Narasi Pemimpin Negeri dan Pepatah “Leiden is lijden”

Narasi Pemimpin Negeri dan Pepatah Leiden is Lijden

Narasi Pemimpin Negeri dan Pepatah “Leiden is lijden”

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Leiden is Lijden adalah pepatah kuno dari Belanda. Sebuah ungkapan yang sungguh sarat akan makna.

Thexandria.com – Langit biru hari ini mendadak kelabu dengan awan gelap menutupi sinar sang surya. Angin kencang bertiup melewati celah di kaca jendela yang sedikit terbuka lebar. Sebuah dorongan meminta dikeluarkan dari dalam perut yang tiba-tiba muncul ketika sedang asyik membunuh waktu di perenungan. Keringat dingin menetes menahannya, bukanlah mengapa tak disegerakan ke kamar mandi, sebab gejolak dalam kepala dirasa lebih merisaukan.

Si anak muda dalam perenungan, entah mengapa engkau pikirkan. Perihal pemimpin atau memimpin mengapa harus dekat dengan derita pasti ada sebabnya. Buku-buku berkata memimpin adalah pengorbanan bukan permintaan, memimpin adalah amanah bukan hadiah, dan memimpin adalah mensejahterakan bukan menyengsarakan.

Dalam bahasa Belanda “Leiden” berarti memimpin, sedangkan “Lijden” berarti menderita. Memadukan keduanya maka tercipta “Leiden is Lijden” yang berarti “memimpin adalah menderita”.  Dimana kemudian dikenal sebagai pepatah yang menegaskan bahwa kesiapan para pemimpin untuk rela menderita demi rakyat yang dipimpinnya adalah sebuah keharusan.

Baca Juga Dunia dalam Postmodernisme

Si anak muda dalam perenungan, teringat “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita” tulisan Mohammad Roem dalam (Prisma No 8, Agustus 1977). Karangan yang menceritakan kisah keteladanan Agus Salim sebagai salah satu tokoh perjuangan nasional, sebagai diplomat ulung yang disegani, namun hidup dalam kesederhanaan dan sangat terbatas dari segi materi kehidupannya.

Si anak muda dalam perenungan, mengira dasar memimpin dengan “Leiden is Lijden” adalah ideal namun penuh keniscayaan. Karena ia berada di zaman edan nan berbahaya, suatu zaman dimana “memimpin adalah sejahtera”, pemimpin adalah barang seksi sama halnya dengan harta dan wanita. Maka keharusan tersebut tak ayal adalah kerisuan, apalagi yang menjunjung tinggi memimpin sebagai jalan kemakmuran pribadi—“memimpin adalah sejahtera”. Aku sejahtera maka perduli apa buat mereka.

Di negeri si anak muda yang masih dalam perenungan, ia memacu isi kepalanya. Semakin berpikir semakin risau dirinya. Tak heran di zamannya kini tak lagi menemu pemimpin yang rela menderita demi rakyat yang dipimpinnya.

Si anak muda menangis malu-malu, air mata bergulir di pipinya. Sekian tahun berlalu sejak zaman perjuangan hingga merdeka, prinsip-prinsip yang ditanam para pemimpin masa lalu telah sirna dimakan zaman. Pemimpin hari ini hidup dengan kemewahan, dengan harta yang berlimpah, dengan kesejahteraan. Untuk dirinya, dan golongannya.

Mata Menangis
Gambar Ilustrasi

Tapi kini, apakah kita merasa diperjuangkan? Kata hati si anak muda bertanya.

Di tangan pemimpin yang hidupnya serba bahagia. Ia tak lagi percaya, jangankan mengungguli capaian kegemilangan masa lalu, bahkan sekedar mempertahankannya saja serasa tak bisa.

Si anak muda dalam perenungan menalar sederhana, membandingkan pengorbanan pemimpin masa kini untuk negerinya hari ini. Mempertanyakan prestasi apa yang telah ditorehkan bagi negeri, hati si anak muda ingin menampikkan kata hampir tidak ada.

Sumber daya alam melimpah di negeri, namun mengapa yang terjadi adalah kebangkrutan banyak korupsi.

Rakyat kaum pekerja menjadi roda-roda gerigi jalannya negeri, namun mengapa pemimpin mengkebiri hak-hak seakan tak punya nurani. Oh… si anak muda dalam perenungan bergetar hatinya.

Baiklah, ucapnya berusaha berdamai dengan keadaan, mungkin memang sudah bukan zamannya. Pemimpin hari ini mungkin tak perlu lagi hidup layaknya Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, M Nasir, Mr Syarifuddin, dan pemimpin besar pendahulu lainnya.

Namun apa yang pernah dialami oleh pemimpin masa lalu hendaknya bisa menjadi cerminan bagi pemimpin hari ini. Leiden is Lijden seharusnya bisa menjadi pengingat jika sewaktu-waktu pemimpin hari ini dituntut untuk mengorbankan sedikit waktu, pikiran, tenaga, bahkan ketamakannya demi melaksanakan tugasnya. “Apa gunanya segala kemudahan yang telah diberikan pada mereka?” tanya si anak muda.

“Semoga! Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku”. Petikan pidato pembelaan Bung Hatta dalam “Indonesia Vrij” pada 22 Maret 1928 di mahkamah pengadilan di Den Haag, Belanda. Di pengadilan inilah diputuskan bahwa Kerajaan Belanda mengganti kata Hindia Belanda menjadi Indonesia.

Leiden is Lijden adalah pepatah kuno dari Belanda. Sebuah ungkapan yang sungguh sarat akan makna.

Si anak muda dalam perenungan mengingat pesan kakeknya yang telah tiada, “cucuk kesayangku, pelajarilah masa lalu agar bisa menghadapi masa depan. Suatu hari nanti jika kau jadi pemimpin, ingatlah agar tak terperdaya kuasa, persis seperti bapakmu. Jangan kau ulangi kesalahannya yang memimpin tanpa proses dialektika, menjadi tamak akan kuasa, apalagi balas dendam dan balas jasa golongannya”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.