Omong Kosong dan Firasat dalam Pemberitaan Sriwijaya Air SJ-182

Pemberitaan Sriwijaya Air SJ-182

Omong Kosong dan Firasat dalam Pemberitaan Sriwijaya Air SJ-182

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Etika dasar jurnalisme harusnya investigatif, bersikaplah adil juga kepada pihak yang kau curigai. Awas dan kritis, tapi jangan cepat memvonis.”

Goenawan Mohamad

Thexandria.com – Hari ke-sembilan di awal tahun 2021 dibuka dengan perasaan yang memilukan. Kabar mengenai kecelakaan yang menerpa Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak ramai mengisi laman utama surat kabar media cetak maupun media elektronik. Dikabarkan hingga saat ini, tim pencarian yang melibatkan Basarnas dan TNI AL masih berupaya keras untuk menemukan titik terang dari musibah tersebut—sedianya, masyarakat masih berharap ada kabar baik yang datang.

Belum kering air mata keluarga korban penumpang dan awak pesawat Sriwijaya Air SJ-182, sudah banyak lahir asumsi yang sesungguhnya sangat tidak membantu. Sejauh pengamatan mata, cukup banyak warganet yang memanfaatkan kejadian kemarin untuk ‘bersinar’ di platform masing-masing. Kelakuan warganet yang sering ‘latah’ terhadap sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan terkadang mengaburkan akal sehat. Tindakan beramai-ramai menyerbu akun sosial media para korban yang didapatkan dari peredaran daftar manifes penumpang sebenarnya masih bisa ditolerir. Namun, lahirnya akun-akun bodong atas nama korban untuk menarik atensi adalah salah satu tindakan yang nihil empati.

Hal tersebut yang melahirkan buah pikiran yang sangat mentah—postingan terakhir beberapa korban yang coba dikaitkan dengan insiden tersebut. Salah satu yang populer adalah Instagram story dari salah satu korban yang sedang pamit dengan keluarga sesaat sebelum keberangkatannya. Bukankah itu normal? Mengapa kegiatan pamit seseorang untuk menempuh perjalanan yang jauh harus dikaitkan dengan kemungkinan buruk? Terlalu sempit.

Baca Juga Rusuh di Gedung Capitol dan Olok-olok Dunia

Beberapa di antaranya memberikan analisa terkait jatuhnya pesawat yang terkesan ‘cocoklogi’ dan jauh dari keilmuan pada bidang penerbangan. Faktanya, sebagian besar investigasi terhadap sebuah insiden kecelakaan pesawat terbang yang dilakukan otoritas terkait membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahkan, terdapat seorang tokoh politik yang berapi-api meminta kepada pemerintah untuk menindak tegas maskapai yang masih mengoperasikan pesawat yang sudah berusia tua. Statemen yang dirilis secara publik itu terkesan ‘caper’ dan kemudian digempur habis oleh beberapa orang yang faham mengenai dunia aviasi: Dalam dunia aviasi tidak mengenal istilah dan konsep “pesawat tua” atau “pesawat baru”, yang ada ialah pesawat layak beroperasi atau tidak.

Cuplikan headline berita arus utama.

Menuntut kedewasaan pengguna internet yang mengedepankan filtrasi informasi pada arus yang ‘liar’ seperti kemarin sungguh pelik. Selain untuk membantu otoritas terkait untuk tidak terlalu banyak meluruskan disinformasi, hal tersebut untuk menjaga perasaan keluarga korban penumpang Sriwijaya Air SJ-182 sendiri. Pada tahap ini, dibutuhkan peran media yang menjunjung tinggi etika jurnalistik dengan mengedepankan rasa empati dalam menyajikan informasi.

Dunia Jurnalistik yang Mulai ‘Pincang’

pemberitaan media sriwijaya air sj 182
gambar ilustrasi

Tetapi kenyataan yang terlihat sungguh mengecewakan. Entah sudah tidak perduli dengan independensi atau integritas, banyak media cenderung menghadirkan informasi yang tidak relevan dengan insiden. Menampilkan pemberitaan semacam gaji pilot dan pramugari, kecelakaan pesawat lain yang pernah terjadi, firasat-firasat orang sekitar hingga ramalan terkait insiden sejatinya menjustifikasi betapa media masa kini hanya mengejar traffic.

Melihat bagaimana jurnalis dan media meliput dan mempublikasikan berita soal peristiwa kecelakaan Sriwijaya Air tersebut, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dalam laman resminya menyerukan:

1. Jurnalis dan media harus menghormati pengalaman traumatik keluarga korban Sriwijaya Air dengan tidak mengajukan pertanyaan yang bisa membuatnya lebih trauma, termasuk dengan pertanyaan “Bagaimana perasaan Anda” dan semacamnya. Jurnalis juga harus mengormati sikap keluarga korban jika tidak bersedia diwawancara atau menunjukkan sikap enggan digali informasinya. Tugas jurnalis memang mencari informasi, namun hendaknya juga memperhatikan hak narasumber untuk dihormati perasaan traumatik atau sikap enggannya. Sebagai bagian dari sikap penghormatan ini, media juga hendaknya tidak mengeskploitasi informasi, foto atau video yang bisa menimbulkan trauma lebih lanjut bagi keluarga dan publik. 

2. Jurnalis dan media hendaknya tetap memegang prinsip profesionalisme seperti diatur dalam pasal 2 Kode Etik Jurnalistik. Salah satu prinsip bekerja secara profesional adalah dengan menggunakan sumber informasi yang kredibel dan kompeten. Semangat untuk menggali informasi dari banyak sumber adalah hal yang baik untuk mencari kebenaran, namun pemilihan sumber tetap harus mempertimbangkan kredibilitas dan kompetensinya. Menggunakan sumber dari seorang “peramal” sebagai bahan berita kecelakaan seperti ini adalah tindakan yang kurang patut. 

3. Media sebaiknya lebih fokus menjalankan fungsi “informatif” dan “kontrol sosial” dan menghindari sisi yang relevansinya jauh dari peristiwa, apalagi kalau sampai mengesankan tidak menghormati pengalaman traumatik keluarga korban. Mengangkat soal gaji pilot atau awak penerbangan dan semacamnya mungkin bersifat informatif, tapi kurang tepat pada saat sekarang ini. Kecuali ada indikasi kuat dalam proses penyelidikan bahwa itu menjadi faktor signifikan dalam kecelakaan. Akan lebih bermanfaat jika jurnalis dan media fokus pada memberi update terbaru tentang peristiwa sehingga bisa membantu publik, termasuk keluarga, dalam bertindak. Jurnalis dan media juga perlu lebih mengungkap soal aspek tanggungjawab dari perusahaan dan otoritas penerbangan soal keamanan dan kalaikan pesawat, agar bencana serupa tak terulang di masa mendatang.

4. Jurnalis juga perlu tetap mengikuti protokol kesehatan dalam liputan kecelakaan Sriwijaya Air ini, dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak fisik yang aman untuk menghindari penularan Covid-19. Selain soal kesehatan, yang juga tetap harus diperhatikan adalah aspek keselamatan dalam liputan. Jurnalis yang bertugas dalam liputan pencarian korban dan puing pesawat di Kepulauan Seribu, hendaknya menggunakan alat keselamatan seperti baju pelampung.

Fenomena tersebut sungguh membingungkan dan ironisnya, jurnalisme modern bekerja demikian. Jika dibiarkan, maka hal ini akan menjadi normalisasi bagi dunia jurnalistik untuk lebih banyak melakukan pendekatan yang bersifat abstrak (firasat) ketimbang pendekatan ilmiah yang logis. Sikap oportunis juga yang membuat salah satu teori jurnalisme yang menyebutkan adanya berita (news value) salah satunya berupa kedekatan atau proximity. Pada nilai berita, kedekatan ini terbagi menjadi dua, kedekatan secara geografis dan emosional. Tentu mereka faham bahwa masyarakat Indonesia gampang untuk ‘diaduk’ dari segi emosi—di mana musibah yang menimpa Sriwijaya Air SJ-182 terdapat unsur tersebut.

Well, bagaimana bisa menjadikan berita duka sebagai komoditas untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya? In journalism, humans are still exist but no humanity.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.