Moge dan Stigma Arogansi

Arogansi Moge

Moge dan Stigma Arogansi

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Brrmmmm… Brrmmm…

Thexandria.com – Tebak, suara apakah itu? Hah? Apa? Mobil? Bukan, bukan, kamu salah. Itu suara moge, alias, motor gede.

Intro yang buruk. Cringe.

Oke, baiklah, mari kita langsung ke topik tanpa ba-bi-bu lebih banyak lagi.

Sewajarnya manusia, apalagi manusia urban di era modern, hidup seringkali tak bisa dilepaskan dari yang namanya hobi. Hobi sendiri, bisa diartikan sebagai wadah untuk melepaskan penat atau sarana memuaskan keinginan-keinginan pribadi.

Hobi pun ada banyak macamnya. Ada hobi ikan cupang, hobi burung cucakrowo, hobi ngerakit gundam, hobi ngoleksi mantan, dan lain-lain.

Tak jarang juga, hobi yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang banyak cuan. Moge, misalnya.

Moge, seringkali diafiliasikan dengan motor berjenis Harley Davidson. Walaupun sebetulnya, istilah moge sendiri, merujuk pada segala jenis motor yang memiliki cc besar dan jarang sekali digunakan untuk daily activity.

Moge adalah hobi. Hobi untuk mereka yang sanggup membeli tentunya.

Dan seringkali, mereka yang memiliki moge membentuk komunitas sebagai wadah silahturahmi, melakukan bakti sosial, dan—touring bersama!

Kita sampai ke alasan mengapa saya harus menulis tentang ini: moge-touring-dikawal patwal-arogan.

Yap, betul sekali. Belakangan ini, stigma soal arogansi pengguna moge yang touring kembali mencuat dan membuat publik geram.

Pasalnya, baru-baru ini telah terjadi aksi pengeroyokan oleh kelompok moge alias motor gede Harley Davidson terhadap dua prajurit TNI di wilayah Bukittinggi, Sumatera Barat— diawali dengan cekcok kedua belah pihak.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake, seperti dilansir dari CNN Indonesia, menjelaskan insiden bermula saat kedua prajurit yang berboncengan itu mengejar kelompok moge dari Harley Owner Group (HOG) yang sedang melakukan konvoi.

Diduga, saat kejadian kumpulan motor besar itu menghalangi jalan dua prajurit TNI tersebut.

Kedua prajurit TNI itu lantas memberhentikan kelompok moge tersebut hingga akhirnya berselisih. Kedua pihak sempat terlibat cekcok sebelum akhirnya tindak kekerasan itu terjadi.

Satake menuturkan bahwa kedua personel TNI merasa terganggu dengan kehadiran kelompok moge itu yang melakukan konvoi dengan menghalangi jalan.

Insiden pemukulan terjadi di wilayah Simpang Tarok, Kota Bukittinggi pada Jumat (30/10) sore di halaman suatu ruko, dengan disaksikan banyak warga sekitar.

Dalam rekaman video yang menjadi viral di media sosial, terlihat sekumpulan pria yang mengenakan helm dan jaket kulit nampak memukuli seseorang yang berbaju bebas berwarna merah. Dia dipukuli dan ditendang beberapa kali ketika sudah tertelungkup jatuh.

Saat ini tersangka yang telah dijerat oleh aparat kepolisian berjumlah 5 orang. Mereka adalah BS, MS, HS, TR dan JA. Mereka disangkakan Pasal 170 KUHP terkait dugaan pengeroyokan.

Melihat Konvoi Moge dari Segi Hukum

Konvoi Moge

Banyak sekali warganet yang berkomentar pedas, menuntut dibubarkan, hingga kecaman bernada satire terhadap komunitas moge. Diluar daripada kasus pengeroyokan terhadap dua anggota TNI oleh rombongan touring moge tersebut.

Rombongan moge memang nyaris selalu mendapatkan pengawalan oleh pihak Kepolisian. Hal itu juga, yang membuat warga kesal dan merasa para penunggang kode seperti memiliki privilage, hingga bertingkah seperti rajanya jalanan.

Melansir dari hukumonline.com, memang ada beberapa pengguna jalan yang dikecualikan dari keharusan berhenti ketika ada lampu merah, seperti salah satunya ada pengguna jalan yang diprioritaskan.

Jika memang menurut pertimbangan polisi konvoi moge ini merupakan kendaraan yang diprioritaskan, maka mereka boleh menerobos lampu merah. Artinya, penerobosan lampu merah tidak merupakan pelanggaran hukum.

Pada dasarnya Kepolisian Negara Republik Indonesia bertanggung jawab untuk mewujudkan dan memelihara keamanan lalu lintas dan angkutan jalan. Wujud memelihara keamanaan lalu lintas ini dilakukan antara lain dengan melakukan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan/atau patroli.

Terkait dengan konvoi, konvoi kendaraan untuk kepentingan tertentu ini termasuk pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan. Sekedar informasi, dalam undang-undang diatur soal “pengguna jalan yang diprioritaskan” atau “kendaraan bermotor yang memiliki hak utama”. Adapun yang dimaksud dengan “Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama” adalah Kendaraan Bermotor yang mendapat prioritas dan wajib didahulukan dari Pengguna Jalan lain.

Namun pertanyaannya, apakah konvoi moge merupakan kendaraan dengan kepentingan tertentu sehingga berhak memperoleh hak utama?

Pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:

a.    Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;

b.    ambulans yang mengangkut orang sakit;

c.    Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;

d.    Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;

e.    Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;

f.     iring-iringan pengantar jenazah; dan

g.    konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia

Yang dimaksud “kepentingan tertentu” dalam poin g di atas adalah kepentingan yang memerlukan penanganan segera, antara lain, Kendaraan untuk penanganan ancaman bom, Kendaraan pengangkut pasukan, Kendaraan untuk penanganan huru-hara, dan Kendaraan untuk penanganan bencana alam.

Kendaraan yang mendapat hak utama ini harus dikawal oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau menggunakan isyarat lampu merah atau biru dan bunyi sirene.

Jika kita cermati, konvoi moge memang tidak secara eksplisit dikatakan sebagai konvoi kendaraan untuk kepentingan tertentu yang memiliki hak utama. Hal ini, menurut hukumonline.com, merupakan pertimbangan penuh kepolisian yang mengawal selaku pihak yang memiliki kewenangan memelihara keamanan lalu lintas.

Menerobos lampu merah oleh kendaraan pengguna jalan yang diprioritaskan merupakan bentuk dari pengecualian pengaturan arus lalu lintas yang dikenal dengan istilah “keadaan tertentu” dalam Pasal 104 ayat (1) UU LLAJ yang berbunyi:

Dalam keadaan tertentu untuk Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat melakukan tindakan:

a.    memberhentikan arus Lalu Lintas dan/atau Pengguna Jalan;

b.    memerintahkan Pengguna Jalan untuk jalan terus;

c.    mempercepat arus Lalu Lintas;

d.    memperlambat arus Lalu Lintas; dan/atau

e.    mengalihkan arah arus Lalu Lintas.

Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” menurut penjelasan pasal ini adalah keadaan sistem Lalu Lintas tidak berfungsi untuk Kelancaran Lalu Lintas yang disebabkan, antara lain, oleh:

a.    perubahan Lalu Lintas secara tiba-tiba atau situasional;

b.    Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas tidak berfungsi;

c.    adanya Pengguna Jalan yang diprioritaskan;

d.    adanya pekerjaan jalan;

e.    adanya bencana alam; dan/atau

f.     adanya Kecelakaan Lalu Lintas

Ya, jawabannya ada poin C.

Mocil, alias motor kecil can’t relate.

Sebuah Hikmah

Kronologi pengeroyokan moge arogan terhadap 2 TNI
sumber gambar merdeka.com

Kita harus sedikit bersyukur, bahwasannya yang menjadi korban pengeroyokan adalah anggota TNI. Eits, bukan bermaksud mendukung atau mensyukuri tindakan kekerasan tersebut. Melainkan, ANDAI SAJA, yang menjadi korban pengeroyokan adalah masyarakat sipil, seperti kita-kita ini. Kasus seperti ini sangat mungkin berakhir dengan perdamaian diatas matrai.

Baca Juga Menjadi Perempuan dan Merasa Tidak Aman

Lagi pula, aksi arogansi dan premanisme yang dilakukan oleh beberapa penunggang moge tersebut, bisa menjadi momentum agar kita semua sekiranya melakukan kontemplasi dan evaluasi diri—wabil khusus anak motor yang melakukan konvoi/touring apapun jenis kendaraannya.

Hormatilah pengguna jalan yang lain, karena bukan hanya mereka yang melakukan konvoi saja yang membayar pajak. Semua mbayar kok hehe.

Dan kalau boleh sedikit memberi saran, mungkin anak motor patut mencontoh komunitas motor seperti, Prediksi. 80% yel-yel dan having fun, 20% riding. Siapa kita? Prediksi! Kita siapa? Prediksi dong! Prediksiiiiiii? Jaya! Jaya! Jaya!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.