Ospek Virtual Unesa: Memberikan Hiburan Baru Lewat ‘Marah-Marah Online’ Soal Ikat Pinggang

thexandria ospek virtual unesa ikat pinggang

Ospek Virtual Unesa: Memberikan Hiburan Baru Lewat ‘Marah-Marah Online’ Soal Ikat Pinggang

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Jangan menumbuhkan bibit gila hormat feodalisme ya, hyung~

Thexandria.com – Tak habisnya kelakar di dunia Twitter menghibur para penggunanya—meksipun beberapa ada yang menanggapi dengan serius dan kesal juga. Kali ini yang menjadi buah bibir datang dari kegiatan ospek virtual mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kegiatan ospek atau yang secara formal disebut Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ini tetap mengusung semangat klise untuk para maba dengan tujuan mendisiplinkan diri mereka.

Menariknya dari video yang tersebar, ada salah satu momen dimana seorang maba diminta untuk memperlihatkan ikat pinggang-nya. Momen tersebut menjadi bagian yang ‘pecah’ karena terdapat tiga orang panitia ospek terlihat geram-gemush dengan jawaban sang maba. Dengan kepolosannya maba tersebut menjawab “Ga ada kak..” dari komando yang diberikan sebelumnya: “Ikat pinggang diperlihatkan!”

Sorotan tertuju kepada salah satu amarah panitia ospek yang berucap: “Kamu tau tata tertib gak?!” yang membuat netizen salah fokus. Mereka menganggap gesture kemarahan tersebut hampir sama dengan kemarahan Arya Wiguna yang lekat dengan jargon “Demi Tuhan!”—selain juga karena wajahnya yang sepintas mirip. Kemarahan itu dilengkapi oleh salah satu panitia ospek lainnya yang merupakan seorang mahasiswi: “Gak dibaca tata tertibnya?!”

Baca Juga Panduan Agar Tidak Dicap Agen Radikalisme oleh Menteri Agama

Usut punya usut tata tertib yang dimaksud begitu kontradiktif dari apa yang mereka permasalahkan: Ternyata ikat pinggang yang dimaksud dalam aturannya, bebas (mau pakai/tidak pakai). Kami tidak ingin berburuk sangka para panitia yang marah itu tidak membaca tata tertib secara utuh. Mungkin saja mereka sedang menguji jiwa kritis para maba untuk ‘protes’ dalam menegakkan sesuatu yang salah. Tapi tentu saja itu tidak terjadi, senioritas menjadi pressure dan tembok pembatas keberanian tersebut. Jangan menumbuhkan bibit gila hormat feodalisme ya, hyung~

Saya sendiri secara pribadi menolak adanya sistem ‘perploncoan’ dalam ospek yang melanggengkan hierarki antara senior dan junior. Sehingga apabila tidak diputus sejak dini, tiap ’amarah’ yang didapatkan saat menjadi maba akan menjadi ‘warisan’ yang tak pernah habis untuk maba tahun berikutnya alias menjadi lingkaran setan. Seperti cinta, dendam senior harus terbalaskan~

Ditilik dari asal-usulnya, budaya ini sudah ada sejak zaman kolonialisme dan sempat ditentang oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Maka wajar saja apabila menyebut perploncoan sebagai sebuah budaya yang ‘ketinggalan zaman’.

Perguruan tinggi (kecuali sekolah tinggi kedinasan aparatur negara) memiliki spektrum warga sipil yang menjunjung tinggi penalaran ilmiah dalam setiap tindak-tanduknya. Apabila ingin para maba memiliki mental yang kuat setebal baja dan disiplin garis keras, silahkan ikuti sistem militer. Karena tuntutan kedisiplinan militer selalu mengharuskan hubungan yang erat dan tetap dalam garis komando untuk waspada pada situasi konflik keamanan.

Sekali lagi ya kakak-kakak, kita ini sipil, bukan militer.

Wafatnya Fikri Dolasmantay Surya pada 2013 menjadi alasan saya mengapa sebenarnya ospek ‘perploncoan” menjadi tidak perlu, karena makin ke sini makin tidak sesuai dengan esensinya. Mahasiswa ITN Malang tersebut sejauh ini dinyatakan meninggal karena dugaan kekerasan fisik yang dilakukan oleh kakak tingkat (kating) saat mengikuti kegiatan ospek.

Pada dasarnya ospek atau PKKMB itu bertujuan untuk memperkenalkan semua elemen terkait dengan civitas akademik di kampus. Selain diharapkan mampu lebih cepat bertransisi dan adaptasi, pengenalan kehidupan kampus harusnya lebih bersifat akademik. Coba saja bentuk forum group discussion (FGD) yang membahas isu krusial agar melatih kemampuan berpikir dan jiwa kritis para mahasiswa baru. Atau kompetisi debat, atau menulis essay minimal 600 kata, bebaslah yang penting ‘berbau’ ke-logika-an dan ke-ilmiah-an.

Bisa juga dengan bagaimana sistem pemberian tugas, aktualisasi diri, hingga prospek jurusan untuk masa depan. Untungnya, semasa menjadi maba beberapa tahun lalu saya hanya duduk seharian mendengarkan paparan mengenai jurusan, sistem perkuliahan, organisasi kampus dan unit kegaiatan mahasiswa (UKM), prospek jurusan untuk masa depan hingga bernyanyi bareng dengan salah satu dosen idola.

Baca Juga Rencana Program Pendidikan Militer untuk Para Mahasiswa Adalah Sebuah Kemunduran yang Berbahaya

Esensi kedisiplinan dengan memberikan tugas maupun memakai atribut yang macem-macem dirasa sudah cukup (tanpa embel-embel senior dan junior yang kemudian mengidentik-kan kating dengan ‘marah-marah’-nya). Cukup dengan memberikan penilaian pada setiap tugas serta kekurangannya sebagai bahan evaluasi diri untuk sang maba. Dengan cap ‘kaum intelektual’ seharusnya mengedepankan pendekatan yang humanis kepada orang lain. Khususnya mahasiswa baru yang memang butuh bimbingan dan binaan yang lebih persuasif agar tidak ‘tersesat’. Toh, marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah, hyung.

Oh iya, ospek yang dilakukan Unesa kemarin menjadi salah satu ospek yang menarik pada abad ini. bahkan, mereka melakukan simulasi dari manajemen konflik yang justru.. terlihat aneh kurang pas.

Ospek semasa pandemi ini memang menjadi kendala tersendiri bagi para panitia ospek. Namun, itu tak menjadi alasan untuk mengenyampingkan aspek moral kepada para mahasiswa baru. Ujung-ujungnya, ada baiknya kita menyikapi video ospek virtual maba Unesa yang tersebar itu sebagai bahan hiburan saja agar tak terlalu overthinking—akhirnya lahir lah artikel ini. Dan tentu, para pelaku (terutama para panitia ospek) yang ada di video sudah tau dan (mungkin) sadar alasan mengapa mereka begitu ramai dibahas.

Daripada meminta para maba menunjukkan ikat pinggang, mending minta mereka untuk menunjukkan nasionalisme masing-masing. Hayolo~

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.