan hal-hal yang sudah saya jalani dan mempertanyakannya kembali.

Saya penasaran dengan isi hati saya dan pikiran saya sendiri terhadap apa yang sedang saya lakukan. Mengapa dua hal itu selalu membuat saya ragu terhadap pilihan-pilihan saya. Sampai saya menyadari ada yang salah dari diri ini yakni feeling guilty (perasaan bersalah) yang rupanya masih saya pelihara tanpa disadari.

Setiap kali jatuh tempo waktu untuk membayar uang kuliah, saya sering merasa bersalah kepada orang tua. Kadang rasa guilty itu muncul ketika melihat orang tua saya harus bayar kuliah saya. Saya tahu mereka merasa berat untuk membayar sekian juta untuk biaya pendidikan tinggi. Namun disaat yang bersamaan, mereka tidak ingin saya putus sekolah. Orang tua saya ingin anaknya mendapat pendidikan tinggi dengan sebaik-baiknya, begitu pula saya yang juga ingin tetap bersekolah setinggi-tingginya.

“Seharusnya saya kaya-raya dan punya banyak uang sendiri agar bisa bayar kuliah saya sendiri.”

Rasa insecure sering datang menyergap ketika membaca tentang mahasiswa yang bisa kuliah gratis di universitas-universitas top di Indonesia maupun luar negeri. Saya sering merasa bersalah mengapa saya tidak masuk universitas X di jurusan Y serta mendapat beasiswa. Dan jurusan yang sedang saya jalani kini berbeda dengan jurusan yang jadi keinginan saya ketika sekolah dulu. Meskipun begitu, saya cukup senang dengan apa yang saya lakukan karena banyak pelajaran mahal yang juga saya pelajari dan kulik di jurusan sekarang ini. Tapi rasa bersalah itu tetap kadang muncul meski saya menikmati hal yang sedang saya jalani. 

“Seharusnya aku dapat jurusan itu dulu supaya bisa sekolah di Universitas X agar ceritanya gak begini…” Well, klise, bukan?

Namun rupanya rasa bersalah saya  membuat diri ini menjadi lebih disiplin. Saya tidak mau menyia-nyiakan apa yang sudah orang tua bayarkan. Ikut kelas dengan rajin, memakai fasilitas kampus, berkoneksi, dan mengembangkan diri saya semaksimal mungkin. Ya, meskipun feeling guilty itu bakal tetap ada, tapi paling tidak saya masih memanfaatkannya untuk sesuatu yang positif.

Saya terinspirasi dari Joko Anwar yang kuliah Teknik Penerbangan tapi sekarang jadi sutradara film Gundala, Raditya Dika yang kuliah Ilmu Politik malah sekarang jadi penulis dan stand up comedian, Henry Manampiring yang kuliah Akuntansi malah kerja jadi marketer dan penulis buku hingga Budi Gunadi yang lulusan Fisika Nuklir malah menjadi Menteri Kesehatan. Dari mereka saya belajar bahwa hidup gak melulu pada satu jalur yang sama, sih. Kayaknya kuncinya itu lakukan hal yang disukai dengan konsisten terlepas dari latar belakang pendidikan. Mungkin mereka pernah merasa bersalah pada keluarga atau diri sendiri, namun mereka membalasnya dengan kesuksesan.

Baca Juga Leo Tolstoy: Pergolakan, Akhir Hayat Sunyi

Karena tidak ada sesuatu yang sia-sia untuk dipelajari. Kata Steve Jobs, connect the dots, meski berbeda namun selalu temukan hubungan antara satu dan lainnya. Dari pesan Steve Jobs itu membantu saya untuk lebih semangat menjalani apa yang saya lakukan dengan selalu mencoba menemukan hubungan antara berbagai hal yang saya lakukan. Selain melatih kreativitas, connect the dots juga membuat saya melihat secercah harapan. Kalau saya melakukan A bukan berarti saya tidak bisa jadi B. Hal tersebut juga meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi perasaan bersalah akan apa yang saya pilih dan lakukan.

Kadang hidup gak sesuai rencana, kadang hidup juga terasa begitu membingungkan. Semoga kita semua segera pulih dan menendang jauh-jauh perasaan bersalah terhadap hal yang terjadi dalam hidup ini.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.