Pembelaan Kepada Provinsi Sumatera Barat Melalui Anabel (Analisa Gembel)

Pembelaan Kepada Provinsi Sumatera Barat Melalui Anabel (Analisa Gembel)

Pembelaan Kepada Provinsi Sumatera Barat Melalui Anabel (Analisa Gembel)

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Semoga provinsi Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila. Merdeka!”

Puan Maharani, Ketua DPR RI

Thexandria.com – Sebuah pernyataan kontroversial keluar dari lidah Puan Maharani yang kemudian menyinggung banyak masyarakat Sumatera Barat. Pernyataan yang keluar berbarengan dengan surat rekomendasi kepada Ir. Mulyadi dan Drs. H. Ali Mukhni untuk maju di Pilkada Sumatera Barat 2020 itu mengundang tanda tanya. Apakah Puan Maharani menganggap bahwa warga provinsi Sumatera Barat selama ini tak setia kepada Pancasila? Namun jika ditinjau dari perkataannya, yang mana sih sebenarnya negara Pancasila itu? Bukankah kita saat ini berdiri di atas Negara Kesatuan Republik Indonesia?—mohon maaf Bu Puan Yth. Bukan negara Pancasila sebenarnya, Pancasila itu dasar negara, toh?

Sewaktu SD pun saya sering menyanyikan dan bahkan sampai ingat dengan lirik ini: Pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa~

Pernyataan tersebut juga menimbulkan banyak interpretasi dari masyarakat; Ada yang menganggap bahwa pernyataan itu adalah bagian dari ‘bahasa politik’ dan ditujukan kepada kader-kader PDIP di Sumatera Barat. Ada pula yang menyebut bahwa hal tersebut berangkat dari PDIP yang terlalu sering gagal ‘menguasai’ provinsi dengan ibukota Padang itu.

Baca Juga Panduan Agar Tidak Dicap Agen Radikalisme oleh Menteri Agama

Beberapa tokoh melakukan pembelaan dengan menyebut bahwa provinsi Sumatera Barat bisa dikatakan sudah nasionalis, bahkan sebelum era kemerdekaan. Bahkan salah satu Pionir kemerdekaan adalah Bung Hatta yang merupakan salah satu putra kebanggaan Sumatera Barat. Tokoh lainnya adalah Muhammad Yamin, beliau tercatat lahir di Sumatera Barat dan merupakan salah satu perumus Pancasila itu sendiri.

Sebagian besar kita pasti sudah mempelajari salah satu sejarah yang umum diketahui, yaitu Bukit Tinggi pernah menjadi ibukota darurat di republik ini. Hal tersebut terjadi pada masa agresi militer Belanda. Bayangkan saja kalau pemindahan darurat itu tidak terjadi, tentu pemerintahan Indonesia akan ‘ketar-ketir’ dan tinggal menunggu waktu tersungkur—keadaan Jakarta (Batavia) pada saat itu cukup riskan.

Maka wajar saja warga Sumatera Barat geram mendengar ucapan dari cucu Bung Karno itu. Apakah hanya karena pandangan politik yang berbeda mereka bisa men-simplifikasi bahwa Sumatera bukan provinsi yang mendukung Pancasila.

Apabila memang memakai ‘kacamata’ itu, tentu hal ini bagai ‘mengikis’ konsep demokrasi di negeri ini. Toh, faham demokrasi secara langsung ter-unifikasi dengan salah satu sila, yaitu sila ke-4: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.”

Dengan demikian, berarti demokrasi Pancasila merupakan demokrasi deliberatif—konsep demokrasi yang mendukung partisipasi masyarakat dalam menciptakan demokrasi dan hukum yang komprehensif. Meskipun terkadang makin kesini, demokrasi terasa menjelma menjadi demokrasi yang representatif alias para wakil rakyat dianggap sudah cukup menjadi representasi suara rakyat kecil.

Baca Juga Rencana Program Pendidikan Militer untuk Para Mahasiswa Adalah Sebuah Kemunduran yang Berbahaya

Kalau diraba lebih dalam, Sumatera Barat sedikit banyak memberi kontribusi kepada republik ini. Meskipun tidak secara langsung memberikan sumbangan devisa negara dengan jumlah besar, tetapi sektor kuliner mereka mampu memperkenalkan Indonesia di mata dunia.

Sebagian besar dari kita pasti setuju bahwa nasi rendang dalam sajian makanan Padang adalah salah satu ‘primadona’ bagi lidah. Tidak berhenti di situ, rendang tercatat pernah empat tahun berturut-turut dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia versi kantor surat kabar Internasional, CNN.

Hal ini bisa menjadi ‘pelumas’ bagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kampanye promosi kultur dan budaya. Dan tentunya, akan membuat seisi dunia ‘penasaran’ tentang bagaimana rasa dari rendang itu sendiri.

Tahun lalu sebelum Pandemi merebak di negeri ini, Bank Indonesia di laman resminya mencatat bahwa ekonomi Sumatera Barat mengalami peningkatan. Hal ini terkalkulasi dari meningkatnya perbandingan pada triwulan II 2019 yang sesuai dengan pola pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tumbuh meningkat hingga 5,02% pada triwulan tersebut, laporan menyebutkan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,80%. Dari situ saja jelas terlihat bahwa provinsi Sumatera Barat mampu memutar roda perekonomian di daerah mereka sendiri, yang tentunya itu akan berdampak kepada ekonomi secara makro.

Baca Juga Berdaulat Dalam Teknologi dan Industri Pertahanan, Maka Jayalah NKRI!

Bermacam pembelaan sederhana sudah dijabarkan di atas—lebih tepatnya adalah anabel (analisa gembel). Lalu, apakah provinsi Sumatera Barat baru bisa dikatakan nasionalis atau cinta Pancasila alias mendukung negara Pancasila (istilah tersebut masih membingungkan, help.) dengan memenangkan partai ‘Moncong Putih’ di provinsi Sumatera Barat?

Sejauh ini masyarakat Sumatera Barat meminta kepada Puan Maharani untuk meminta maaf dan menggelar klarifikasi atas ucapannya.

Btw, warung makan Padang terdekat di mana ya, kalo boleh tau? Kondisi laper pas siang gini emang paling enak menikmati ludah sendiri rendang, sih..

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.