Nanti Menanti, Penantian Tak Berhenti

Nanti Menanti, Penantian Tak Berhenti

Nanti yang menentu kapan ialah menanti.

By Melia Sari

MEMBISU

Riuh kendaraan itu menyisakan memori

Jagat raya memohon untuk mengakhiri

Mata yang bening itu telah terbanjiri

Mata dan pikiran tak lagi mencari

Tetapi tetap saja ruang ini telah tercemari

Tak seberkas pun terang menyinari

Raut wajah itu tak lagi berseri

Daun gugur sudah tak ingin mencampuri

Puan itu masih senantiasa tegak berdiri

Ingin membisu sepanjang hari

Di tengah hantaman badai yang menghampiri

Awan hitam yang bertugas mengitari

Menanti tubuh Tuan yang telah lama berlari

Memimpikan hati yang mengingkari

Ah, kau pencuri!

Runyam sekali jika hanya separuh hayat yang terpatri

Pada akhirnya, pilu terus-menerus menampari

Di hadapan Puan, nelangsa menari-nari

Ah, gara-gara Tuan yang menaburkan duri

Melia Sari
Oktober 2019

SINGGAH

Kau singgah di penginapan yang lusuh itu

Meredam semua keluh kesah yang kau pikul

Membisu di tengah keheningan yang membatu

Ssttt, semesta naik pitam melihat kau sesak

Mereka padat akan ocehan

Kau tak perlu mengindahkannya dengan khidmat

Cukup luluhlantakkan igauannya dengan syair

Melia Sari
Juli 2019

Baca Juga: Perempuanku Tidak Bersalah

ANGAN

Harapku terhempas bersama rintik

Kau diam membisu melihatku menitik

Suara lirihku meraihmu dengan membisik

Hanya rasa sungkanmu yang tergelitik

Mujur menyembah pada kebisuan

Renjanaku mengabdi pada keabadian

Tabiatmu mendambakan kebekuan

Kesenjangan menghembuskan amukan

Melia Sari
Juni 2019

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.