Ngomongin Mantan, Mantan Lagi, Mantan Terus!

ngomongin mantan lagi terus

Ngomongin Mantan, Mantan Lagi, Mantan Terus!

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Menjalin hubungan adalah salah satu bentuk subjektifitas.

Thexandria.com – Artikel yang secara random saya tulis dengan tidak ada tendensi apapun dengan mantan-mantan kekasih saya—sebuah disclaimer. Buah pikiran ini tumbuh juga karena banyaknya video yang menarik perhatian saya di linimasa baik Instagram maupun Twitter. Video tersebut menceritakan tentang dua sejoli yang diklaim pada video tersebut telah berpacaran bertahun-tahun lamanya, namun pada akhirnya harus menelan pil pahit dengan tidak berjodoh.

Meskipun, pada akhirnya hadir klarifikasi dari pihak terkait di dalam video tersebut bahwa video tersebut tidak benar. Namun, narasi dan set-up yang disajikan dalam video tersebut sangat rapi dan cukup meyakinkan. Mulai dari video kebersamaan saat masa berpacaran, event lamaran sampai kepada pelaksanaan pernikahan yang dihadiri sang mantan.

Tetapi nampaknya video dan kisah dengan ‘genre’ seperti itu sebenarnya sudah banyak bertebaran sejak lama. Bahkan perkara tersebut sejak dahulu sudah dikemas dalam bentuk lagu. Contohnya saja tembang “Isabella” yang melegenda sejak disuarkan oleh penyanyi kondang melayu asal Malaysia, Amy Search. Fenomena yang tak lekang dimakan zaman itu yang menyebabkan lagu itu akan tetap relevan hingga masa kini dan kelak. Pada akhirnya lagu tersebut kemudian diproduksi kembali oleh band melayu ternama dalam negeri, ST 12.

Menjalin hubungan adalah salah satu bentuk subjektifitas. Menyatukan dua kepala dengan kerumitan masing-masing dan dinamika yang beragam barang tentu akan menghasilkan konflik di dalamnya. Perbedaan prinsip, orientasi, frekuensi obrolan hingga kepercayaan akan selalu menjadi akar dari kandasnya sebuah hubungan—tepuk tangan penonton untuk mereka yang sampai saat ini masih mampu bertahan. Modern problem need a modern solution too, jangan sok-sok-an coba mengangkat kisah karangan William Shakespeare (Romeo-Juliet) ke dalam masalah hubungan kalian. Be a smart lover!

Di sini, beban berat tidak berhenti sampai tahap putusnya sebuah hubungan saja. Ada sebuah masa sulit setelah kandasnya hubungan yang menuntut sebagian kita untuk survive dalam ‘kebiasaan baru’, yang pasti hari-hari tanpa dia. [hilih]

Beberapa orang mampu untuk move on, beberapa lainnya tidak, sedangkan sisanya memilih shampo lain untuk jomblo terlebih dahulu. Hal itu sangat amat bisa dimaklumi, karena rasa maupun kenangan yang memang tak mudah untuk begitu saja pudar. Satu pepatah lama yang mungkin bisa dijadikan pedoman dalam melewati masa ini adalah “ala bisa karena biasa”.

‘Hantam’ Kepalamu dengan Realita

Ketika China sudah berhasil membuat duplikasi matahari dengan rancangan reaktor fusi nuklir-nya, entah mengapa kita di sini masih saja tersiksa oleh asmara. Logika sudah berkata dengan sangat jelas, cinta yang baik akan membuatmu diperlakukan dengan baik. Belum lagi dijustifikasi oleh wejangan ‘lama’ orang tua bahwa wanita baik-baik pasti untuk pria yang baik-baik.

Terpenting dalam hidup adalah kita harus berpikir rasional dan berpandangan realistis terhadap kondisi sebenarnya, apapun itu. Melihat kenyataan bahwa dia bukanlah ‘milik’-mu (lagi) juga sangat amat penting. Dia bukanlah dia yang dulunya memberimu perhatian hampir seharian, dia bukanlah lagi orang yang mampu kamu ajak bersusah-senang bersama. Dianjurkan pula saat menerima kenyataan tersebut tetap dalam takaran yang wajar dan tidak ekstrem. Menjadikan sang mantan sebagai objek yang paling kamu benci di dunia bukan sebuah hal yang baik—kecuali jika mantanmu berbuat hal kriminil terhadap kamu maupun orang terdekatmu.

gambar ilustrasi

Kondisi berikutnya yang cukup dilematis adalah saat salah satu atau kedua dari kalian telah memiliki pasangan baru masing-masing—ingin menjaga hubungan baik atau memutus hubungan untuk menjaga perasaan pasangan. Akar yang muncul pertama kali adalah rasa penasaran. Perasaan-perasaan macam ini, ditambah ketakutan akan ditinggalkan pacar, bisa mengarahkan seseorang pada sikap obsesif, demikian diutarakan oleh Suzanne Lachmann, psikolog klinis dari New York dalam Psychology Today. Lebih lanjut ia menyampaikan, ada kemungkinan munculnya sikap kompetitif atau membanding-bandingkan diri dengan mantan sang pacar dalam diri.

Baca Juga A World of Sameness: Persaingan Merk yang Mirip Hingga Minimarket yang Bersebelahan

Kita dengan mantan kekasih sejatinya diharapkan tetap menjaga dan memiliki value sebagai makhluk sosial dengan kata lain adalah menjadi ‘profesional’. Khususnya dalam hal ini adalah beberapa urusan yang bersifat duniawi—relasi, bisnis, informasi, kebutuhan biologis hingga beberapa keadaan darurat yang membutuhkan bantuannya.

Nah, momen seperti itulah yang kadang membuat kita sukar untuk melihat batas yang seharusnya ‘ditaati’. Rekonsiliasi layaknya dua blok politik yang berbeda jalur adalah jalan yang baik agar dapat menentukan boundary (batasan). Romantisasi masa lalu terkadang juga terlintas di kepala bagi generasi overthinking. Ingat, men-sinergikan kedamaian kepada kenangan-kesalahan di masa lalu adalah koentji.

Tak apa, kita semua pasti pernah menjadi ‘tolol’ karena seseorang.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.