Nasihat Sontoloyo untuk Ahok agar Tak Lagi Gaduh

Mardigu Wowiek Nasihati Ahok

Nasihat Sontoloyo untuk Ahok agar Tak Lagi Gaduh

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Ahok, Kadrun, dan Nasihat Mardigu

Thexandria.com – Beberapa waktu lalu Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali membuat kontroversi. Hal itu terjadi pasca video yang berisi kritikannya terhadap persoalan yang ada di perseroan tersebut viral di media sosial.

Pak Ahok buka suara tentang sederet persoalan yang ada di institusinya dan hal itu cukup membuatnya kembali menjadi perbincangan publik. Ia membongkar sederet persoalan di Pertamina melalui video yang diunggah di kanal YouTube bernama POIN.

Pada awal video Ahok mengungkapkan gagasannya bahwa “harusnya Kementerian BUMN itu dibubarkan sebetulnya. Kita harus membangun Indonesia Incorporation, semacam Temasek (super holding BUMN Singapura)” tuturnya.

Baca Juga Menyibak Kabut Misteri pada Kasus “Orang Gila” Tusuk Pemuka Agama

Bagaimana mungkin tak jadi kontroversi? kan Pak Ahok ini merupakan orang yang dipercayai oleh Menteri BUMN dan Presiden untuk bersih-bersih Pertamina? Lha ini kok malah sampai kementerian BUMN mau dibersihin.

Masih berlanjut Ahok lantang membongkar persoalan lainnya mulai dari direksi yang sering lobi-lobi bahkan direksi yang lebih suka berutang dan mendiamkan investor.

Ia pun dengan gamblang menyebutkan pergantian posisi direksi di perseroan bisa terjadi karena adanya lobi-lobi. Bahkan, dia menyebut lobi-lobi itu langsung dilakukan ke menteri, tanpa ia diberi tahu kendati sebagai Komisaris Utama. Selain direksi, komisaris pun rata-rata titipan dari kementerian-kementerian terkait.

“Ganti direktur bisa tanpa kasih tahu saya. Saya sempat marah-marah juga. Direksi-direksi semua mainnya lobi ke menteri, karena yang menentukan itu menteri,” ujarnya.

Ahok tak segan-segan mengutarakan kritiknya terhadap persero, rumahnya sendiri, tempat ia menjabat komisaris utama. Ia juga menyebut gaji mantan pejabat di anak perusahaan masih tetap sama, bahkan ketika orang itu sudah tidak lagi di posisi pimpinan.

“Masa dicopot gaji masi sama. Alasannya karena orang lama. Ya harusnya gaji mengikuti jabatan Anda kan. Tapi mereka bikin gaji pokok gede semua. Jadi bayangin gaji sekian tahun gaji pokok bisa Rp75 juta. Dicopot, gak ada kerjaan pun dibayar segitu. Gila aja nih,” papar Ahok.

Tak cukup sampai disitu, masih dalam video yang sama, Ahok menyebut jika dirinya menjadi Direktur Utama Pertamina, akan ada masyarakat yang tidak senang dan rusuh. Dia mengistilahkan mereka sebagai kadrun.

“Persoalannya kalau saya jadi dirut, ribut. Kadrun-kadrun mau demo, mau bikin gaduh lagi republik ini,” ucapnya.

Dan ini merupakan yang paling memancing kontroversi dari seluruh penjelasan Ahok. Sebab kita ketahui, kata kadrun sering diasumsikan singkatan dari kadal gurun. Sedangkan tentang pengertian dan maksud dari kata “Kadrun” hingga kini masih simpang siur, dan mengandung beberapa versi yang berbeda.

Akhirnya pernyataan Ahok yang juga menyebut kata kadrun tersebut menarik perhatian banyak pihak termasuk salah satunya Politikus Gerindra Fadli Zon. Melalui akun Twitter miliknya ia mengkritik secara singkat ucapan Ahok tersebut.

“Cara komunikasi seperti ini selain rasis juga memecah belah, atau mungkin memang sengaja?” tulis Fadli.

Nasihat Mardigu Kepada Ahok

Pengusaha Mardigu Wowiek alias Bossman Sontoloyo memberikan nasihat yang halus kepada Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disebut Ahok. Pasca viralnya video mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut yang mengkritik kebobrokan di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khususnya Pertamina.

Mardigu yang aktif membuat konten berupa tata cara bernegara itu mengaku suka dengan gagasan dan karakter Ahok. Akan tetapi, Mardigu menegaskan bahwa Ahok semestinya menerapkan cara komunikasi yang lebih elegan karena dia termasuk tokoh yang menjadi pusat perhatian publik.

View this post on Instagram

Kepada temanku ahok, saya ingin menyampaikan pesan. Ada hal yang beda ketika pejabat publik bicara dengan masyarakat umum bicara. Pilih pilih kata ya. Saya secara pribadi selaku teman, ide anda, cara berfikir anda, bahkan tindakan anda saya suka, namun dalam komunikasi publik mungkin kita berdua ada samanya yang harus kita perbaiki namun saya bukan pejabat publik. Kita sering meledak ledak dan mengunakan gaya bahasa khas daerah kita, saya dari jawa timur yang biasa ancuk ancuk, diamput diamput tapi itu bukan makian penghinaan, itu memang bahasa pergaulan menunjukan kekesalan pakai penekanan ben ketok dalem marahnya. Anda dari belitung, dimana anda sendiri sering mengatakan, saya ini triple minoritas, sudah keturuan china, orang daerah belitung, kristen lagi. Dan anda katakan sambil bergurau, itu khas pak ahok. Bahkan sewaktu mengatakan “kalau saya jadi dirut pertamina kadrun bisa demo”, itu saya anggap candaan namun sebagai pejabat publik, itu bisa di terima sebagai “serangan” terhadap komunitas keturunan arab. Kadrun yang aslinya adalah ledekan ciptaan dari para buzzerp berarti kadal gurun memang menyasar keturunan arab, dan orang indonesia yang memilih budaya kearab araban. Sik sebentar, keduanya ini masalah SARA. Sara adalah suku, agama, ras, dan antar golongan. Ini adalah hal yang sangat sensitif di lontarkan selain body shaming atau mengina karena “bentuk tubuh, warna kulit, dan sebagainya”. Semua itu menimbulkan rasa kebencian, semua itu menimbulkan “personal anger”. Semua ini harus di selesaikan, berharap pada pemerintah? Saya kok masih pesisimis karena selama ada buzzerp yaitu sekolompok orang yang di bayar negara untuk mempropagandakan sesuatu dan menyerang oposisi atau apapun yang dianggap berlawanan dengan pemerintah di media sosisal dan media mainstream, sulit kebencian hilang dari masing masing kelompok. Namun kalau saya boleh buka, ya saya buka buka an, demi bangsa ini bersatu, dan bangsa ini damai. Asal masalahnya sederhana, ini semua adalah karena MINORITY SYNDROME, sindrom kaum minoritas. Sabar, jangan kesel dulu. Baru di buka dikit sudah lompat pikiranya berasumsi negatif, sudah bete, sing sabar. Fakta memang begitu, pahit, sepet,

A post shared by Bossman Mardigu (@mardiguwp) on

“Kepada temanku Ahok, saya ingin menyampaikan pesan. Ada hal yang beda ketika pejabat publik bicara dengan masyarakat umum bicara. Pilih-pilih kata. Saya secara pribadi selaku teman, ide Anda, cara berpikir Anda, bahkan tindakan Anda saya suka, namun dalam komunikasi publik mungkin kita berdua ada samanya yang harus kita perbaiki, namun saya bukan pejabat publik,” dikutip dari akun Instagram Mardigu.

Jika memang Ahok mengetahui ada oknum tersebut dalam jajaran direksi maupun komisaris Pertamina alangkah baiknya jika ia melaksanakan tugasnya dengan senyap. Tak perlu melempar statement yang kontroversial, karena hal tersebut membuat Ahok sendiri akan diserang oleh lawan politiknya.

Alangkah baiknya untuk lebih lembut dalam bertutur kata mengingat anjuran peribahasa bijak “mulutmu harimaumu”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.