Opini Adalah Kaki dari Sebuah Tindakan

Opini Adalah Kaki dari Sebuah Tindakan

Opini hanya sebuah ketidaksengajaan atau bisa dikatakan spontanitas.

Penulis @zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

Menjadi pintar tidak hanya didapat dari seberapa sering kita membaca banyak hal, bisa juga dengan memperbanyak nonton film-film yang mengedukasi, mendengar, atau melihat dari orang-orang di sekitar yang memang berkompeten di bidang tersendiri.

Namun yang sedang ingin saya singgung sekarang adalah tentang membaca. Menurut saya, dengan membaca tulisan opini seseorang, kita semua bisa jadi macan. Iya, macan.

Opini—seperti yang kita tahu—memiliki arti sebagai pendapat; hasil pemikiran seseorang mengenai satu atau banyak hal. Opini sendiri, cenderung dijadikan bahan ketersinggungan oleh masyarakat awam—yang membaca sesuatu langsung dicerna oleh perasaan, bukan lebih dulu ditelan dan dikunyah sedemikian rupa oleh otaknya.

Opini keresahan lingkungan sekitar, misal. Banyak orang yang sudah pernah menjadi macan setelah membacanya, termasuk saya. Karena tidak bersependapat dan merasa disinggung oleh suatu pemikiran—yang kebetulan mengarah pada perilaku atau kepribadiannya, mereka lantas mengamuk dan meraung-raung gemas. Persis seperti orang kesurupan.

Padahal jika dipikir-pikir, tidak ada satu pun penulis di dunia ini yang tidak menaruh pesan di tiap karya tulisnya. Bahkan kontributor Absurditas-nya Thexandria.com seperti saya, selalu menaruh pesan meski secuil di tulisan-tulisan Absurd saya. Meskipun hal itu bertentangan dengan konsep dari rubrik Absurditas itu sendiri: tidak jelas, tidak penting, dan tidak bermakna. Karena perlu kalian ketahui, menulis tulisan yang tidak jelas itu lebih susah dibandingkan menulis tulisan lainnya. Menurut saya. Gak percaya? Coba, deh, tulis dan kirim.

Pesan dan makna dari suatu tulisan jarang sekali disematkan melalui kata-kata di tiap paragrafnya, malahan, bisa saja tidak ada sampai akhir paragrafnya. Maka dari itu kembali lagi, perlu otak untuk mencernanya; membuang yang negatif; mengirim yang positif ke dalam hati. Dan hatilah yang berperan mencari esensi dari apa yang sedang kamu baca.

Seperti orang-orang kebanyakan—dalam kasus ini, pengikut akun Instagram saya. Tidak sedikit dari mereka masih memiliki sensifitas dan sentimen yang tinggi. Karena dulunya—sebelum Thexandria.com muncul ke permukaan—saya rajin bersilat lidah di Instastory, menyinggung hal-hal yang ingin saya singgung, dan berakhir dengan perang online bersama mereka yang tak terlihat.

Mereka-mereka itu—yang sudah, atau belum meng-unfoll saya—selalu saja menjadi macan yang meraung-raung setelah cocotan saya mengudara bersama sampah-sampah liarnya. Tapi yang saya sayangkan, cocotan balik dari mereka itu cenderung keluar dari konteks pembicaraan. Ya, mau bagaimana lagi? Kan mereka sudah berubah jadi macan. Manabisa berpikir jernih. Padahal, saya membuka sesi debat, lho! Tapi boonk, xixixixi.

Baca Juga: Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Dari situlah saya mengeluarkan alter saya sebagai seorang pengamat profesional tradisional untuk terus menyinggung banyak hal, sebab, kenyataan memang lebih menyakitkan dari pengharapan. Kenyataan yang mengatakan bahwa, tetap saja kegiatan membaca orang-orang kita, masih berpusat pada keinginan semu yang mengawang-awang. Atau bisa juga dibilang: malas-malasan. Sekalinya membaca, ditelan begitu saja, padahal mereka tahu—bisa juga tidak peduli—yang mereka telan belum tentu sudah matang. Maka yang akan menangis, adalah yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Untungnya saya bercita-cita jadi manusia.

Note: tolong siapkan tisu untuk yang terhormat Rizaldi Dolly. Dia ingin jadi penulis, dan hidup dari runtuhan kata-kata. Katanya.

Ngomong-ngomong, pernah dengar nama Mark David Chapman? Pelaku pembunuhan tokoh legendaris yang diidolakan banyak orang, John Winston Lennon. Chapman mengaku sangat terinspirasi dari tokoh utama novel The Catcher In The Rye karya J.D Salinger, ketika melakukan pembunuhan tersebut. Chapman merasa dirinya adalah Holden Caulfield (tokoh utama novel di atas) dan merasa terilhami untuk membunuh John Lennon, yang adalah idolanya sendiri.

Itu adalah bukti dari gobloknya orang yang membaca langsung membawa-bawa perasaan. Tidak hanya novel, bacaan apa pun jika seseorang menerapkan formula seperti itu, tidak menutup kemungkinan seseorang itu akan terlihat menggemaskan alias mengherankan alias memuakkan alias qontil!

Jangan sampai, setelah membaca ini dan kamu tidak bersependapat dengan saya, lantas kau membunuh saya akibat kemacanan. Jangan sampai, ya? Saya belum nikah. Berminat dilamar, hm?

Sebelum berakhir, saya titip pesan deh:

Opini manusia bervariasi. Kamu tidak diwajibkan untuk mengamininya satu per satu, tapi tidak ada salahnya menjadikan pemikiran orang lain sebagai bahan evaluasi diri, kan?

Boleh sepakat boleh juga tidak. Sepakat untuk tidak sepakat, tidak ada salahnya, kan?

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.