Panduan Memahami Mengapa Menghayal dan Mengeluh Itu ‘Spiritualistik’

Panduan Mengapa Menghayal dan Mengeluh

Panduan Memahami Mengapa Menghayal dan Mengeluh Itu ‘Spiritualistik’

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Ketika menghayal, manusia bertingkah seolah dapat melakukan apapun dan seperti ‘berdiri sendiri’.

Thexandria.com – Bumi dan cara kerjanya berlangsung dengan prinsip equalitas yang menyeluruh. Ada siang dan malam, ada kutub utara dan selatan, tangan/kaki kanan dan kiri, hitam dan putih, baik dan buruk, Adam dan Iblis, surga dan neraka, yin dan yang.

Setidaknya, ini merupakan hal sederhana yang kita pahami dan maklumi bersama. Bahwa memang, kehidupan diberi dua arus besar untuk memanifestasikan ‘manusia adalah kemerdakaan dan mereka boleh/pantas untuk memilih daripada dua arus besar tadi’.

Simbolisme kebebasan yang diemban manusia, semata-mata hanya mampu dijewantahkan oleh adanya pilihan-pilihan.

Dalam studi memahami human behavior, atau perilaku manusia, diantara cabang kesimpulannya, kita akan diberitahu mengenai ‘warna-warna’ yang terpatri dalam perjalanan hidup sebagai seorang manusia.

Ada optimis, pesimis, sentimen, realistis, idealis, hiprokrit, pragmatis, oportunis dan lain-lain.

Dalam menjalankan ‘laku’ sebagai manusia itu, ‘warna-warna’ tadi-lah yang menahkodai kemana arah hidup akan membawa kita.

Motivator-motivator ulung, para filantropis, influencer, ataupun sesiapa saja yang telah berhasil dalam keduniawian, cenderung mengkampanyekan ‘warna’ positif kepada khalayak luas.

Sementara mereka-mereka yang selalu gagal, secara sadar mencitrakan ketidakmungkinan yang banyak dalam dialektikanya, yaitu pesimisme. Meskipun, boleh jadi orang-orang dengan ‘warna’ pesimis, adalah para analisis yang tajam. Mereka mampu memilah kapasitas dan kemampuan secara rasional. Dan sekali lagi, ‘warna’ ini pasti akan selalu dipertentangkan dengan mereka yang ‘optimis’.

Melamun, Mengeluh, Merenung
Gambar hanya ilustrasi

Ngomong-ngomong soal perilaku manusia. Dari semua dinamika dalam lingkup ‘keberjuangan’ kita sebagai manusia, ada dua hal yang sangat nikmat, gratis, serta tidak ribet yang seringkali ditanggapi salah kaprah.

Menghayal dan mengeluh. Dua hal ini, secara konsensus ditanggapi sebagai dua hal yang tidak baik dan sebaiknya tak sering dilakukan. Sebab apa, menghayal diartikan hanya akan membawa kita pada satu zona ilusif yang berakibat terbengkalai-nya mimpi-mimpi atau cita-cita dalan kehidupan nyata. Singkat kata, menghayal akan mendegradasi aksi nyata.

Tak lebih baik dari menghayal, mengeluh juga diartikan sebagai bentuk ketidakbersyukuran kita atas segala pencapaian yang pernah kita lakukan. Orang bilang, kalau kita sedang mengeluh, berarti kita terlalu sering ‘menengok keatas dan jarang melihat kebawah’. Selain itu, mengeluh juga sering diartikan sebagai bentuk dari tidak adanya ketulusan dalam melakukan suatu hal.

Olah Pikir Manusia yang Begitu Spiritualistik

Spiritualistik
Gambar hanya ilustrasi

Diatas ‘konsensus’ yang mengartikan bahwa menghayal dan mengeluh merupakan sesuatu yang—lebih baik tidak dilakukan.

Terdapat sebuah kemengertian yang kami rasa, juga disetujui oleh banyak orang, yaitu, kewajaran. Wajar menghayal. Sebab manusia diberi imajinasi dan keinginan. Wajar mengeluh. Karena manusia memiliki batas lelah dan lain sebagainya.

Jika kita melihat dua hal ini (menghayal dan mengeluh) dengan sudut pandang dan etika-etika moral kebanyakan? Maka benar, jauhilah yang namanya menghayal dan mengeluh. Karena dinilai tak akan membawa hasil apa-apa.

Baca Juga Pancasila Itu Menyatukan, Jika Mencerai-beraikan dan Melumpuhkan, Itu Namanya Pencak Silat!

Tapi, pernahkah kita mencoba dengan sudut pandang lain? Kami—atau katakanlah penulis pribadi, menemukan atau menyadari bahwasanya menghayal dan mengeluh dapat juga dilihat dengan kacamata spiritualistik. Meskipun penulis bukan sosok straight bin alim bin gak pernah aneh-aneh bin orang suci.

Hanya saja, dalam tindak tanduk kita sebagai manusia, sejatinya memang selalu ‘dihantui’ oleh cara kerja alam raya yang bukan kebetulan, sangat spiritualistik.

Adapun spiritualistik yang dimaksud adalah; garis vertikal yang bermuara dari dan ke Tuhan.

Ada kalanya hidup memang tepat jika dikatakan; hanyalah permainan dan senda gurau belaka, sebab hati manusia tak se-absolut yang kita kira, ada yang membolak-balikan hati manusia.

Itu sebabnya, bukan sebuah kebetulan jika diwaktu optimisme menyala-nyala didalam dada? Daya khayal menari-nari di atas kepala, kita mulai menghayalkan keberhasilan-keberhasilan dari plan yang direncanakan.

Pun, jika dalam prosesnya, terucap keluh dari mulut, dikarenakan kesadaran bahwa kesulitan sukar menyingkir, dan bahwa, kesulitan adalah kemutlakan. Disatu sisi adalah sebuah kewajaran.

Disisi lain? Ini adalah jejak spiritualistik yang kentara. Maksud kami begini, menghayal adalah satu hal yang dianugerhakan Tuhan, cabang dari yang namanya akal, yang kemudian bisa menjadi imajinasi, menghayal adalah proses penyederhanaan dari keinginan-keinginan manusia yang memang tak ada habisnya itu. Di dalam khayal, manusia tak ubahnya spesies superior yang bebas menjadi dan ingin melakukan apa saja.

Ketika menghayal, manusia bertingkah seolah dapat melakukan apapun dan seperti ‘berdiri sendiri’. Lalu disinilah letak poinnya, ketika terjadi keluhan, anggapan dalam khayalan yang penulis katakan seperti ‘berdiri sendiri’ terpatahkan dengan lenguhan-lenguhan spontan seperti, “ah, ya Tuhan…”, atau “capek ya Tuhan”, mengeluh tak ubahnya titik balik penyadaran bahwa manusia memang memiliki limit, rapuh, dan lemah. Tak seperti ketika menghayal, mengeluh adalah tamparan keras untuk merujuk pada hakikat dasar sebagai manusia—yang membutuhkan ‘Sesuatu yang Maha Kuat’ sebagai sandarannya.

Ketika mengeluh, otomatis manusia menyadari kelemahannya dan mencari sosok ‘yang kuat’ untuk mengadu. Dalam ilmu tasawuf, disebut makrifatullah. Yaitu mengingat Tuhan.

Sehingga, menghayal adalah gerbang spiritualistik yang kemudian kita akan ‘dipertemukan’ dengan yang Maha Agung lewat keluhan.

Bukankah perjalanan spiritual dapat datang dari mana saja? Dan cenderung tanpa kita sadari? Ini membuktikan satu hal yang lain sebenarnya, bahwa benar, Ia lebih dekat dari urat nadi.

Share Artikel:

One thought on “Panduan Memahami Mengapa Menghayal dan Mengeluh Itu ‘Spiritualistik’

Leave a Reply

Your email address will not be published.