Oasis Bukan Sekedar Band, Tapi Sebuah Kultur!

Oasis Bukan Sekedar Band, Tapi Sebuah Kultur!

Oasis Bukan Sekedar Band, Tapi Sebuah Kultur!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Oasis membawa musik dunia menjadi berwarna.

Thexandria.comHallo readers! Welcome to thexandria! Selamat datang di salah satu rubrik utama kami, “Kultur Pop”. Kali ini saya akan menulis tentang one of my fav band, Oasis!

Jujur, sebagai penulis artikel ini, yang dimana saya lahir pada 96? Saya tidak merasakan secara langsung era kejayaan band asal Manchester ini.

Bahkan ada beberapa teman yang bilang, kalau saya telat, Oasis sudah bukan zamanya, Oasis itu childish karna si Liam dan Noel yang kerjaanya berantem, paling cuma tau “Don’t Look Back In Anger”, sialan, yang terakhir itu penghinaan!

And here we go… Akan selalu ada pembenaran dibalik sebuah tuduhan.

Yang pertama, Kalaupun saya telat? Mereka harusnya menyadari, kalau ke-telat-an saya dikarenakan takdir Tuhan.

Baca Juga Beberapa Kondisi yang Membuat Kita Kangen Nonton Konser Pada Saat Ini

Kedua, musik Oasis mungkin memang sudah tidak relate di era sekarang, terlebih mereka telah bubar, tapi Oasis itu beyond the era! Musik mereka melampaui zaman, bahkan tidak terikat dikotomi zaman. Mereka terpisah dengan frasa umum dari pengertian ” Era musik” itu sendiri.

Sejarah Oasis dan Pencapaian-pencapaianya

Oasis adalah band rock influental asal Inggris yang dibentuk di Manchester pada tahun 1991. Awalnya Oasis menggunakan nama The Rain, Oasis dibentuk oleh Liam Gallagher (vokal), Paul Arthurs (gitar), Paul McGuigan (bass), dan Tony McCarroll (drum dan perkusi), dan Noel Gallagher (gitar dan vokal).

Oasis menandatangani kontrak pertamanya dengan label indie Creation Records dan setelah itu merilis album perdana mereka, yaitu, Definitely Maybe pada tahun 1994. Tahun berikutnya, Oasis merilis (What’s the Story) Morning Glory? bersama drummer baru Alan White.

Kemudian pada tahun 1997, Oasis merilis album ketiga mereka, Be Here Now. Walaupun di album pertama dan kedua, Oasis memiliki angka penjualan tercepat dalam sejarah Inggris, popularitas album ketiga mereka sempat menurun.

Baca Juga Benarkah Lagu Dewa 19 “Dua Sejoli” Mengisyaratkan Makna Misoginis?

Oasis dalam perjalananya kemudian kehilangan anggota Paul McGuigan dan Paul Arthurs ketika mereka dalam proses rekaman dan akan merilis Standing on the Shoulder of Giants pada tahun 2000. Dua posisi kosong tersebut kemudian digantikan oleh Gem Archer dan Andy Bell.

Oasis berhasil meraih popularitas kembali melalui album Don’t Believe the Truth pada tahun 2005.

Lalu Pada Agustus 2009, Noel Gallagher mengumumkan pengunduran dirinya dari Oasis pasca perkelahian di belakang panggung dengan Liam.

Oasis, dengan tujuh singel dan tujuh album pernah memuncaki posisi satu di tangga musik Inggris, pernah memenangkan lima belas NME Awards, sembilan Q Awards, empat MTV Europe Music Awards dan enam Brit Awards, termasuk salah satunya pada tahun 2007 untuk kontribusi luar biasa terhadap musik dan satu untuk album terbaik dalam 30 tahun terakhir berdasarkan polling pendengar BBC Radio 2.

Oasis juga pernah dinominasikan untuk tiga buah Grammy Award. Dan terhitung per tahun 2009, Oasis telah menjual sekitar 70 juta copy rekaman mereka di seluruh dunia.

Oasis juga terdaftar dalam Guinness Book of World Records pada tahun 2010 untuk “Longest Top 10 UK Chart Run By A Group” setelah berhasil memposisikan 22 single hits di top-10 chart musik Inggris.

Baca Juga Selagi Muda dan Selagi Membara; Mimpi Butuh Dana

Dan legitimasi mereka sebagai salah satu band rock terbaik sepanjang masa, adalah dengan memegang rekor dunia sebagai entitas musik tersukses antara tahun 1995 hingga 2005, menduduki selama 765 minggu di chart musik Top 75.

Musik Oasis sangat terinspirasi oleh The Beatles, bahkan, kala itu gaya potongan rambut Liam dan Noel telah mengingatkan kembali pada Lenon dkk.

Media Inggris menyebutkan bahwa Oasis sangat terobsesi dengan The Beatles.

Merepresentasikan Kesunyian Samudra dan Optimisme Secara Nyata

Saat ini, Oasis adalah salah satu band yang banyak dicintai, namun juga banyak dicemooh.

Tetapi di dunia yang serba tidak pasti ini, ketika ada konsensus di antara para jurnalis, kritikus, dan komentator budaya bahwa bila ada sesuatu yang pantas dicemooh, maka disitu juga ada sesuatu yang sangat berharga.

Dan, ya, Oasis memilikinya! Sinisme adalah patois dari status quo. Perubahan positif tidak muncul dari stereotip kritis masa kini, tetapi dari puing-puing masa lalu, dari detail kecil yang terabaikan dalam sesuatu yang begitu dekat sehingga kadang kita kehilangan nilainya: benih yang tersesat jatuh di pinggir jalan, dan diabaikan.

Seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf Walter Benjamin, di masa depan utopis akan sama seperti sekarang — hanya sedikit berbeda. Yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi sedikit dan mencoba membuatnya tumbuh.

Oaisis Band

Dan untuk itu, kita harus melihat Oasis dari awal. Selama periode dua tahun, dari perilisan single debut mereka “Supersonic” pada musim semi 1994, hingga pertunjukan Knebworth raksasa mereka di musim panas 1996, Oasis menjadi lebih penting secara budaya daripada band lain di Inggris, dengan Pengecualian yang jelas dari panutan mereka, The Beatles.

Selama periode itu, mulai dari pub, klub malam, diskotik, sekolah, taman bermain, pusat perbelanjaan, pernikahan, kantor, jalan-jalan tinggi, kawasan politik dan — mungkin yang paling menakjubkan dari semuanya — adalah lapangan sepakbola, yang semuanya bergema dengan musik sebuah band yang, untuk sesaat, memupuk suasana persatuan budaya pop yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga Tumbuh di Era ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Kukatakan Dengan Indah’, dan ‘Langit Tak Mendengar’

Oasis kala itu adalah berita koran halaman depan. Mereka membuat BBC Six O’Clock News, mendominasi oksigen-oksigen di Inggris dan secara simbolis menyegel kontrak sosial publik Inggris dengan Partai Buruh Inggris ketika Noel Gallagher difoto menjabat tangan Tony Blair di Downing Street pada musim panas 1997.

Populasi Oasis sangat langka dan mendalam.

Sebagian besar dari apa yang mereka lakukan sejak tahun 1997 dan seterusnya adalah parodi seni populer.

Semua itu tentu saja, dikarenakan lagu-lagu mereka. Bahkan, hampir semua yang perlu kita ketahui tentang Oasis terkandung di album debut mereka, yaitu, Definitely Maybe, lagu-lagu yang semuanya disusun sebelum mereka menjadi terkenal.

Menulis lagu di Manchester pada tahun 1991–3, di lingkungan di mana depresi sosial-ekonomi memunculkan budaya hedonisme radikal dan pertikaian anti-kemapanan, Noel Gallagher kala itu menyusun serangkaian lagu yang menyaring semangat zaman yang jauh lebih baik daripada, Kurt Cobain MISALNYA (no offense hehe) yang lebih sering meng-glory-kan sisi depresif.

Berbeda sekali dengan intelektualisme gothic seperti itu, lagu-lagu Noel Gallagher di Definitely Maybe menawarkan pesan penegasan dan harapan yang ditulis dalam bahasa yang sangat jernih.

Sementara era pasca-punk yang klimaks dengan grunge pada awal 1990-an telah merayakan negasi dan membuat kebajikan dari motif kematian dan kekalahan, lirik Oasis berbicara tentang hasrat sepenuh hati untuk hidup dan mengisyaratkan semacam kemenangan spektakuler.

Secara signifikan, bagi Gallagher, perbedaan antara Oasis dan band grunge seperti Nirvana secara eksplisit adalah masalah perbedaan kelas.

Ada lebih banyak kesamaan antara latar belakang ‘sampah putih’ yang diproklamirkan Kurt Cobain dan pengasuhan kelas pekerja Manchester daripada yang disadari Gallagher.

Baca Juga Reality Club-2112 Music Video; Balada Mendalam Kisah yang Tak Berakhir Indah

Seperti yang akan dikatakan Gallagher, “Cobain memiliki segalanya, dan memang sudah sengsara tentang hal itu. Dan kami memiliki segalanya, dan saya masih berpikir bahwa bangun di pagi hari adalah hal yang paling hebat, karena Anda tidak tahu di mana Anda akan berakhir di malam hari.”

Oasis lewat karyanya, tidak hanya optimis. Bahkan berhasil “Merayakan” proses kehidupan walaupun jika sedang berada di titik sulit.

Oasis adalah sebuah kemampuan luar biasa dalam mengkomunikasikan melankolisnya samudera, bahkan di saat-saat paling sunyi sekalipun.

Live Forever, Oasis!

Oasis telah menciptakan suatu era, era britpop. Dimana musik mereka mampu menaklukan dunia. Bahkan kini, “puing-puing” kejayaan itu masih membentuk sebuah kastil elegan yang tak kalah dari Buckingham Palace.

Walaupun disisi lain, sang vokalis, Liam Gallagher, mengaku sangat benci dengan label ‘Britpop’ yang disematkan media dan banyak orang ke dirinya.

Liam menganggap kalau kata ‘Britpop’ itu sangat menghina, karena dirinya ingin membuat musik yang lebih besar dari makna ‘Britpop’ yang fenomenal.

Baca Juga: Mesin Waktu di Synchronize Fest 2019: Killing Me & Club 80’s Reunion

“Saat Oasis muncul, bersama banyak band lain di era 90-an, semua orang sangat senang memberi kami label tersebut. Tapi musik kami lebih besar dari itu,” kata Liam.

“Saya sangat benci dengan kata ‘Britpop’. Musik kami bukan pop. Musik Oasis—dan mungkin The Verve, itu rock n’ roll klasik. ‘Britpop’ itu band-band yang menggemaskan seperti Pulp atau Blur, atau band kecil yang berasal dari Camden. Jadi, kata itu membuat saya tersinggung,” tegasnya.

Terakhir, saya tidak berbohong dan merasa berlebihan ketika memilih judul tulisan ini.

Silahkan chek di youtube, ada sebuah rekaman, dimana fans tim nasional Inggris menyanyikan lagu-lagu Oasis, baik di stadion, maupun di jalanan.

Oasis mampu “menghapus” friksi diantara fans-fans lokal klub Inggris yang terkenal sangat fanatik.

Bahkan ada sebuah candaan di Inggris, dimana anak-anak Inggris boleh berpindah keyakinan, boleh berganti orientasi sex tetapi haram hukumnya berbeda klub bola dengan orang tuanya.

Maybe i just wanna fly, i wanna live, i don’t wanna die!

Dengan diantarkan oleh kutipan lirik “Live Forever”-nya Oasis. Maka dengan segala kerendahan hati pula saya katakan, bahwa lagu Live Forever mereka kini tak hanya sekedar lagu. Namun kenyataan bagi sebuah band fenomenal. Mereka bukan lagi sebuah band, mereka adalah kultur!

Sumber Gambar: Google

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.