Mosi Tidak Percaya

Mosi Tidak Percaya

Mosi Tidak Percaya

Penulis Mangir Titiantoro

Mosi (yang mungkin) tak akan pernah percaya.

Samarinda, 30 September 2019. Aliansi Kaltim Bersatu melakukan aksi untuk yang ketiga kalinya. Namun, kali ini tidak sebanyak aksi yang sebelumnya. Karena beberapa mahasiswa mengalami cedera pada saat melakukan demonstrasi. Akan tetapi hal ini tidak membuat para mahasiswa mengurungkan niat untuk turun ke jalan, karena mereka ditemani oleh para kaum pelajar yang juga ikut turun.

Tujuan mereka tetap sama yaitu melakukan 7 desakan terhadap Pemerintah dan DPR. Apa saja isi 7 desakan itu? Desakan yang Pertama, menolak RKUHP, RUU Pertambangan Minerba, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan.

Dimana ada tiga desakan RUU yang diinginkan mereka yaitu, yang pertama, pembatalan UU KPK dan UU SDA. Kedua, mendesak disahkannya RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seks). Dan ketiga, perlindungan pekerja rumah tangga.

Desakan kedua, batalkan pimpinan KPK bermasalah pilihan DPR. Desakan ketiga, tolak TNI dan POLRI menempati jabatan sipil. Desakan keempat, stop militerisme di Papua dan daerah lain, bebaskan tahanan politik Papua. Desakan kelima, hentikan kriminalisasi aktivis.

Desakan keenam, hentikan pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera yang dilakukan oleh korporasi, dan pidanakan korporasi pembakar hutan, serta cabut izinnya. Dan yang ketujuh, tuntaskan pelanggaran HAM dan adili penjahat HAM; termasuk yang duduk di lingkaran kekuasaan; dan pulihkan hak-hak korban.

Aliansi Kaltim Bersatu. (Mangir Titiantoro).
Aliansi Kaltim Bersatu. (Mangir Titiantoro).

Massa yang sudah datang disambut Polisi dan tidak lupa dengan kawat duri yang sudah terpasang didepan barisan. Akan tetapi ada yang berbeda saat aparat keamanan saat melaksanakan tugasnya. Perbedaan itu ialah adanya lantunan sholawat, dalam menyambut massa.

Polisi menggunakan peci dan jilbab, diiringi dengan sholawat. (Mangir Titiantoro).
Polisi menggunakan peci dan jilbab, diiringi dengan sholawat. (Mangir Titiantoro).

Para mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Kaltim Bersatu, satu persatu dari perguruan tinggi melakukan orasinya untuk menambah semangat para teman-teman yang ikut aksi, menyampaikan aspirasi, mengkritik kinerja anggota dewan serta menuntut hak-hak mereka.

Orasi Mahasiswa di depan gedung DPRD Kaltim. (Mangir Titiantoro).
Orasi Mahasiswa di depan gedung DPRD Kaltim. (Mangir Titiantoro).

Para mahasiswa juga menuntut agar para anggota dewan untuk keluar dari gedung, agar aspirasi, dan tuntutan mereka didengar secara langsung. Berselang beberapa menit kemudian, keluarlah anggota dewan yang mau menemui para mahasiswa untuk berdialog.

Para anggota dewan menggunakan pengeras suara dan mempersilahkan para mahasiswa mengirimkan perwakilan mereka untuk berdialog dengan anggota dewan.

Namun hal itu ditolak oleh para mahasiswa, karena mereka ingin satu mahasiswa masuk ke gedung DPRD berarti semua mahasiswa pun ikut masuk. Hal ini yang tidak bisa dipenuhi oleh para anggota dewan, maupun anggota kepolisian, karena disinyalir adanya penyusup ataupun provokator setelah masuk ke dalam gedung DPRD.

Sehingga para anggota dewan dua orang datang langsung menemui perwakilan mahasiswa Kaltim. Mereka berdua menemui para mahasiswa dan naik keatas bak mobil yang digunakan oleh para mahasiswa untuk berorasi. Setelah naik keatas para anggota dewan tidak diberi kesempatan oleh koordinator untuk berbicara langsung didepan mahasiswa.

Dua anggota dewan yang mendatangi massa. (Mangir Titiantoro).
Dua anggota dewan yang mendatangi massa. (Mangir Titiantoro).

Kedua anggota dewan yang telah mendatangi massa, tidak diberi kesempatan untuk berbicara akhirnya pun turun dari atas mobil dan kembali masuk ke dalam.

Hal tersebut sebenarnya tidak ingin dilakukan oleh kedua anggota dewan, namun karena mereka tidak diberi kesempatan untuk bicara akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali. Karena tujuan mereka adalah mengajak para mahasiswa atau massa untuk berdialog dan mendengarkan aspirasi mereka dan tuntutan mereka.

Sehingga setelah kedua anggota dewan tersebut kembali, yang terjadi adalah perang orasi antara mahasiswa dengan anggota dewan. Yang dimana anggota dewan menyampaikan orasinya yang berisi mengajak perwakilan mahasiswa untuk masuk kedalam gedung DPRD dan berdialog.

Salah satu anggota dewan berorasi mengajak perwakilan mahasiswa untuk berdialog. (Mangir Titiantoro).
Salah satu anggota dewan berorasi mengajak perwakilan mahasiswa untuk berdialog. (Mangir Titiantoro).

Para anggota dewan sebenarnya telah merespon apa yang menjadi keresahan massa, namun para mahasiswa enggan untuk mengirimkan perwakilan mereka untuk berdialog dengan anggota dewan. Dari ajakan untuk berdialog hingga salah satu anggota dewan menyanyikan lagu mars mahasiswa. Dengan tujuan para mahasiswa mau mengirimkan perwakilan mereka, karena anggota dewan sangat merespon jelas.

Baca Juga: Jusuf Kalla Purna Tugas di Pidato ke 601

Hingga pada pukul 16:24 WITA Aliansi Kaltim Bersatu mendekatkan mobil yang mengangkut speaker ke barisan aparat keamanan untuk menyatakan sikap “Mosi Tidak Percaya” dan membacakan tuntutan mereka yang berisi “Pertama kami menegaskan bahwa hari ini gerakan yang kami bangun merupakan gerakan atas dasar keresahan rakyat tertindas, bahwa terjadi krisis demokrasi oleh rezim hari ini dan ini bukan gerakan yang ditunggangi. Tapi ini adalah gerakan yang dibangun oleh rakyat tertindas.

Kemudian selanjutnya kita menyatakan kita memiliki tujuan yaitu menduduki kantor DPRD KALTIM tapi tidak perlu ada perwakilan karena kita satu, seluruh aliansi yang ada saat ini harus masuk semua.

Kemudian kita juga menegaskan Mosi Tidak Percaya, ketika kita mengatakan Mosi Tidak Percaya maka tidak ada titik kompromi, tidak ada titik mediasi, maka tidak ada titik audiensi karena kita tidak percaya terhadap lembaga negara saat ini. Mereka yang membuat regulasi, aturan yang sama sekali tidak berpihak terhadap rakyat yang membuat menghangus ruang demokrasi bagi rakyat.

Ditambah lagi dengan RUU KPK dan RKUHP semuanya itu sangat membungkam ruang-ruang kebebasan rakyat. Maka dari itu ditandai kemarin ada dari kawan-kawan tidak hanya di Kaltim beberapa daerah lainnya mengalami persekusi, mengalami kriminalisasi di tiga daerah yaitu Makassar, Jakarta dan Kendari.

Ada kawan-kawan juang kita yang menyuarakan suara kebenaran mereka sangat takut ketika kita menyuarakan kebenaran justru mereka mengeluarkan segala kebohongan dan mereka adalah orang-orang berdosa kawan-kawan.

Kita juga sependerita kepada kawan-kawan karena kawan-kawan yang gugur dalam menyuarakan kebenaran itu adalah simbol perjuangan kita, mereka adalah magnet dalam perjuangan saat ini.

Oleh karena itu maka kami memiliki tuntutan yang sudah dirumuskan, yang sudah kami bedah, yang sudah kamu lakukan secara ilmiah. Yang pertama, kami Aliansi Kaltim Bersatu menuntut mendesak Presiden untuk secepatnya mengeluarkan Perpu terkait UU KPK secepatnya. Yang kedua, tolak UU yang melemahkan demokrasi.

Yang ketiga, tolak TNI dan POLRI yang menetap jabatan-jabatan sipil. Yang keempat, bebaskan aktivis prodemokrasi. Yang kelima, hentikan kriminalisasi ditanah Papua yang dilakukan oleh militer tetapi negara tidak pernah menjawab soal hal itu.

Selanjutnya keenam, tuntaskan penjahat HAM dan adili termasuk yang duduk di kekuasan Presiden Jokowi hari ini, antara lain ada Prabowo, Wiranto, Hendripriono mereka adalah orang-orang dibalik penjahat HAM pada masa lalu yang hari ini eksis di ruang-ruang publik.

Yang ketujuh, hentikan represilitas Polri, TNI, dan ormas terhadap gerakan rakyat. Kawan-kawan tahu, bahwa saja tadi pagi kawan-kawan kita sebanyak 27 orang ditangkap oleh Polisi dan TNI dan diantaranya ada pelajar mereka langsung diangkut dibawa ke Kapolres Samarinda, padahal kita sudah dijamin dalam undang-undang demokrasi dalam berekspresi dan kebebasan dalam menyampaikan aspirasi. Kemudian yang kedelapan, tangkap, adili, penjarakan dan cabut semua izin korporasi terkait kebakaran hutan.

Demikian pembacaan tuntutan kami. Dan juga kami menyampaikan bahwa Aliansi Kaltim Bersatu adalah aliansi yang murni. Walaupun kemarin ada aliansi yang terlibat dan kemudian keluar lagi. Dan kita Aliansi Kaltim Bersatu akan tetap berkomitmen sesuai dengan tujuan kita tanpa di tunggangi oleh siapapun kawan-kawan.

Karena semua ini adalah kita kembali terhadap amanat penderitaan rakyat, dan kita kembali terhadap kekuatan rakyat. Rakyat adalah Raja bukan DPR, bukan Presiden. Tapi rakyat adalah penguasa, rakyat adalah Raja kawan-kawan. Sekian isian sikap politik yang kami sampaikan dari Aliansi Kaltim Bersatu”.

Itulah isi dari sikap Aliansi Kaltim Bersatu. Dan diakhiri dengan jargon hidup mahasiswa.

Share Artikel:

One thought on “Mosi Tidak Percaya

Leave a Reply

Your email address will not be published.