‘Patah Arang’, Prosa Untuk yang Hilang

'Patah Arang', Prosa Untuk yang Hilang

‘Patah Arang’, Prosa Untuk yang Hilang

Penulis M Zein Al Hadad | Editor Rizaldi Dolly

Yang patah lalu jatuh di antara besar kecil cabang pohon ini mengisyaratkan lelaki yang kukenal dekat sekali, sepelukan harmonis sebuah pohon keluarga—pada masanya. Sebelum lelaki itu dipusingkan oleh kebebalannya sendiri dengan menakhlikkan ilusi bahwa ia akan berhasil, mendaur ulang ia, dengan menghidupi apa-apa yang baru.

Serupa bebijian yang mantap diguyur hujan dan dihangatkan matahari, yakin mengembang tumbuh dengan sebentuk yang akan jauh berbeda—ia akan bernasib sama, perkiraannya. Tanpa pikir panjang dan segala hasil perhitungan, lelaki itu mengemas pakaian dan berpulang pada pembaharuan yang demikian pilu bagi cabang-cabang lain yang enggan untuk ditinggalkan.

Kenapa ia tak tinggal sedang daun belum mati kering, akar masih mencagak dan bumi masih memasok hujan, kata cabang yang larut dalam sedihnya. Cabang lain bercerita, bahwa satu titian yang mana menjadi pijakan paling penting bagi lelaki itu sudah tanggal oleh rayap-rayap penebar kekhisitan, dan suka sekali masturbasi dengan kemanipulatifan dirinya sendiri. Cabang lain juga bersependapat dengan hal itu.

Di waktu yang sama mereka tergoyang oleh beragam endusan. Menutup masing-masing mulut, mengunci bagian keluar-masuk beragam asumsi. Hanya aku yang berada jauh di samping, bertubuh gempal, diam, dan hanya dapat bergoyang jika angin topan yang menerjang.

Salah satu cabang memandangku kesal seperti ingin berteriak, namun ia tak punya mulut, menjadi simbol sebagai seorang pengecut yang penurut.

Kembalikan lelaki itu, pohon ini tak akan abadi, seperti cemara, tidak sama sekali jika tanpa ia. Kembalikan lelaki itu, sejak lama ia mengisi kekosongan kita, kini ia yang mengosongkannya kembali. Kembalikan, kembalikan! Serunya dengan terisak.

Cabang yang lain mencoba merengkuh, namun jarak selalu menjadi penghalang. Sebagian dari mereka pun mengerti, semakin erat mereka bertemu dalam rengkuhan, semakin parah dan nyaring derit tubuh mereka saling meretak patah.

Semakin mereka memaksa menyatu dalam pilu yang cemburu, pilu yang membanding-bandingkan, pilu yang menghasilkan pilu-pilu di lain kemudian, mereka akan benar-benar jauh dari kata abadi, lantas di hina-hina cemara. 

Mereka sama sekali tak menyadari, lelaki itu sedang bermain propaganda terselubung dengan unsur-unsur klandestin yang rapi tertata, membabi buta untuk meretakkan yang utuh, merobohkan lalu tertawa—ia telah menumbuhkan sepohon baru dengan cabang-cabang yang sempurna. Baginya. Ilusinya.

Dengan mematahkan tubuhnya lalu jatuh, lelaki itu seolah berperan sebagai yang paling terluka, menyalahkan akar kenapa mesti tak membagi nutrisi secara merata, menyalahkan daun yang tumbuh bukan ditubuhnya hingga ia gersang, menyalahkan cabang-cabang lain yang menjalin hidup secara bahagia. Lelaki itu menjadi picik dan munafik, setelah ia membuka pintu untuk rayap-rayap pembisik, di tubuhnya, di kehidupannya.

Dengan bantuan hujan yang membentuk air raya, lelaki itu berterima kasih pada aliran yang membawanya sampai ke permukaan baru. Tanah yang lebih baik dengan cacing-cacing yang lebih produktif mengeluarkan sumber yang subur, menambah antusias bercocok tanam meski ia tak piawai.

Tanah itu yang kemudian menghendaki keinginannya untuk berevolusi. Tanah itu yang kemungkinan menimbunnya dalam-dalam, jika nanti tak lagi satu frekuensi.

Lelaki itu besar kepala, ketika cabang pengecut dan penurut menangisi kepergiannya. Ia merasa bangga setelah berhasil menginjak satu kepala. Cabang-cabang yang lain tak mengerti, selalu tidak mengerti, dan susah untuk memahami. Beserdawa saja, mereka memerlukan adanya aba-aba, pikirku di hari ini.

Hari yang haru bagiku, baru kali ini aku kehilangan apa yang masih ada di hadapan.

Cabang pengecut ingin membawanya kembali, mengorbankan tubuhnya dengan tindakan yang sama seperti lelaki itu, semata agar terbebas dari sebutan ‘pengecut’. Ia jatuh namun hujan belum bisa mengirim pasokan air raya, bahkan sampai ia pasrah dengan penantiannya yang terbengkalai.

Cabang pengecut berkata dari bawah, kemana Tuhan mengirim hujan itu, yang dahsyat. Cabang lain menjawab, kau tak perlu mempertanyakan apa yang tidak bisa dijawab ciptaan-Nya.

Maka sampailah cabang penurut pada prevalensi para makhluk yang silap mata—penyesalan di kemudian. Ia bernyanyi sedih sambil menanti tubuhnya membusuk, membaur dengan tanah lantas menjadi pupuk.

Pupuk yang menumbuhkan hal-hal baru, dan bagi lelaki itu, adalah penampakan yang profitabel. Dan di sela-sela kematian cabang pengecut, lelaki itu datang, kembali, seperti apa yang cabang pengecut harapkan.

Namun, di kematian yang sunyi ia tak sadar telah dijadikan tumbal.

Aku dan cabang-cabang lain menatap lekat lelaki itu, sebagai kutukan, mungkin benar seperti kutukan, lelaki itu merasa haram menginjak tanah yang mana di situlah ia ditumbuhkan.

Baca Juga: Gagasan Serupa Rudal Aktif yang Dirancang Secara Depresif dan Manipulatif

Lelaki itu melayang, dengan sedetik memandang kami, sedetik kemudian memandang yang mati. Urung mengangkut sesuatu yang profitabel—matanya dikecilkan ke arah kami dan berkata, seperti inilah aku di antara kita, dekat namun tiada. Kemana kalian, ketika aku membutuhkan. Mata lelaki itu tetap seperti awal namun sedikit terbuka.

Lalu takdir membawa angin topan ke lahan ini, mengobrak-abrik semuanya, termasuk aku yang ditakdirkan gempal dan diam. Aku, berderit sakit, tubuhku dipaksa lepas dan mulutku diwajibkan berucap sebelum benar-benar lenyap.

Tolan! kataku keras-keras melawan derit dan pusaran angin yang membuat suara-suara semakin tak biasa.

Kami hanya ingin timbal balik. Kau serakah dan selalu ingin di nomor satukan, tanpa mau memahami kami, matamu sengaja tertutup untuk tidak melihat segala yang aktual. Bagimu itu omong-kosong. Tapi bagi kami adalah pembenaran.

Balikpapan, Karang Joang.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.