Pengemis: Meraup Pundi dari Sifat Malas dan Belas Kasihan

Pengemis Meraup Pundi dari Sifat Malas dan Belas Kasihan

Pengemis: Meraup Pundi dari Sifat Malas dan Belas Kasihan

Penulis Alya Nabilah Suwandi | Editor Dyas BP

Mereka yang sehat mengapa memilih mengemis?

Thexandria.com – Oke, sebagai awalan mungkin judul ini terlalu kasar untuk dibaca. Tanpa ada maksud clickbait (walau pada dasarnya sebenarnya infiltrasi judul itu penting) tapi di sini saya ingin menarasikan sebuah pengalaman dan menuangkan sebuah opini bebas tentang seorang pengemis, terutama di Ibu kota.

Secara normatif, profesi pengemis bukanlah sebuah pekerjaan yang lumrah bisa dikatakan sebuah profesi. Jangankan menjadi pengemis sungguhan, zaman dahulu kita meminta makanan dari teman saja terkadang dilarang oleh orang tua—engga sopan katanya. Bahkan tak sedikit orang tua yang mendidik anaknya untuk tumbuh dengan mental tidak meminta-minta. Tapi sayangnya, mengemis alias meminta-minta kini semakin diminati oleh beberapa orang yang lebih memilih jalan pintas dalam mencari uang.

Indonesia ini negara yang dikenal karena keramahannya, meskipun banyak yang menilai bahwa keramahan hanya ditujukan kepada sosok ‘tamu’. Keramahan yang berlebihan terkadang menjalar merupa sifat “terlalu baik” hingga “tidak enak-an”. Sosok pengemis yang ada di mana saja menjadi bukti bahwa masih banyak orang terlalu baik dan yang tidak enak-an di Indonesia. Bagaimana tidak, banyak dari kita yang 0 naluri dan rasa simpati yang sangat mudah tersentuh. Saat melihat seorang pemuda lusuh yang duduk di jalan kita langsung memberinya uang, atau ketika melihat seorang ibu membawa bayi kita langsung merasa iba dan memberinya uang juga. Sehingga, dari kebaikan dan rasa iba inilah mereka tumbuh bahkan bertahan hidup. Bermodal belas kasihan dan kebaikan orang-orang mereka bertahan dengan keadaannya. Ya gimana mau lepas, kerjaan hanya duduk tapi dapat uang, enak banget, hehehe.

Baca Juga Menjadi Perempuan dan Merasa Tidak Aman

Sedekah memang urusan kita dan Yang Maha Esa, diterima atau tidak, jujur atau tidak ya kembali pada niat kita saja. Cuma kalau terus begini, akan semakin banyak orang yang memiliki mental pengemis alias minta-minta. Padahal jika ingin lebih berusaha sedikit, akan banyak orang yang membutuhkan jasa tenaga buruh cuci keliling hingga sekadar mendorong gerobak di proyek bangunan.

Ingat kasus pengemis heboh di Bogor beberapa tahun lalu? Seorang kakek-kakek tua renta yang (maaf) tidak memiliki hidung, mengemis di area lampu merah Dramaga. Karena kebaikan orang-orang kakek tersebut selalu berhasil mengumpulkan pundi-pundi setiap harinya. Ditunjang oleh kemajuan teknologi, rasa empati akan terkonversi sosial media menjadi lebih massif dengan tajuk semacam “Twitter, please do your magic!”. Orang yang membuat konten tersebut tentu tidaklah salah, ia hanya berniat baik. Tetapi mari kita lihat kenyataannya; Seorang kakek pengemis di Bogor yang hingga kini belum diketahui identitasnya tertangkap basah sedang membuka sebuah pintu mobil Xenia berwarna hijau. Saat ditemui oleh tim Satpol PP Kota Bogor, kakek tersebut langsung bergegas menuju mobilnya.

Saat di tanya, ia mengatakan telah mengemis sejak tahun 1980 (lama juga bossh), dan kini hanya tinggal dengan anak dan menantunya disebuah rumah kecil. Sehari-harinya dia mengaku mampu meraup penghasilan hingga Rp 200.000, itu semua belas kasih dari orang lain. Saat ditanya mengenai mobilnya, ia mengatakan bahwa ia terpaksa menyewa karena ia sudah tidak kuat lagi naik angkot. Sedangkan menurut pengakuan menantunya, ia menyewa mobil lantaran malu karena wajahnya yang tidak sempurna kalau naik angkot.

Benar atau tidaknya berita yang beredar mengenai rumah mewah ataupun 3 orang istri, tetap saja pekerjaan utama sehari-hari dari kakek ini mengemis. Ya, sebuah jalan pintas yang mudah untuk meraup uang tanpa usaha yang keras—tak perlu pendidikan tinggi, tak perlu lelah mengangkat ini-itu dan tak dipenuhi rasa anxiety setiap malamnya. Logikanya jika seseorang benar-benar membutuhkan uang, tentu akan sayang mengeluarkan uang Rp 85.000 setiap hari untuk menyewa mobil dan supir pribadi. Ya kan? 

Juga tentang kasus kakek pemulung di daerah Bandung, lagi-lagi karena seseorang memposting video atas dirinya lalu viral identitas kakek itu terungkap. Dalam video tersebut, sang kakek mengaku pendapatannya sehari hanya Rp 1.500-2.000. Itupun hanya cukup untuk beli air putih, urusan makan belakangan ungkapnya. 

Setelah viral, banyak orang yang kemudian datang untuk memberikan bantuan kepada kakek pemulung itu. Namun setelah mendatangi langsung rumahnya, banyak yang malah kecewa. Ternyata, kakek yang mengatakan pendapatannya hanya Rp 1.500-2.000 itu tinggal di sebuah rumah yang terbilang cukup mewah sebagai seseorang yang pendapatannya dibawah Rp 10.000. Sehingga semua orang yang datang untuk membantu mengurungkan niatnya dan memberikan bantuan tersebut kepada tetangga yang benar-benar membutuhkan. 

Sebenarnya itu semua bukanlah hal urgen yang harus saya pikirkan. Namun, ibu saya mengajarkan, bahwa sedekah itu tentang kita dengan Tuhan. Tentang niat kita, jika niat kita untuk berbagi apapun ‘keaslian’ dari pengemis itu ya bukan urusan kita. Terpenting adalah niat kita baik. Tetapi entah kenapa, saya sedikit kesal karena melihat kenyataan seperti di atas. 

Di sebuah daerah dekat perumahan saya, ada seorang ibu-ibu yang selalu membawa anak kecil. Ia juga membawa sebuah pengeras suara, mungkin untuk bernyanyi. Penampilannya benar-benar menyedihkan, di hari yang panas ia membawa dua anaknya yang masih kecil. Sang anak berusia kisaran setengah tahun karena masih digendong, dan yang satu lagi mungkin 4 tahun. Setiap hari saya selalu melewatinya, tapi hanya sekali saya pernah berhenti dan memberinya sesuatu. Lalu saya melanjutkan perjalanan saya untuk belanja, saat jalan pulang tiba-tiba saya melihat bahwa ada seseorang yang menjemput ibu tersebut menaiki sepeda motor. Pantas saja ibu tersebut selalu duduk di tempat yang sama, ternyata itulah tempatnya menunggu untuk dijemput.

Baca Juga: Juru Parkir Liar: Profesi Santai nan Menjanjikan

Sebenarnya sah-sah saja seseorang memiliki motor, namun sedikit menggelitik ketika ia hingga mengemis dengan membawa dua bahkan tiga orang anak sekaligus. Padahal biaya hidupnya pasti akan tercover dengan menjual motornya. Tanpa ada maksud menghina atau merendahkan profesi lain, tetapi maksud saya: bukankah masih banyak pekerjaan lain? Ada orang buta yang bertahan hidup dengan berjualan kerupuk, ada orang yang kakinya pincang namun tetap mampu bekerja. Sedangkan mereka yang sehat mengapa memilih mengemis? Maka benar saja hipotesa sederhana saya; bahwa pengemis adalah orang yang malas. 

Dua kasus di atas hanyalah segelintir contoh, silahkan cari di Google untuk melakukan pencarian kasus serupa yang lebih banyak. Budaya mengemis memang tidak bisa hilang, mungkin banyak orang yang tidak dapat melakukan apapun lagi sehingga ia terpaksa mengemis. Rasanya ironi jika itu dijadikan sebuah profesi, ketika kebaikan dan rasa simpati masyarakat dimanfaatkan oleh mereka yang justru menjadi keuntungan materil. Sekali lagi, tidak ada maksud membenci atau mendiskreditkan para pengemis di artikel ini. Saya hanya ingin membuat teman-teman lebih berhati-hati dalam memberikan bantuan, karena nyatanya masih banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan sesungguhnya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.