Pandanglah Aku (Orang Tuamu) Maka Meleburlah Sakitmu

Pandanglah Aku (Orang Tuamu) Maka Meleburlah Sakitmu

Pandanglah Aku (Orang Tuamu) Maka Meleburlah Sakitmu

Penulis Zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

*Pagi

Ia terduduk bingung di antara layar ponsel dan kipas angin dan sekaleng penganan dan sebungkus rokok dan lantai dingin keramik-keramik putih bersih. Angin yang berhembus ke wajahnya empat detik sekali, menusuk otaknya, mendistorsi pola pikir.

Segerombol dari mereka mulai menanyakan.

“apa kamu betah jika tinggal di sini?”

Ia menjawab asal-asalan: ia tak sedang menginap; ia sedang melakukan perjalanan.

*siang

Lihatlah anak itu, lihai ia mengadu nasibnya, memeluk kaki-kakinya; mengemban beban tanpa prasangka, di lihatnya sebuah gitar yang putus salah satu senarnya; ia tertawa, diciptakan melodi-melodi anggun semerbak harum bunga-bunga rekah, dengarkan penggalan liriknya, ia mengatakan banyak; suaranya mampu mengundang para lebah untuk mencairi bibirnya dengan madu-madu.

Lihatlah anak itu, cerdas ia meniru wujudmu, mudah ia berganti-ganti wajah; ia sama sekali tidak sama seperti yang baru terlihat; ada berbagai macam rasa sakit yang mendekam di pundaknya, di sertai madu-madu dari para lebah itu.

*siang menjelang sore

Sebuah papan persegi bercorak hitam-putih dengan pahatan kayu-kayu berpijak daripadanya itu dinamai macam-macam: para bidak, kuda, gajah, benteng, menteri, dan sang Raja, yang seorang diri tenggelam dalam sketsa isi kepala kedua belah pihak secara klandestin pula.

Jika satu orang di antara lingkaran tongkrongan siang-siang ini yang suara gitar serta mulut sama-sama sumbang itu tidak mempengaruhi konsentrasi mereka: macam mana pula dengan si malang itu yang terasa bisu mendengar bahasa asing yang tak ia pahami, lalu bagaimana pula ia membaur di dalamnya; ini tak semudah ia tersenyum menyapa salah satu-dua di antaranya.

Bagaimana jika ia membuka percakapan, “Tuan muda, bermainlah denganku, sebelum aku memulai lagi perjalananku!” sedang ia tak pandai menggerak-gerakkan pahatan kayu yang bersiaga di atas petak-petaknya, itu pun tak apa, dari pada ia hanya diam menggerutu! padahal ingin sekali meraup pertemanan baru.

*sore

“Orang-orang hidup. Orang-orang hidup. Orang-orang hidup.” Ia sengaja mengatakannya lebih banyak dan lebih jauh daripada yang seharusnya. Agar yakin. Karna memang begitulah seharusnya. “Tingkah mereka yang membuatnya tak hidup. Mereka jauh dari kata ‘hidup’ itu sendiri.”

*sore menjelang malam

Sebuah catatan singkat yang baru saja ia tulis di buku hariannya:

1. Navigasi

2. Turbulensi

3. Gravitasi

4. E.N.D

*esok

Secarik amplop berisi surat yang entah untuk siapa dan tertuju ke mana, siapa yang tahu? Tapi setidaknya, ia mengalirinya ke sebuah sungai di lereng gunung:

-Cerita ini kumulai pada jam 1 dini hari, di dalam mobil travel dengan sopir yang mengantuk-

Hai, siapapun kamu, semakin banyak kita mengenal seseorang, semakin parah kita terjangkit sakitnya perpisahan. Entah berapa besar kebaikan mereka—orang-orang yang telah kutemui—padaku, berapa pun, aku bodoh jika tidak bersedih. Dan sungguh, aku tak perduli soal skala.

Di jam 10 malam tadi, aku meninggalkan Banyuwangi untuk menuju ke Gresik. Aku akan tinggal selama 1 malam di sana, lalu akan melanjutkan perjalanan lagi yang entah kemana.

Di jam itu, ladang dan sawah memudar. Cahaya mulai padam, rumah dan orang-orangnya itu tetap terngiang-ngiang di sepanjang jalan.

Selama di perjalanan, aku ingin menangis, tapi apa yang aku sedihkan? Aku tak jadi bersedih, dan nyatanya aku memang tidak sedih.

“Bersedihlah, mereka baik padamu. Menangislah, tak apa, tak ada yang memerhatikan”, sisi lainku berbicara.

Tapi mataku tetap segar, menitik sekali pun tidak. Sekeras apa hatiku?

Kemudian, satu masalah muncul: mobil travel ini dan para penghuninya, maksudku, kami.

“Coba! Sopir itu gila! Tak bisakah dia memelankan kendaraannya ketika menemui polisi tidur. Polisi tidur! Betapa sakitnya pantat ini!”

“Bisakah orang di sebelahku ini tidak tertidur mendengkur ke arahku?!”

“Sial! Sopir itu gila! Benar-benar gila! Dia mengemudi sambil sesekali terpejam dan terjatuh di kemudinya!”

“Hey, tak ada kah yang masih sadar? Ternyata aku malang malam ini, aku harus menemani sopir gila itu begadang menyusuri jalanan malam”

Siapapun kamu, ini adalah mobil terburuk yang pernah aku tumpangi. Praktis, malam ini juga jadi malam terburuk bagiku. 8 jam perjalanan yang sungguh menyiksa!

Aku sempat memikirkan satu hal: berapa usia mobil ini? Kenapa tak bisa meminimalisir goyangan dan hentakan dari jalanan bergelombang? Ah, aku sudah tak kuat menahan, di pemberhentian berikutnya aku akan muntah! Benar saja, tapi hanya angin yang keluar, perutku benar-benar kosong. Jika tahu begitu, aku tak perlu menahan selama itu, hanya demi memuntahkan angin! Kemana perginya sisa makan siangku, ada yang tau?

Kini aku sedang berada di pemberhentian ketiga (Probolinggo), ini sudah waktunya makan, dan gratis. Pelayan rumah makan itu menghampiri mobil kami untuk memberi kupon, kupon inilah yang menentukan nasib perutku. Siapapun kamu, mungkin nasib perutku malam ini juga sama sialnya. Rumah makan khusus penumpang travel ini menyediakan makanan orang sakit! Kenapa tak berasa? Nasi goreng ini tak berbumbu?

Ini buruk, buruk sekali. Aku harus membuang-buang makanan. Aku tak ingin muntah lagi.

Selesai makan di pemberhentian ketiga, satu jam kemudian mobil berjalan kembali. Aku masih belum juga terlelap, sungguh mati jika mobil ini terus bergoyang-goyang dan berdesak-desakan dengan penumpang lain begini, aku tak akan bisa tidur.

Tapi aku keliru, aku telah terlelap, lalu terbangun ketika langit sudah mulai terang. Jam 5 pagi, rasa-rasanya aku baru sebentar tertidur. “Nanti, setelah sampai, aku akan tidur sampai sore, meskipun di toilet umum!” kataku dalam hati, kesal.

Baca Juga: Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Sebentar, tapi siapa yang membangunkanku barusan? Goyangan? Guncangan? Desakan? Tidak, mungkin gunung itu! Gunung Arjuna, gunung itu telah membangunkanku. Kabut pekat tak begitu mengganggu, gunung itu tetap indah aku pandangi, tinggi menjulang sepatutnya raksasa alam. Pakunya bumi.

Ku pandangi terus menerus, kantukku di curi oleh pemandangan, kiri gunung, kanan matahari terbit. Bangil-Sidoarjo ternyata juga menyimpan keindahan.

“Aku yang telah membangunkanmu, Nak! Pandanglah aku, orangtuamu, maka meleburlah sakitmu.”

Entah di frekuensi dan dimensi yang seperti apa, tapi gunung itu, gunung itu tlah membisik lembut kepadaku.

Seisi kepalaku berdengung. Logika ku, mendebat hebat perasaanku, tentang bisikan si gunung. Ia protes sebab ia berpendapat, aku telah mendekati batas gila. Lalu, dengan arif aku yang sudah semestinya adalah aku, bertitah;

“Tak apa, aku akan menanggungnya.”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.