Panduan Agar Tidak Dicap Agen Radikalisme oleh Menteri Agama

Panduan Agar Tidak Dicap Agen Radikalisme oleh Menteri Agama

Panduan Agar Tidak Dicap Agen Radikalisme oleh Menteri Agama

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Don’t judge book by the cover.

Thexandria.com – Kementrian Agama, sedari awal pembentukan kabinet di periode kedua Jokowi, memang sudah memicu banyak perhatian. Pasalnya, pos Kementrian Agama—yang biasanya diisi oleh kalangan nahdiyin NU, kali ini diduduki oleh seseorang berlatar belakang militer. Ia tak lain adalah Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi.

Seorang purnawirawan militer berpangkat terakhir bintang 4 ini, tercatat pernah menjadi Wakil Panglima TNI. Berpengalaman di bidang infanteri, dan juga termasuk dalam tim pendiri Partai Hanura.

Ia menjadi orang ketiga dari kalangan militer yang menjabat Menteri Agama, yang pertama sejak Laksda (Purn.) Tarmizi Taher (1993–1998), dan yang pertama dari matra Angkatan Darat sejak Letjen (Purn.) Alamsjah Ratoe Perwiranegara (1978–1983).

Baca Juga Kalian Disarankan untuk Tidak Banyak Tingkah (Kecuali Good Looking)

Tentu bukan tanpa alasan mengapa Presiden Jokowi memilih Fachrul Razi—dengan latar belakang militernya, ya, walaupun tetap saja, bagi sebagian besar kalangan sipil, it was like—“anjir, apaan, nih?!”.

Salah satu alasan yang mungkin paling kuat dibalik pemilihan Fachrul Razi, adalah Pemerintahan Jokowi yang ingin meng-counter kelompok radikalisme. Langsung dari posisi strategis di bidang keagamaan, dan—orang militer—yang memang secara sikap—biasanya—cenderung tegas.

Meskipun sampai saat ini, tak jelas siapa pihak yang dianggap radikalis. Belum ada pattern yang jelas. Kalau mungkin HTI, HTI sudah dibubarkan oleh Pemerintah sendiri. Kalaupun FPI, Pemerintah masih memiliki kewenangan serta resources penuh untuk mengawasi. Kalau Mujahidin Indonesia Timur, itu lebih-lebih dari sekedar radikalis, itu teroris nyata yang sel pergerakannya masih bergerilya di Poso.

Karena itu, beruntunglah kita memiliki Menteri Agama, Fachrul Razi. Beliau, walau—tetap saja tidak memberikan pattern yang jelas—siapa kelompok radikalis—paling tidak telah memberikan kisi-kisi. Mereka yang memiliki paras yang menarik dan “good looking“-lah, yang boleh jadi merupakan agen radikalisme.

Ini enggak bercanda, lho. Menag Fachrul Razi memang berucap demikian.

Dalam sebuah webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu (2/9/2020).

Baca Juga Kata “Anjay” yang Tak Salah dan Budaya Tongkrongan yang Harus Dimengerti

Menag mengungkap cara paling mudah agen radikalisme masuk ke sebuah lembaga, atau rumah ibadah. Menurutnya, cara masuk para agen radikalisme salah satunya memiliki wajah yang menarik atau good looking.

“Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan,” kata Menag.

Karenanya, biar kamu sobat good looking tidak termasuk yang disebut Menteri Agama sebagai agen radikalisme. Thexandria akan memberikan panduan-panduan mutakhir, agar terhindar dari suudzon statement Menag Fachrul Razi. Berikut panduannya:

1. Jadilah Sobat Bad Looking

Ini adalah cari paling mudah, hemat, dan nikmat agar terhindar dari tuduhan agen radikalisme. Jadilah orang-orang yang bad looking, kebalikan dari good looking. Segeralah menjadi antitesa.

Minimal, seperti penulis sendiri yang kerap berpenampilan urakan. Bila memakai kemeja, gulung lengannya, buka satu kancing seperti om-om hidung belang, gunakan sepatu buluk yang enggak pernah dicuci selama satu dasawarsa, dan celana jeans yang dibagian dengkulnya robek. Rebel kelas bawah.

Baca Juga Upaya “Pembungkaman” Terhadap Media yang Kritis Melalui Peretasan

2. Tunjukan Pesonamu

Jika dari segi outfit sudah kamu ikuti panduannya. Sekarang, tunjukan pesonamu dengan sikap.

Bersikaplah tengil, cuek, dan pura-pura bego seolah tak ada hal yang kamu ketahui selain daripada dengerin musik rock. Kalau masih dirasa kurang, ambil cara lebih ekstrem. Dengerin remix dangdut koplo sambil joget-joget ala jamet yang terkenal di sosial media itu. Dijamin, it works!

3. Don’t Judge Book by the Cover

Terakhir, berprasangka baiklah terhadap semua orang. Sekalipun Menteri Agama Fachrul Razi. Beliau tetaplah orang tua yang harus dihormati, bukan? Iya, enggak, sih?

Bagaimana caranya? Anggap saja pernyataan Menag adalah sebuah plot twist bak dalam film atau novel.

Lho, kok, gitu!? Iya, anggaplah pernyataan Menag adalah sebuah autokritik bagi kita semua. Istilah kerennya, don’t judge book by the cover. Jangan menilai sebuah buku dari luarnya.

Baca Juga Ketika Penggunaan Subjek-Predikat-Objek-Keterangan (SPOK) Sangat Fleksibel di Kaltim

Anggap saja Menag sedang bermaksud demikian, hanya saja kalimat redaksi yang ia gunakan terpeleset. Inti dari sebuah kalimat adalah substansinya, dengan prasangka baik, anggap saja substansi dari pernyataan Menag adalah, “jangan menilai seseorang luarnya, bisa jadi seseorang yang kita anggap bersih, ternyata kotor, pun sebaliknya”.

Kedepannya, semoga tak lagi ada pernyataan multitafsir bin kontroversial dari pejabat publik. Tak perduli Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, atau siapapun. Karena, berprasangka baik memerlukan energi. Energi untuk melawan “setan” yang selalu menganjurkan mengkritik atau yang paling parah menggunjing, karena rasa dari keduanya sungguh—nikmat hiya hiya hiya (baca nikmatnya dengan logat Coki dan Muslim)—enggak, itu guyon, ya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.