Pemuda; Survive Menghirup Udara Asing dari Atmosfer Dunia Bisnis

Berbisnis di usia muda bukan hal baru, semua juga dimulai dari ketidak-tahuan.

Penulis: Rafli Abdul Aziz | Editor: Dyas BP

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Kutipan dari sang Proklamator seolah memiliki intuisi dengan linimasa realitas yang terus bergulir hingga masa kini. Manifestasi pemuda sebagai pionir perubahan untuk setiap dinamika negeri menjadi sebuah harapan yang tidak bisa dikatakan nihil probabilitas dan esensinya. Kelebihan yang dimiliki pemuda antara lain kekuatan, keberanian, tekad, semangat, dan potensi diri, hal ini yang membuat pemuda sangat kuat dan berpotensi dalam mengembangkan sesuatu.

Tak bisa dipungkiri semangat pemuda sangat strategis dalam menginovasi kehidupan masyarakat luas. Segala aspek baik dari tatanan ekonomi, sosial, budaya, sampai politik dapat dirubah dengan pemikiran-pemikiran pemuda yang berpotensi mematahkan pakem yang dianggap terlalu klasik dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Dalam sektor ekonomi yang saat ini menjadi orientasi sang Presiden dibarengi juga tujuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu dari sumber daya manusia (SDM). Sehingga harapan besarnya ialah terbentuk sebuah integrasi yang solid antara kedua orientasi tersebut—ekonomi kreatif merupakan kemasan yang diharapkan dari kedua hal terebut. Agar tidak menjadi sebuah harapan palsu alias hipokrit, pemuda harus berani memulai. Menjadi seorang wirausahawan adalah salah satu langkah pemuda untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara dalam sektor ekonomi. Yang dalam prosesnya akan membuka lapangan pekerjaan, sehingga dapat membantu negara untuk menurunkan rasio persentase pengangguran yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik masih “mager” di angka 6,87 juta penduduk.

Pemuda harus berpikir kritis untuk bisa memecahkan masalah dan menemukan solusi. Untuk memajukan bangsa, pemuda harus mampu melihat peluang yang ada dan berani untuk memulai sebuah perubahan. Keluar dari zona nyaman dan berani tampil berbeda dibandingkan dengan yang lain, yaitu dengan berani memulai bisnis atau usaha. Walaupun sifatnya usaha kecil menengah dengan modal seadanya, apabila ditekuni dengan ulet dan serius akan menjadi sebuah “Mahakarya” di masa yang akan datang.

“Cintailah sebuah proses. Karena yang instan di dunia ini cuma mie instan dan efek orang dalam!”

Melubangi Sebuah Stigma Kuno

Pola pikir atau stigma kebanyakan orang untuk menjadi sukses adalah dengan menjadi pegawai negeri di pemerintahan maupun instansi lainnya, sebuah pemikiran yang saya anggap sudah sangat-sangat-ekstra kuno. Hal itu dikarenakan pekerjaan tersebut sebagian besar dipandang memiliki penghasilan tetap dan jumlahnya tidak sedikit—yang sumbernya sendiri masih dipertanyakan. Kemudian alasan lainnya ialah menjadi pegawai pemerintahan terjamin dari sisi kesejahteraan melalui tunjangan, insentif, dan uang jaminan di masa tua alias “duit pensiunan”. Didasari oleh faktor kelebihan itu banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pegawai pemerintahan. Beralih ke kondisi di lapangan, dalam proses dan prosedurnya yang cukup birokratif, dan para pesaing yang tidak sedikit membuat hasil akhir masih samar.

“Menjadi pegawai negeri merupakan hal yang bagus, tetapi untuk menjadi sukses tidak hanya dengan jalan itu!”

Beberapa anak muda berpendapat bahwa untuk memulai bisnis itu rumit, lihat saja pada proses persiapannya yang memakan tenaga, waktu, pikiran dan tentunya, uang. Oleh karena itu untuk memulai menjalankan usaha atau bisnisnya, pemuda haruslah mempunyai tekad, konsistensi, dan jiwa pantang menyerah. Karena dalam menjalankan bisnis akan banyak rintangan yang akan dihadapi, tetapi semua perjuangan tersebut akan terbayarkan saat sukses menghampiri di kemudian hari. Pemuda harus mengimplementasikan keberanian dalam bisnisnya dan mau mengambil risiko untuk memulai usaha. Sebuah kebanggaan menjadi seorang wirausahawan dibandingkan menjadi pegawai negeri tertuang dalam kutipan sosok usahawan sukses, Bob Sadino, “Setinggi apa pun pangkat yang anda miliki, anda tetaplah karyawan. Sekecil apa pun usaha anda, anda adalah Bos-nya.”. Kutipan tersebut ibarat pelecut yang “memanaskan mesin” untuk berwirausaha.

Lalu kutipan dari Zig Ziglar “Kamu tidak harus menjadi hebat dulu untuk memulai, tapi kamu perlu memulai untuk menjadi hebat.” yang bisa dimasukkan sebagai motivasi bagi para pemuda yang masih merasa ragu, malu, bahkan belum percaya diri untuk memulai bisnisnya dikarenakan masih merasa memiliki kekurangan dan belum merasa cukup hebat untuk memulai bisnisnya.

Baca Juga: Merangkul Kawan yang Terjatuh di Titik Jenuh

Merakit Sendiri Kendaraan dan Melaju di Trek Bisnis

Segala “amunisi” terkait wirausaha harus dengan matang difikirkan, baik secara konseptual dan efisiensi. Hal lain bersifat individu seperti keterampilan dan pandangan luas untuk menghadapi perubahan zaman, sebagai pemuda yang biasa disebut millenials jangan sampai tertinggal dan tergerus oleh zaman. Karena dalam menjalankan sebuah bisnis, pemuda harus juga menyesuaikan diri dengan era revolusi industri 4.0 dan menuju 5.0, yang hampir semua pekerjaan yang ada akan digantikan oleh sistem komputer. Hal inilah yang menjadi pengingat bagi kaum muda untuk memiliki keahlian yang beragam, yang kemudian memunculkan sebuah ironi—pekerjaan manusia tergantikan oleh komputerisasi yang masif.

Kalau perlu pemuda-lah yang harus mengharmonisasikan teknologi dan manusia dalam sebuah pekerjaan yang diterapkan dalam bisnisnya. Dalam jangka panjang sendiri, bisnis tersebut dapat berkembang dan bersaing dengan produk lain yang futuristik. Di sisi lain, jangan sepelekan hasil akhir, orientasikan dan sugestikan seluruh elemen korporasi untuk meghasilkan produk-produk yang berkualitas sehingga dapat bersaing secara luas hingga ke luar negeri (dan, kalau bisapun ke luar angkasa).

Kreativitas dan inovasi juga harus bersinergi untuk menjalankan sebuah bisnis bagi pemuda agar dapat mengambil satu langkah lebih maju dari para kompetitor karena produk yang dihasilkan berbeda dari yang lain. Lihat bagaimana Nadiem Anwar Makarim menggebrak Indonesia dengan terobosannya, dengan mendirikan salah satu perusahaan transportasi berbasis daring, beliau mampu melihat peluang yang ada dan mengubahnya menjadi sebuah terobosan yang menarik. Berani keluar dari zona nyaman masyarakat dibarengi dengan kemampuan melihat peluang yang dapat dikembangkan menjadikan usahanya menjadi sebuah sejarah yang perlahan tertulis dalam dunia industri Indonesia.

Beliau juga berani mengambil risiko yang bersifat tentatif, karena pada awal pendirian usaha tersebut tidak sedikit orang terdekat yang menganggapnya tidak realisitis dan memprediksi usaha itu tidak akan sukses. Keberanian melawan “negative-vibes” itu mampu mematahkan anggapan awal semua orang terdekatnya, terlebih bisnis yang dijalaninya tersebut lebih dari sukses dan mampu menginvasi negara tetangga. Jejak rekam tersebut juga membawa beliau dipercayakan menjadi menteri termuda yang ada di kabinet Indonesia Maju.

Lalu, kamu masih khawatir gagal? Gaskeun aja dulu, kamu gak akan tau hasilnya selama belum mencoba.

Seperti kata Efek Rumah Kaca yang seolah menjadi suntikan adrenaline bagi saya,

“Pasar Bisa Diciptakan..”

Sumber foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.