Pangeran Muhammad bin Salman; Dugaan Dalang Pembunuhan Jurnalis Jammal Khashoggi, Penangkapan Para Pangeran dan Kegelisahan dengan Nubuat Akhir Zaman

Pangeran Muhammad bin Salman

Pangeran Muhammad bin Salman; Dugaan Dalang Pembunuhan Jurnalis Jammal Khashoggi, Penangkapan Para Pangeran dan Kegelisahan dengan Nubuat Akhir Zaman

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kerajaan Arab Saudi tengah mengalami gonjang-ganjing terkait tahta kekuasaan. Raja Salman yang saat ini memerintah secara absolut, dikarenakan usianya yang sudah uzur, diyakini hanya menjadi simbol negara semata, sementara segala kebijakan dijalankan dengan cukup kontroversial oleh sang putra mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman.

Baru-baru ini, aroma keretakan keharmonisan keluarga kerajaan Arab Saudi tercium ke publik dunia. Pangeran Muhammad bin Salman, memerintahkan perangkat keamanan Kerajaan untuk menangkap beberapa Pangeran yang dicurigai hendak menggulingkan kekuasaan Raja Salman dan Muhammad bin Salman sendiri.

Dan sejauh ini, dilaporkan ada 20 anggota kerajaan Arab Saudi yang ditangkap dengan tuduhan yang sama, hendak melakukan coup.

Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa beberapa yang ditangkap adalah Pangeran Ahmad bin Abdulaziz serta anaknya yang menjabat Kepala Intelijen Angkatan Darat, Pangeran Nayef bin Ahmad bin Abdulaziz, mantan Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayef, dan saudara tirinya, Pangeran Nawaf.

Pangeran Ahmad dan Pangeran Muhammad bin Nayef saat ini diyakini ditahan di vila khusus di tengah padang pasir. Mereka masih diizinkan untuk menghubungi keluarga masing-masing. Padahal, Pangeran Ahmad sendiri adalah adik bungsu Raja Salman.

Jika merunut pada silsilah, sebetulnya Pangeran Ahmad dan Pangeran bin Nayef adalah calon kuat pengganti Raja Salman. Namun, Raja Salman memutuskan untuk mengangkat Muhammad bin Salman yang merupakan anaknya untuk menjadi Putra Mahkota pada 2017.

Pangeran Ahmad memilih menetap di London, Inggris, pada 2017 dan kerap mengkritik kebijakan Raja Salman serta Pangeran Muhammad bin Salman. Terutama soal keterlibatan Arab Saudi dalam perang Yaman. Pangeran Ahmad pada akhirnya memutuskan untuk pulang.

Kontroversi Putra Mahkota Sang Otokratis

Sang putra mahkota saat ini, Pangeran Muhammad bin Salman memiliki banyak catatan buruk dalam menjalankan manuver kebijakan politiknya, yang paling kentara adalah, dugaan kuat menjadi dalang pembunuhan atas kritikus pemerintah Arab Saudi, Jammal Khashoggi, menyeret Saudi ke dalam perang di Yaman, memenjarakan para pengunjuk rasa hak-hak perempuan, ulama Islam yang bersebrangan dan para para blogger yang kritis.

Kami ingin mengajak anda, pembaca thexandria untuk mencermati dan mengulas sosok calon pemimpin paling kontroversial di jazirah Arab era ini.

Kita akan mulai dengan dugaan Pangeran Muhammad bin Salman menjadi dalang pembunuhan kritikus sekaligus jurnalis Jammal Khashoggi, di Istanbul, Turki.

Pada 2 Oktober 2018, pukul 13.14, Jamal Khashoggi memasuki bangunan biasa berwarna krem di daerah Levent, Istanbul, Turki, yang dimana gedung tersebut adalah gedung Konsulat Arab Saudi.

Jurnalis terkemuka sekaligus pengkritik paling vokal Pangeran Muhammad bin Salman itu hanya berkunjung ke sana untuk mengambil akta cerainya yang sudah disahkan.

Namun, selagi ia berada di dalam gedung tersebut, ia dikelilingi oleh regu pembunuh yang terdiri dari anggota keamanan dan agen intelijen yang dikirim dari Riyadh. Ia kemudian dibunuh, dimutilasi, lalu potongan tubuhnya dibuang dan tidak pernah ditemukan.

Adapun rekaman suara detik-detik terakhir tewasnya Jammal Khashoggi, tersebar luas di youtube.

Rekaman tersebut diduga diperoleh oleh CIA dan Dinas Mata-mata barat yang lain dari Badan Intelijen Turki (MIT), yang merekam diam-diam aktivitas yang terjadi pada Khashoggi didalam gedung konsulat Arab.

Dalam sebuah dokumen laporan yang bocor, CIA-lah yang pertama kali mencium keterlibatan Pangeran Muhammad bin Salman.

Sementara itu, ribuan orang tewas dalam peperangan yang menghancurkan Yaman.

Banyak di antara mereka tewas akibat serangan udara yang dipimpin langsung oleh Arab Saudi.

Ratusan warga Saudi yang mengkritik kebijakan Pangeran Muhammad bin Salman lantas dijebloskan ke penjara.

Namun pembunuhan kejam Khashoggi lah yang justru membuat sebagian besar dunia menentang sang putra mahkota.

Kunci seluruh misteri pembunuhan keji atas Khashoggi adalah salah satu mantan penasihat terdekat Pangeran sendiri, yaitu mantan anggota angkatan udara berusia 41 tahun, Saud al-Qahtani.

Ia adalah ‘penjaga gerbang’ sang putra mahkota di lingkungan kerajaan.

Al-Qahtani diyakini mengelola strategi pengawasan siber yang memantau warga Saudi baik di dalam maupun di luar negeri, menggunakan program perangkat lunak yang dipercaya dapat mengubah ponsel seseorang menjadi alat penyadap, tanpa diketahui pemiliknya.

Alhasil, siapa saja yang kritis terhadap kebijakan Pangeran Muhammad bin Salman akan mendapati media sosial mereka diserang menggunakan pesan-pesan kasar dan bernada ancaman.

Dengan lebih dari satu juta pengikut di Twitter, al-Qahtani diyakini pula, mampu memobilisasi sebuah “pasukan lalat” (red: istilah para jurnalis) untuk secara terbuka menyerang siapa saja yang mengkritisi Pangeran Muhammad bin Salman.

Merunut kembali pada sejarah pemerintahan Arab Saudi, sebelumnya pernah terjadi sejumlah kasus di mana pemimpin Arab Saudi menculik warga yang “kritis”, bahkan tak terkecuali para pangeran, dan membawa mereka kembali ke Riyadh untuk “mengembalikan mereka ke jalur” yang benar, sesuai jalur pemerintah. Tapi bukan dengan membunuh.

Pembunuhan di kota asing seperti yang terjadi pada Jammal Khashoggi adalah pergeseran yang radikal dari modus operandi pemerintah Arab Saudi yang biasanya.

Kematian Khashoggi dengan cepat menjadi skandal internasional.

Setelah penyangkalan awal yang ceroboh tentang apa yang mungkin menimpa Khashoggi di Istanbul, pemerintah Arab Saudi selalu berusaha keras untuk menjauhkan Pangeran Muhammad bin Salman dari skandal tersebut.

Berpegangan pada jejak hitam Pangeran Muhammad bin Salman-lah, banyak pengamat yang meragukan penangkapan terhadap 20 pangeran yang lain adah langkah anstisipatif terjadinya kudeta. Melainkan sebuah manuver dari Pangeran Muhammad bin Salman, untuk memuluskan karpet merahnya menjadi Raja Arab Saudi.

Nubuat Hari Akhir dari Sang Nabi

Seluruh agama, meyakini akan datangnya hari akhir, yaitu hancurnya seluruh alam semesta yang kemudian penggiringan umat manusia pada sistem reward and punishment. Surga dan neraka.

Namun sebelum sampai ke tahap penghancuran massal. Manusia diberi tanda-tanda menuju terjadinya keberakhiran dunia.

Dalam dogma islam, semua risalah tentang ketuhanan disampaikan melalui seorang rasul yang bernama Muhammad peace upon him.

Baca Juga: Fanatisme Agama Menjadi Orientasi Politik di India; UU Diskriminatif, Narasi Destruktif, dan Konflik Horizontal

Nabi Muhammad dalam risalahnya, turut mewartakan tanda-tanda akan terjadinya hari akhir, yang dimana salah satu tandanya ialah; Wafatnya seorang Raja Arab, yang disusul perebutan tahta diantara 3 putera mahkotanya.

Cukup banyak para penceramah di Indonesia yang konsen pada isu hari akhir. Dan diantaranya selalu memberikan penjelasan tentang tanda-tanda yang menurut mereka, sudah dan akan terjadi dalam waktu dekat ini.

Dan berita tentang kemelut di kerajaan Arab, tengah menjadi momentum akan pembenaran tanda-tanda terjadinya kiamat menurut penafsiran beberapa pihak.

Pasalnya, Raja Salman yang saat ini sudah sangat tua, mewarisi segudang legitimasi tahta yang—kebetulan, diiringi oleh ambisi dan manuver putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman menahan para pesaingnya, para pangeran yang lain.

Namun, apakah benar bahwa tanda-tanda bahwa kerajaan dan perebutan tahta yang dimaksud adalah Kerajaan Arab Saudi? Belum tentu.

Sejauh ini, kita hanya dapat menunggu perkembangan. Bila aksi penahanan para pangeran Arab berlangsung tanpa disertai perlawanan yang berarti, maka nubuat yang diyakini oleh sebagian kelompok islam bisa jadi salah. Dan sebaliknya, jika nanti para pangeran yang ditahan melakukan perlawanan–yang dimana mereka juga memiliki para loyalis, maka boleh jadi, nubuat tentang perebutan tahta dan korelasinya dengan hari akhir benar dimulai dari Kerajaan Arab Saudi.

Kami mengamati, bagaimana respon netizen Indonesia terhadap isu gejolak di Kerajaan Arab Saudi mengarah kepada sebuah paranoid–meskipun tidak semua.

Kami menempatkan diri, dan berharap persoalan nubuat hari akhir dan kiamat sekiranya dikembalikan pada Yang Maha Tunggal, dan semua kegelisahan berpulang pada muhasabah diri masing-masing.

Yang jelas, kami ingin menggarisbawahi bahwa Pangeran Muhammad bin Salman, memiliki rekam jejak dugaan pelanggaran HAM berat dan segala gejolak politik di Arab Saudi, selalu erat kaitannya dengan kebijakan geostrategis Amerika Serikat di Timur Tengah.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.