Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Adalah Tindakan Cabul Menyebalkan Tingkat Gila

Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Adalah Tindakan Cabul Menyebalkan Tingkat Gila

Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Adalah Tindakan Cabul Menyebalkan Tingkat Gila

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kelakuan para pelaku pelecehan seksual makin ke sini makin minta dibumihanguskan saja. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, jagad +62 dihebohkan dengan pelaku pelecehan yang kerap mengguyur spermanya ke sejumlah perempuan di pinggir jalan raya.

Sampai saat ini, sudah belasan perempuan diduga jadi korban aksi tidak bermoral ini. Warga sekitar menyatakan identitas pelaku bernama Sidiq Nugraha sudah diketahui sebagai warga Kecamatan Cihideung, Tasikmalaya. Pada Senin (19/10) siang, pelaku akhirnya berhasil ditangkap polisi. Dia bersembunyi di lantai dua rumah kerabatnya.

LR (43) adalah salah seorang korban pelecehan pelaku pada Rabu (13/11) lalu. Saat kejadian LR sedang menunggu ojek online di pinggir Jalan Mashudi. Tiba-tiba pria berjaket hitam mengendarai motor bernomor polisi Z 5013 LB menghampirinya dan meraba-raba kemaluannya sendiri sembari melihat LR.

“Jadi kejadian itu menimpa istri saya. Tiba-tiba istri ditanya pelaku dan langsung kocok-kocok kemaluannya sambil digesek ke kursi jok motornya. Dalam keadaan takut istri saya sempat foto pelaku yang saya viralkan di Facebook. Habis itu [pelaku] langsung masukkan tangan ke celana dan lempar sperma ke tubuh istri saya. Untung enggak kena,” ujar RF, suami korban.

RF menelusuri identitas pelaku dari foto itu dan mendatangi rumah pelaku di Cihideung namun hanya ketemu keluarganya. Ia kemudian mendatangi ketua RT setempat sembari menunjukkan foto terduga. Kata ketua RT, pelaku memang dikenal suka bikin ulah dan tidak disukai warga. Bahkan, keluarga pelaku sendiri lepas tangan atas tingkah kerabatnya itu biar diproses hukum aja.

Selain LR, si bodoh ini juga melancarkan aksinya kepada perempuan berinisial ND, warga Kecamatan Mangkubumi berumur 26 tahun. Kejadian bermula saat ND sedang berjalan kaki di pinggir jalan.

Tiba-tiba ia didatangi dan dilempari sperma oleh seorang pria pengendara motor matic. “Saya lari ke tempat ramai di perempatan Jalan H.Z. Mustofa. Pelaku seketika menyipratkan sperma ke arah muka saya dan langsung kabur. Padahal di sana banyak orang,” kata ND.

Selain melempar sperma, ada kemungkinan besar kalau pelaku juga seorang begal payudara. Seorang warga berinisial RK mengaku teror cabul tersebut pernah menimpa anak perempuannya. “Waktu itu anak saya jadi korban juga. Dia diraba pelaku, kemungkinan orang yang sama karena pakai motor matic,” kata RK.

Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapapun baik pria maupun perempuan. Pelecehan seksual juga bisa terjadi dimanapun, seperti sekolah, kantor, tempat umum bahkan tempat ibadah.

International Labour Organization mengungkapkan bahwa pelecehan seksual merupakan bentuk diskriminasi seksual serius yang memengaruhi wibawa perempuan dan laki-laki.

Pelecehan seksual dapat berupa pelecehan verbal, non verbal atau fisik.

Aktivis perempuan dan Sekretaris PKBI DIY Gama Triono mengatakan pelemparan sperma adalah pelecehan seksual serius.

Pelemparan sperma adalah perwujudan simbol patriarki, yaitu laki-laki menganggap bahwa kuasa seksualitasnya sebagai adalah simbol seksualitas yang ditujukan untuk merendahkan kelompok lain (perempuan, waria dan laki-laki lain).

“Pelemparan sperma adalah perwujudan simbol tersebut. Bahwa, dengan melemparkan sperma seolah seksualitas laki-laki akan semakin menguat,” ujar Gama.

Sementara Dosen psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Koentjoro justru mengatakan bahwa kasus pelemparan sperma yang terjadi di Tasikmalaya bukan lagi pelecehan seksual tetapi sudah masuk pada kekerasan seksual psikologis.

“Kasus pelemparan sperma ini menurut saya bukan lagi pelecehan seksual tapi sudah kekerasan seksual psikologi karena dampak traumatisnya terhadap korban, perempuannya bisa gilo (jijik). Apalagi kalau korbannya masih belum tahu soal masalah seks ini bisa menimbulkan shock,” ujar Koentjoro.

Koentjoro juga mengatakan bahwa kemungkinan besar pelaku memiliki masalah psikologis.

“Menurut saya ini pelaku secara psikologis bermasalah, biasanya tidak punya kepercayaan diri dan berada dilingkungan yang terbatas,”

“Saat menghadapi kasus begini, perempuan harus berani teriak, karena kalau tidak teriak justru malah bisa jadi beban buat korban,” ujar Koentjoro.

Baca Juga: Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian: Cara Menerima Orientasi Sexual dan Kontradiksi Nurani

Namun, Koentjoro menambahkan jika korban pelecehan masih terus merasa atau terbayang-bayang soal pelecehan yang ia alami maka sebaiknya korban menghubungi psikolog untuk mengkonsultasikan kondisi yang ia alami.

Dalam keterangan di depan penyidik, pelaku mengaku telah melakukan aksi tak senonohnya kepada lima orang korban sepanjang 2019.

“Yang lapor hanya satu orang yakni LR, empat lagi pengakuan pelaku,” ujar AKP Dadan Sudiantoro, Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya menambahkan.

Selama pemeriksaan berlangsung, pelaku terlihat santai bahkan melempar senyuman kepada awak media. Namun meskipun demikian, lembaganya ujar dia belum mengetahui secara pasti motif aksi cabul yang dilakukan pelaku tersebut.

“Dia melakukan itu hanya kepada wanita yang dilihat dan disukainya,” katanya.

Sejauh ini penyidik terus melakukan sejumlah pemeriksaan, termasuk menggali motif aksi cabul. Akibat perbuatan pelemparan sperma itu, Sidik dijerat Pasal 281 KUHP tentang kesusilaan, dengan ancaman hukuman selama dua tahun lebih penjara.

Dari sekian banyak kasus kriminal yang terjadi, kasus pelemparan sperma, menjadi yang paling menyebalkan.

Aksi tak senonoh nan cabul tingkat gila ini, menyadarkan kita setidaknya satu hal, kepuasan seksual sekarang makin tak masuk akal dan perempuan harus berani mempertahankan martabatnya, atau setidaknya, segera lari mencari pertolongan dan melaporkan kepada pihak berwajib bila mengalami kejadian pelecehan sexual dimanapun.

Sumber Foto: hipwee.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.