Peradaban dari .Feast, Membuat Saya Menyelami Konsep ‘Anarki’

Peradaban dari Feast, Membuat Saya Menyelami Konsep 'Anarki'

Peradaban dari .Feast, Membuat Saya Menyelami Konsep ‘Anarki’

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

.Feast, band rock asal Jakarta, “berorasi” dengan cerdas dan lantang dalam lagu berjudul ‘Peradaban’. Dalam lagu tersebut, .Feast mengaku memang ingin membicarakan berbagai persoalan yang menurut mereka jarang diangkat.

.Feast yang beranggotakan Baskara Putra (Vocal), Adrianus Aristo Haryo (Drums), Adnan S.P. (Guitar), Dicky Renanda (Guitar), dan Fadli Fikriawan (Bass) ini juga mengungkapkan bahwa secara konteks penulisan lirik, jauh lebih frontal dibanding album pertama mereka, ‘Multiverse’.

Lebih khusus, sebagai penulis lagu Peradaban, Baskara, menceritakan tentang budaya Indonesia yang tak akan hilang. Budaya dan peradaban tak akan luntur meski diterpa isu, budaya baru atau paham baru.

Inspirasi Peradaban sendiri, sebenarnya muncul ketika tragedi Bom Surabaya. Dari diskusi bersama personel .Feast lain, Baskara berpikir bahwa paham teroris yang belakangan disebut radikal tidak ada artinya melawan keaslian Indonesia.

Interpretasi Sebagai Pendengar

Terlepas dari penjelasan makna dan asal muasal ide penulisan Peradaban, saya sebagai pendengar, malah menjabarkan dan terilhami dengan sebuah gagasan yang menghendaki sebuah kebebasan dalam tindakan maupun pikiran.

Lirik Peradaban seperti;

“Jangan coba atur tutur kata kami”

Atau,

“Jangan coba atur gaya berpakaian kami”

Telah menjadi “gerbang” mengapa saya menulis ini. Selain itu, repetisi kental dalam Peradaban, secara langsung membuat saya, sekali lagi, sebagai pendengar, malah seperti tertarik menyelami pemikiran anarki.

Makna-makna yang terkandung dalam lirik Peradaban, secara harfiah “menyulut pemberontakan” terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, bahkan mampu bermetamorfosa sebagai “corong penentang keteraturan dan sikap konyol” Dalam banyak hal.

Tak hanya dari segi repetisi lirik, Tempo Peradaban yang terdengar medium juga menjadikan lagu ini mudah dijadikan anthem untuk bernyanyi bersama.

Seperti yang terjadi pada Selasa (24/9) di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Kala itu, mahasiswa mengumandangkan Peradaban di tengah aksi protes.

Peradaban dari .Feast menjadi salah satu lambang perjuangan hari itu.

Apa Itu Anarki?

Di Indonesia, terjadi sebuah kesalahpahaman masif terhadap pengertian dan pemahaman doktrin ‘anarki’. Banyak pula yang tak paham membedakan yang mana anarki dan yang mana vandalisme. Karena sebenarnya kata ‘anarki’ bukan ditujukan kepada orang-orang yang melakukan perusakan. Dan terdapat perbedaan yang jauh diantara anarki dengan vandalisme.

Anarki sebenarnya merupakan kata serapan dalam bahasa Inggris dari anarchy. Menukil dari Britannica.com, anarki berasal dari bahasa Yunani (anarchos) yang berarti ‘tanpa pemerintahan’. Sementara itu anarkis adalah sebutan bagi orang-orang yang menganut paham anarki.

Britannica.com menyebutkan bahwa orang pertama yang rela menyebut dirinya seorang anarkis adalah penulis politik Prancis dan pelopor sosialis Pierre-Joseph Proudhon. Dalam studinya yang kontroversial tentang basis ekonomi masyarakat, Qu’est-ce que la propriété? (1840), Proudhon berpendapat bahwa hukum masyarakat yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan otoritas melainkan berasal dari sifat masyarakat itu sendiri, dan dia meramalkan pembubaran wewenang dan kemunculan tatanan sosial secara alami:

Karena manusia mencari keadilan dalam kesetaraan, maka masyarakat mencari ketertiban dalam anarki. Anarki-tidak adanya kedaulatan-begitulah bentuk pemerintahan yang kita hadapi setiap hari.

Sementara itu, Ericco Malatesta yang juga tokoh anarki mengatakan bahwa penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas.

Bagi mereka yang menganut paham anarkisme, mereka tak menginginkan adanya strata sosial dan hierarki. Bagi mereka seluruh manusia sama kedudukannya. Dan pemerintah adalah bentuk hierarki karena adanya kedudukan, undang-undang buatan manusia, dan hukum.

Di seluruh dunia, jumlah anarkis cukup banyak karena keberadaan mereka tercatat sudah lebih dua abad. Maka dari itu, Pluralitas pandangan tentang anarki tak bisa dihindari. Garis merah anarkisme konsisten dan prinsip fundamentalnya transparan. Adapun salah satu hakikat dari anarki sendiri, adalah;

Anarki adalah perindu kebebasan martabat individu. Ia menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih masyarakat tanpa pemerintah. Jadi, anarki sejatinya adalah bumi utopis yang dihuni individu-individu yang ogah memiliki pemerintahan.

Konsekuensi dari butir pertama, anarki memunculkan antihirarki. Sebab hierarki selalu berupa struktur organisasi dengan otoritas yang mendasari cara penguasaan yang menindas. Bukannya hierarki yang jadi target perlawanan, melainkan penindasan yang menjadi karakter dalam otoritas hierarki tersebut.

Selanjutnya, setelah saya semakin menyelam, saya menemukan varian-varian anarki yang bagi saya ter-representasikan dengan baik oleh Peradaban Feast. Dan sejalan pula, dengan interpretasi saya, selaku pendengar. Yaitu, anarkisme individualisme atau Individual-anarkisme yang merupakan satu tradisi filsafat dalam anarkisme yang menekankan pada persamaan kebebasan dan kebebasan individual. Konsep ini umumnya berasal dari liberalisme klasik. Kelompok individual-anarkisme percaya bahwa “hati nurani individu seharusnya tidak boleh dibatasi oleh institusi atau badan-badan kolektif atau otoritas publik”. Karena berasal dari tradisi liberalisme, individual-anarkisme sering disebut juga dengan nama “anarkisme liberal”.

Kemudian, ada pula varian anarki yang sangat menarik, yaitu, ‘anarkisme dalam agama’;

Dalam agama Islam, kelompok anarkisme melakukan interpretasi terhadap konsep bahwa Islam adalah agama yang bercirikan penyerahan total terhadap Allah, yang berarti menolak peran otoritas manusia dalam bentuk apa pun. Anarkis-Islam menyatakan bahwa hanya Allah yang mempunyai otoritas di bumi ini serta menolak ketaatan terhadap otoritas manusia dalam bentuk fatwa atau imam. Hal ini merupakan elaborasi atas konsep “tiada pemaksaan dalam beragama”. Konsep anarkisme-islam kemudian berkembang menjadi konsep-konsep lainnya yang mempunyai kemiripan dengan ideologi sosialis seperti pandangan terhadap hak milik, penolakan terhadap riba, penolakan terhadap kekerasan dan mengutamakan self-defense, dan lain-lain.

Baca Juga: Saling Memeluk di Dalam Pilu Membiru Experience

Sementara dalam agama Kristen, konsep yang dipakai oleh kaum anarkis-kristen adalah berdasarkan konsep bahwa hanya Tuhan yang mempunyai otoritas dan kuasa di dunia ini dan menolak otoritas negara, dan juga gereja, sebagai manifestasi kekuasaan Tuhan. Dari konsep ini kemudian berkembang konsep-konsep yang lain misalnya pasifisme (anti perang), non-violence (anti kekerasan), abolition of state control (penghapusan kontrol negara), dan tax resistance (penolakan membayar pajak).

Apa yang saya dapat setelah kembali ke “permukaan” adalah; rasa terimakasih.

Saya berterimakasih kepada Peradaban milik Feast. Sebab karna lagu dan terkhusus karna liriknya lah, saya tersadar bahwa memang sejatinya, hak untuk hidup, kebebasan pemikiran, tindakan, maupun sikap penolakan terhadap hal apapun yang mengganggu dan cenderung menindas, adalah suatu kerinduan serta perlawanan akan kebebasan itu sendiri yang terbingkai dalam suatu pemahaman yang bernama, ‘anarki’.

“Suatu saat nanti kita memimpin diri sendiri”

Dan,

“Semoga semua berbesar hati”

Saya juga tak lantas meminta orang-orang sependapat dengan ini. Karna, toh, ‘hidup tak sependek penis laki-laki’.

Sumber Foto: @mikaelaldo

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.