Penghuni Alam 4 Dimensi di Indonesia dan Portal Waktu di Inggris

Penghuni Alam 4 Dimensi di Indonesia dan Portal Waktu di Inggris

Penghuni Alam 4 Dimensi di Indonesia dan Portal Waktu di Inggris

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Penghuni yang sebelumnya tak akan pernah disangka-sangka.

Thexandria.com – Ada beberapa peradaban yang dianggap khayal atau benar-benar nyata namun gaib di Indonesia, termasuk yang paling terkenal adalah Wentira. Wentira adalah kota tak kasat mata yang dipercaya ada di daerah Sulawesi Tengah.

Wentira diceritakan memiliki hal-hal yang luar biasa. Mulai dari struktur kotanya yang canggih dan punya peradaban tinggi, sampai penduduknya yang tampan dan cantik.

Menurut beberapa sumber, Kota Wentira sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Dari kesaksian yang pernah ditulis, seorang pilot yang mengendarai pesawat tempur milik Belanda telah melihat kota megah di tengah hutan.

Baca Juga Ritual Sakral Suku Dayak; Mangkok Merah, Ngayau (Penggal Kepala), dan Perjanjian Tumbang Anoi

Bangunan-bangunan di kota tersebut berwarna kuning keemasan dengan gedung-gedung pencakar langit lainnya. Nama Kota ini diambil dari kata Uventira yang bermakna air yang bewarna merah. Tetapi, masyarakat sekitar tetap familiar dengan nama Wentira.

Jalan menuju Wentira dipercaya bisa dituju dari sebuah daerah di Palu. Selain itu, ada juga beberapa jalan lain yang dipercaya bisa menuju Wentira. Misalnya tugu kuning di wilayah bernama Tavaeli dan Proboya.

Untuk bisa ke Wentira dipercaya tidak diperlukan ritual macam-macam. Melainkan cukup kekuatan batin, yang sayangnya, tak semua orang menyadari dan dapat membuka kemampuan indera ke-6 nya.

Konon, Wentira merupakan wilayah kota tempat berkumpulnya para jin. Menurut kesaksian orang-orang yang mengklaim menguasai ilmu batin, peradaban yang ada di Kota Wentira tidak seseram apa yang dibayangkan.

Mereka menyebutkan bahwa peradaban di Kota Wentira lebih modern dan canggih daripada kota-kota yang ada di luar negeri. Hampir semua bangunan dan gedung bentuknya pencakar langit dan terbuat dari emas.

Baca Juga Anak Kecil yang Menembus Teralis Jendela Kamar; Jogja, Kaliurang Kilometer 13

Menurut warga setempat, para penduduk Wentira tidak jauh dengan penampilan fisik manusia pada umumnya. Yang membedakannya adalah mereka tidak memiliki garis tengah di bibir mereka.

Masyarakat percaya bahwa penghuni Wentira sering berbelanja di pasar tradisional, mereka berbaur dengan manusia. Salah satu warga sempat mengakui pernah bertemu dengan penghuni Wentira. Ia mengatakan bahwa mereka mengenakan baju kuning dan tidak memiliki garis bibir.

Selain itu, terdapat pula kota Saranjana, yang disebut-sebut sebagai kota gaib yang secara administratif (di dunia nyata) masuk Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Namun, letak pastinya hingga kini tidak diketahui selain letaknya ada di Pulau Halimun yang sering dikenal Pulau Laut, dimana ibu kota Kabupaten Kotabaru bertempat.

Cerita tentang Saranjana ini melegenda karena ada beberapa hal ghaib yang beredar dari mulut ke mulut tentang Kota Saranjana dan makhluk tak kasat mata penghuninya.

Saranjana konon adalah kerajaan atau kota besar alam gaib, letaknya di bagian selatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru.

Saranjana kini menjadi sebuah mitos yang dipercaya masyarakat sekitar, terdapat pula kejadian-kejadian aneh yang sampai hari ini, semakin meng-glory kan eksistensi Saranjana.

Disebutkan pada 1980-an, pemerintah setempat dikagetkan oleh kedatangan sejumlah alat berat pesanan dari Jakarta.

Semua alat berat dengan nilai sangat mahal itu dipesan seseorang dengan alamat Kota Saranjana dan telah dibayar lunas.

Baca Juga Mengenai Hakikat Roh Dalam Dogma Islam

Padahal, Kota Saranjana di alam nyata secara administratif tidak ada di Kabupaten Kotabaru.

Masyarakat percaya bila Kota Saranjana dihuni makhluk berupa jin muslim.

Namun ada pula yang mengatakan, Kota Saranjana dihuni manusia namun yang telah menggaib, atau moksa.

Kabar yang beredar dari mereka yang mengaku pernah masuk ke Saranjana menuturkan, bahwa kotanya sangat maju dengan jalan raya yang lebar, gedung perumahan yang megah dengan pagar rumah tinggi.

Sistem pemerintahannya kerajaaan, mayoritas penduduknya beragama Islam.

Masih dari cerita yang beredar, buah-buah yang tumbuh di kota Saranjana ukurannya besar dan berkali lipat dari di alam nyata.

Jenis buahnya sama dengan di alam manusia, tapi ukurannya yang raksasa.

Jika buah itu dibawa ke alam nyata, ukurannya berubah menjadi ukuran normal.

Kabarnya, penduduk Kota Saranjana secara fisik juga sama dengan manusia.

Namun mereka semua diklaim secara fisik lebih cantik dan gagah.

Mereka semua juga diceritakan merupakan penduduk yang ramah dan bahasa yang digunakan untuk percakapan adalah Bahasa Banjar.

Pada malam hari, di sekitar Gunung Saranjana, dipercaya bila memang ditakdirkan akan mendengar suara-suara dari Kota Saranjana, seperti suara alunan musik, atau kendaraan yang lalu lalang.

Bahkan ada cerita mobil-mobil mewah pesanan warga Saranjana dari Surabaya, tapi tidak tahu asal pemilik atau pemesannya.

Begitu pula kisah lain tentang kapal ferry yang mengangkut banyak penumpang dari Tanjung Serdang Kotabaru, namun begitu merapat ke Pelabuhan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, mendadak sepi.

Sementara di Inggris, terdapat sebuah legenda dari abad 12 yang masih dipercaya sampai sekarang. Legenda tentang anak-anak berkulit hijau di Desa Woolpit.

Kisah ini dimulai ketika seorang anak laki-laki dan saudara perempuannya ditemukan oleh seorang petani di dekat parit yang digunakan untuk menangkap serigala di St Mary’s of the Wolf Pits (Woolpit).

Saat ditemukan, kulit kedua anak tersebut berwarna hijau dan mereka menggunakan pakaian dari bahan yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Bahkan, ketika ingin berkomunikasi dengan mereka, petani tersebut tidak dapat memahami apa yang dikatakannya.

Kemudian mereka dibawa ke suatu desa, di mana mereka akhirnya diterima oleh sang pemilik rumah, Sir Richard de Caine di Wilkes.

Karena tampak kelaparan, sang pemilik rumah menyajikan makanan untuk mereka, namun mereka tidak memakannya. Karena itu, para penduduk desa membawa kacang yang baru saja dipanen untuk diberikan kepada kedua anak tersebut.

Selama berbulan-bulan mereka hanya makan kacang sampai mereka mencoba sebuah roti.

Namun, karena sakit, anak laki-laki tersebut meninggal dunia. Sementara, anak perempuan semakin sehat dan warna hijau pada kulitnya menghilang. Dia pun belajar berbicara bahasa Inggris agar dirinya dapat menceritakan asal usul mereka.

Menurut beberapa sumber, anak perempuan tersebut mengambil nama ‘Agnes Barre’ dan dia telah menikah dengan seorang pria yang diketahui adalah duta besar Henry II.

Anak perempuan tersebut kemudian bercerita bahwa dia dan saudara laki-lakinya berasal dari Saint Martin, di mana tempat tersebut tidak ada matahari dan semua penghuninya berwarna hijau seperti dirinya. Dia menggambarkan bila tanah yang “bercahaya” hanya bisa dilihat di sebrang sungai.

Sebelum ditemukan, dia dan saudara laki-lakinya menemukan sebuah gua saat sedang mencari ayahnya. Mereka memasuki gua dan berjalan di kegelapan dalam waktu yang lama sampai akhirnya mereka keluar dan melihat cahaya yang sangat terang.

Cerita ini ditulis oleh dua penulis kronik abad ke-12, Ralph of Coggestall (meninggal tahun 1228 M), seorang kepala biara Cistercian di Coggeshall yang mencatat kisah ini di the Chronicon Anglicanum (English Chronicle) dan William of Newburgh (1136-1198 AD), seorang sejarawan dan kanon Inggris di Newburgh Priory Augustinian, yang mencakup kisah ini dalam karyanya di Historia rerum Anglicarum (History of English Affairs).

Coggestall dan Newburgh menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi dalam masa pemerintahan Raja Stephen (1135-54) atau Raja Henry II (1154-1189).

Penghuni Kota Wentira dan Saranjana Makhluk 4 Dimensi?

Sebelumnya perlu dipahami bahwa ruang tempat kita hidup ini berdimensi tiga. Arah dimensi, atau sumbu, itu dapat dibedakan sebagai depan-belakang, kiri-kanan, dan atas-bawah. Dalam ilmu ukur ruang, dimensi atau sumbu juga disebut koordinat. Biasanya diberi notasi x untuk sumbu kiri-kanan, y untuk sumbu depan-belakang, dan z untuk sumbu atas-bawah.

Kita bebas bergerak di ketiga sumbu ini, bolak-balik sesuka hati asalkan tak ada yang menghalangi.

Banyak pula yang tidak tau, bahwa dimensi yang kita alami sebenarnya bukan cuma 3, tetapi dimensi 4. Sumbu yang satu lagi itu adalah waktu. Biasanya notasinya adalah t.

Diantara yang sudah menyadari ini, kebanyakan beranggapan dimensi waktu t terpisah sama sekali dari dimensi yang tiga (x, y, z). Alasannya, kita tidak memiliki kebebasan pada dimensi t. Waktu t tidak bisa kita jelajahi sesuka hati seperti kita menjelajahi ruang x, y dan z.

Karna kita sebagai makhluk 3 dimensi terperangkap dalam waktu. Kita hanya dapat mengalir bersamanya pada satu arah, menuju masa depan. Berdasarkan logika, hampir semua orang beranggapan bahwa waktu mengalir dengan kecepatan yang sama bagi semua orang di semua tempat.

Satu jam bagi anda sama dengan satu jam bagi saya, bagi semua orang. Dan semuanya hanya menuju masa depan. Waktu tidak bisa mundur. Kita semua diseret oleh waktu.

Kita semua khususnya masyarakat dengan adab timur, mempercayai makhluk-makhluk lain selain manusia, hewan, atau tumbuhan. Dalam dogma islam, disebut jin. Begitupun dalam dogma-dogma serta kepercayaan spiritual yang lain.

Semuanya meyakini akan adanya suatu makhluk yang tidak dapat dilihat, menembus ruang, serta tidak terikat dengan hukum waktu di alam 3 dimensi.

Walaupun hakikat dari dimensi serta asal-muasalnya masih menjadi perdebatan. Tak berlebihan rasanya, jika kita menyematkan para penghuni Kota Wentira ataupun Saranjana merupakan makhluk 4 dimensi. Mengapa demikian?

Sederhana, mereka tidak terikat dalam hukum waktu, tidak terikat dalam notasi x, y, dan z. Mereka adalah notasi t, yang bebas bergerak ke notasi x, y dan z. Sedangkan kita, masih terpaku dalam 3 notasi, atau dapat dibilang, realitas ruang dan waktu.

Anak-anak Hijau di Desa Woolpit Tanpa Sadar Melewati Gerbang Waktu?

Dalam kesaksianya, anak perempuan itu mengaku memasuki gua gelap dan melakukan perjalanan yang cukup lama hingga sampai di desa Woolpit.

Menurut Stephen Hawking, yang juga adalah penulis A Brief History of the Time, sehalus dan selicin apa pun sebuah benda, di dalamnya pasti ada lubang dan kerutan. Prinsip itu juga berlaku atas waktu.

Di busa kuantum atau quantum foam, yang lebih kecil ketimbang atom, terdapat lubang cacing, lorong atau jalan pintas yang menembus ruang dan waktu. Lorong-lorong itu terbentuk dan menghilang dan terbentuk kembali secara acak.

Karna itu bisa saja, jika ujung goa yang dilewati oleh anak-anak hijau yang mengaku dari suatu tempat bernama Saint Martin itu, tanpa sadar telah memasuki lorong waktu yang hilang dan terbentuk kembali secara acak.

Stephen Hawking, yang juga diakui sebagai fisikawan paling cemerlang di zaman ini, menulis: “Perjalanan lintas waktu pernah dianggap sebagai kesesatan saintifik. Saya pernah menahan diri dari membicarakannya supaya tidak dicap gila.

Tapi, sekarang, saya bisa lebih santai … Andai punya mesin waktu, saya akan mengunjungi Marilyn Monroe ketika ia sedang cantik-cantiknya atau menonton Galileo saat ia meneropong surga. Saya barangkali akan berkunjung ke akhir alam semesta untuk mengetahui bagaimana keseluruhan cerita kosmik kita berakhir.”

Sumber Gambar: Kaskus

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.