Nyinyirnya Bu Tejo yang Tak Sepenuhnya Salah

Nyinyirnya Bu Tejo yang Tak Sepenuhnya Salah

Nyinyirnya Bu Tejo yang Tak Sepenuhnya Salah

Penulis Dyas BP | Editor Adi Perdiana

“Aku ki ora fitnah, aku gur jogo-jogo wae lho (Aku tuh nggak fitnah, aku cuma jaga-jaga lho)”

Bu Tejo

Thexandria.com – Film pendek bertajuk “Tilik” mendadak hilir-mudik di timeline Twitter dua hari terakhir ini. Entah bagaimana caranya film pendek yang mengudara sejak 2018 ini baru bisa dikenal dua tahun setelahnya—Twitter always did its’ magic. Mengambil latar belakang kota Yogyakarta, film yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo ini banyak menerima lima bintang dari para penontonnya. Dalam perjalanannya, film pendek ini juga mendapatkan beberapa penghargaan bahkan di tingkat internasional.

Karakter yang paling mencuri perhatian adalah seorang Bu Tejo; seorang wanita usia sekitar 30 tahun-an yang selalu ekspresif saat berbicara. Banyak penonton yang gemesh dengan sifat Bu Tejo yang cerewet abis, bahkan ada yang mengatakan dia adalah ‘lambe turah’ dalam dunia nyata. Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja dan sangat subyektif. Setiap karya tak akan pernah lepas dari respon pro-kontra, termasuk beberapa karakter yang mengisi peran di dalamnya.

Baca Juga Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Meskipun sifat nyinyirnya selalu menyebalkan, Bu Tejo dan ibu-ibu lainnya merupakan potret representatif kondisi sebenarnya. Bukankah kita tidak asing dengan fenomena: ibu-ibu yang ketika sudah berkumpul, kemungkinan besar pasti akan berisik membicarakan apapun. Alur cerita per-gosip-an sepanjang perjalanan itu juga bentuk justifikasi bahwa gosip bisa dijadikan komoditas yang menarik perhatian.

Bu Tejo

Bu Tejo merupakan sosok central dalam cerita film pendek ini. Bisa membayangkan bagaimana jika karakter seperti Bu Tejo ditiadakan? Hampa. Pembahasan atau gosip yang dibahas di dalam bak truk tentu tidak akan se-seru yang kita saksikan. Walaupun sepanjang 30 menit film berlangsung, pembahasan utama Bu Tejo berkutat di sosok Dian. Ibarat dalam permainan sepakbola, Bu Tejo adalah seorang playmaker yang mengatur tempo permainan agar tetap berjalan dengan baik.

Namun jika ada anggapan bahwa karakter Bu Tejo adalah sosok yang tidak baik karena akan memberikan pengaruh buruk, itu sungguh brutal. Dalam dunia sineas, karakter antagonis identik dikategorikan sebagai villain (musuh). Nah, sosok Bu Tejo ini sangat tidak tepat jika disebut sebagai sosok villain dalam film pendek tersebut. Ada kategori karakter yang lebih tepat disematkan untuknya: anti-hero.

Baca Juga Rebahanisme Dalam Kaum Rebahan; Paham Baru yang Lahir Dari Manajemen Waktu maha Santuy

Sekadar for your information bagi yang belum tahu, anti-hero merupakan karakter pahlawan yang nilai dan sifat dalam dirinya jauh dari kata berwibawa layaknya Captain America. Karakter anti-hero secara fundamental selalu memiliki niat baik untuk membantu, cuma terkadang sifatnya yang ‘nyeleneh’ dan sering membuat kesal—lihatlah sosok Deadpool.

Mengenai perannya sebagai anti-hero, niat Bu Tejo untuk menjenguk Bu Lurah saja sudah sangat mulia. Dengan jiwa patriotnya, ia tetap sudi berdesak-desakan di bak truk untuk menjenguk Bu Lurah. Niat sang suami untuk maju di ajang pemilihan lurah berikutnya tak menjadi tembok penghalang rasa kemanusiaannya.

Bahkan saat truk yang ditumpangi untuk menuju rumah sakit kena tilang, Bu Tejo berada di garda terdepan melakukan protes kepada pak Polisi. Dengan nyinyir khas-nya, dia mampu menetralisir keadaan dengan makna eskplisit: peraturan yang dibuat manusia seharusnya bisa kondisional, terlebih keadaan genting yang harus mengedepankan rasa kemanusiaan.

Kembali ke perghibahan yang menjadi bahasan utama sepanjang perjalanan, Bu Tejo selalu menegaskan bahwa ia tidak menebar fitnah. Bu Tejo dalam beberapa scene kerap menunjukkan foto terkait Dian di gadget miliknya, sebagai bukti kuat kalau apa yang dikhawatirkannya sangat berdasar—meskipun ada tahap akhir yang wajib dilakukan, yaitu konfirmasi kepada yang bersangkutan agar informasinya valid.

Benar saja, apa yang dikhawatirkan oleh Bu Tejo dan ibu-ibu lainnya terjawab di akhir cerita. Kenyataannya, Dian benar menjadi apa yang disebut dengan ‘suka main gila’. Preventif dan selalu waspada adalah makna yang bisa kita petik dari nyinyirnya Bu Tejo secara garis besar. Bu Tejo memberikan sebuah pandangan baru bahwa gosip adalah kebenaran yang tertunda.

Baca Juga Mengadopsi Filosofi Kehidupan Bikini Bottom di Kehidupan Orang Dewasa

Pada akhir cerita Bu Tejo menunjukkan bahwa mulutnya tak hanya nyerocos seperti petasan saja. Sesampainya di rumah sakit, Bu Lurah malah tak bisa dijenguk dan mereka terpaksa pulang. Di sinilah Bu Tejo memberikan opsi untuk ke Pasar Beringharjo saja agar perjalanan jauh mereka tidak sia-sia. Seolah menyiratkan makna yang menyindir beberapa pihak: tak apa ‘banyak bacot’, tapi harus ada tindak nyata dan mampu memberikan solusi.

Kalau kata orang Jawa “Sing cangkeman, rung tentu omong kosong” wkwkwk.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.